Kebutuhan akan Wirausaha dan Dorongan Merintis Wirausaha

Posted by Budi Wahyono on Sunday, March 10, 2013

Suatu pernyataan yang bersumber dari PBB menyatakan bahwa suatu negara akan mampu membangun apabila memiliki wirausaha sebanyak 2% dari jumlah penduduknya. Jadi, jika negara Indonesia berpenduduk 200 juta jiwa, maka wirausahanya harus lebih kurang 4 juta.

Katakanlah jika dihitung semua wirausaha Indonesia mulai dari pedagang kecil sampai perusahaan besar ada sebanyak 3 juta, tentu bagian terbesarnya adalah kelompok kecil-kecil yang belum terjamin mutunya dan belum terjamin kelangsungan hidupnya (kontinuitasnya).

Wirausaha (entrepreneur) adalah seorang innovator, sebaai individu yang mempunyai naluri untuk melihat peluang-peluang, mempunyai semangat, kemampuan dan pikiran untuk menaklukan cara berpikir lamban dan malas.

Seorang wirausaha mempunyai peran untuk mencari kombinasi-kombinasi baru yang merupakan gabungan dari 5 hal, yaitu:
§   Pengenalan barang dan jasa baru
§   Metode produksi baru
§   Sumber bahan mentah baru
§   Pasar-pasar baru
§   Organisasi industri baru

Keberhasilan pembangunan yang dicapai oleh negara Jepang ternyata disponsori oleh wirausaha yang telah berjumlah 2% tingkat sedang, berwirausaha kecil sebanyak 20% dari jumlah penduduknya. Inilah kunci keberhasilan pembangunan negara Jepang (Heidjrachman Ranu P., 1982).

Jika negara kita harus menyediakan 3 juta wirausaha besar dan sedang, maka kita masih harus mencetak 30 juta wirausaha kecil. Ini adalah suatu peluang besar yang menantang generasi muda untuk berkreasi, mengadu keterampilan membina wirausaha dalam rangka turut berpartisipasi membangun negara.

Di Amerika ada budaya keinginan seseorang untuk menjadi bos sendiri, memiliki peluang individual, menjadi sukses dan menghimpun kekayaan, ini semua merupakan aspek yang utama dalam mendorong berdirinya kegiatan kewirausahaan.

Di negara lain mungkin motivasi mendirikan bisnis bukan mencari uang yang utama akan tetapi ada motif-motif lain di balik itu. Ada pula motivasi menjadi wirausaha didorong oleh lingkungan yang banyak dijumpai berbagai macam perusahaan seperti di daerah Silicon Valley (California). Lingkungan seperti ini sangat mendorong pembentukan kewirausahaan.

Di lingkungan Silicon Valley dijumpai ratusan perusahaan kebanyakan bergerak dalam bidang komputer dan elektronik yang selalu menghasilkan produk-produk baru. Mereka bersaing secara rutin, dan kondisi mereka selalu stabil, mereka tidak terorganisasi dalam alam birokrasi. Situasi organisasi semacam ini oleh para ahli diistilahkan dengan ‘adhocracy’ sebagai lawan dari birokrasi.

Ada pekerjaan spesialis, sedikit ikatan komando, tidak ada struktur organisasi yang jelas. Pengambilan keputusan besifat desentralisasi. Mereka memiliki budaya kerja tinggi, saling percaya, penuh keyakinan. Semua ini membuat pekerjaan sangat efektif.

An adhocracy is an organization in which there are few specialized jobs and little required adherence to the chain of command. Organization charts are usually avoided. Decision making is decentralized. In these firms there is usually a set of common beliefs and a sense of common purpose-a “culture”. This culture helps hold the employees together and helps ensure that the work of the firm is done effectively” (Schoell, 1993).

Dalam aspek lain keberanian membentuk kewirausahaan didorong oleh guru sekolah, sekolah yang memberikan mata pelajaran kewirausahaan yang praktis dan menarik dapat membangkitkan minat siswa untuk berwirausaha, seperti yang terjadi pada alumni MIT, Hardvard University dan beberapa perguruan tinggi lainnya.

Dorongan membentuk wirausaha juga datang dari teman sepergaulan, lingkungan keluarga, sahabat dimana mereka dapat berdiskusi tentang ide wirausaha masalah yang dihadapi dan cara-cara mengatasi masalahnya.

Sumber:
Buchari Alma. 2011. Kewirausahaan untuk Mahasiswa dan Umum. Bandung: Alfabeta.

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment