Seberapa Banyak Dana yang Dibutuhkan untuk Penelitian Pemasaran

Posted by Budi Wahyono on Sunday, April 19, 2015

Informasi pemasaran harus dibuat, disimpan, dan didistribusikan, tetapi informasi juga memiliki usia hidup yang terbatas – informasi juga dapat usang. Seperti sumber-sumber lainnya, informasi memiliki nilai dalam penggunaannya; semakin sedikit pengetahuan manajer tentang suatu permasalahan pemasaran dan semakin besar risiko  yang melekat pada suatu keputusan yang salah, maka semakin berharga nilai suatu informasi.

Hal ini menyiratkan adanya kebutuhan pengukuran manfaat –biaya dari semua sumber informasi pemasaran. Investasi yang lebih banyak dalam informasi tersebut masih cukup sebanding dengan pengembalian atas investasi yang akan didapat.

Tidak seperti biaya yang mudah sekali perhitungannya, manfaat yang akan didapat sulit sekali untuk digambarkan. Manfaat yang didapat paling baik dinyatakan dalam tambahan keuntungan yang mungkin akan didapat melalui pengamatan pada peluang pasar dan melalui penghindaran dari kegagalan pemasaran yang dapat terjadi jika tidak menggunakan informasi dengan baik.

Keputusan tentang seberapa besar biaya yang dikeluarkan untuk informasi pemasaran bukan hal yang mudah. Di satu sisi, melakukan sesuatu tanpa adanya informasi sama sekali adalah suatu tindakan yang membabi buta.
Di sisi yang lain, biaya untuk mendapatkan informasi yang sempurna selalu menjadi penghambat. Salah satu cara untuk memperkirakan berapa banyak biaya yang harus dianggarkan didasarkan pada teori kemungkinan dan nilai yang diharapkan.


Misalnya, jika dengan meluncurkan suatu produk Anda harus mengeluarkan biaya pengembangan sebesar 1 juta dolar dan Anda percaya produk tersebut memiliki 10 persen kemungkinan untuk gagal, maka maka harapan kerugian maksimumnya adalah sebesar 100.000 dolar (1 juta dolar x 0,1).

Berarti adalah wajar mendapatkan informasi yang dapat membantu Anda menghindari kerugian tersebut. Namun demikian, karena informasi sempurna jarang sekali tersedia, tidak menjadi masalah untuk menganggarkan sejumlah kecil dana untuk penelitian pemasaran yang secara efektif dapat mengurangi kemungkinan ketidakakuratan informasi. Pendekatan tersebut dapat merupakan cara yang tepat dalam mengkuantifikasi nilai dari penelitian pemasaran dari sudut pandang manajer.
More aboutSeberapa Banyak Dana yang Dibutuhkan untuk Penelitian Pemasaran

Perbedaan antara Penelitian Pasar dan Penelitian Pemasaran

Posted by Budi Wahyono

Penelitian Pasar (market research) berkaitan dengan penelitian-penelitian khusus tentang pasar. Sedangkan Penelitian Pemasaran (marketing research) berkaitan dengan penelitian ke dalam proses pemasaran.

Pembahasan di sini lebih menekankan pada penelitian pemasaran, yang telah didefinisikan oleh American Marketing Association sebagai suatu kegiatan pengumpulan, pencatatan, dan analisis tersistematis data tentang permasalahan yang berkaitan dengan pemasaran barang atau jasa.

Setiap kata dalam definisi tersebut sangat penting. Prosesnya harus sistematis, karena perlu adanya interaksi terstruktur di antara orang, mesin, dan prosedur yang didesain untuk menciptakan aliran yang rapih dari informasi-informasi yang berkaitan yang dikumpulkan dari sumber-sumber baik dalam maupun luar perusahaan untuk digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan dalam bidang tanggung jawab tertentu dari manajemen perusahaan.

Datanya sendiri (seperti gambar, angka, kata-kata, dan suara) tidak akan banyak gunanya kalau mereka tidak dikombinasikan serta diarahkan untuk menjadi suatu informasi. Tanpa adanya tujuan, yaitu untuk memecahkan suatu permasalahan pemasaran, informasi juga tidak akan banyak gunanya.

Satu dari permasalahan paling penting yang dihadapi manajemen saat ini adalah berlebihnya data dan informasi, bukannya kekurangan. Hal ini membawa kita pada definisi dari intelijen, yaitu informasi yang dapat dikonsumsi dan digunakan manajemen untuk mengubah ketidakpastian menjadi risiko.


Ketidakpastian (uncertainty) muncul ketika ada beberapa hasil yang kemungkinan kemunculannya hampir sama. Jika suatu kemungkinan dapat ditetapkan pada suatu hasil tertentu, maka sebenarnya kita berbicara tentang risiko, yang merupakan suatu ketidakpastian yang dikuantifikasi.

Seorang manajer pemasaran dapat merasakan, misalnya, bahwa suatu produk baru memiliki 90 persen kemungkinan untuk mendapatkan 30 persen pangsa pasar dalam tahun pertama. Kemampuan untuk membuat keputusan yang berhasil semakin diperkuat jika seseorang beroperasi dalam kondisi risiko ketimbang kondisi ketidakpastian.

Pengubahan dari ketidakpastian menjadi risiko dan peminimalan risiko (minization of risk) adalah bagian dari tugas menajemen pemasaran yang paling penting. Dalam proses ini peran penelitian pemasaran sangat penting.
More aboutPerbedaan antara Penelitian Pasar dan Penelitian Pemasaran

Mengapa Sapi Tidak Punah?

Posted by Budi Wahyono on Saturday, April 11, 2015

Mengapa sapi tidak punah? Melihat judul ini mungkin banyak dari anda yang bertanya-tanya, apa hubungannya sapi dengan pendidikan? Apa hubungannya sapi dengan ekonomi? Apa hubungannya sapi dengan pendidikan ekonomi?

Sebenarnya pembahasan mengapa sapi tidak punah ini merupakan salah satu bagian dari bab yang ada dalam mata kuliah pengantar ilmu ekonomi, yaitu pada bab “Barang Publik dan Sumber Daya Milik Bersama”.

Selain itu, kajian ilmu ekonomi memang sangat luas, tidak hanya sebatas pada pembahasan uang. Kita tahu bahwa arti “ekonomi” adalah “peraturan rumah tangga”. Sedangkan menurut Mankiw (2012) “economics is the study of how society manages its scarce resources”.

Sehingga apabila kita sudah paham dengan konsep dasar perekonomian tersebut, kita tidak akan heran apabila pembahasan tentang “mengapa sapi tidak punah?” masuk dalam kajian ilmu ekonomi.

Kisah ini dimulai dari banyaknya spesies hewan yang terancam punah seiring berjalannya waktu. Mankiw (2012) menceritakan:
When Europeans first arrived in North America, more than 60 million buffalo roamed the continent. Yet hunting the buffalo was so popular during the 19th century that by 1900 the animal’s population had fallen to about 400 before the government stepped in to protect the species. In some African countries today, the elephant faces a similar challenge, as poachers kill the animals for the ivory in their tusks
Kita bisa melihat bahwa spesies gajah di Afrika hampir punah karena banyak orang yang memburu gajah untuk mendapatkan gadingnya. Namun, jika dibandingkan dengan sapi, justru berbanding terbalik. Spesies sapi tetap bertahan sampai saat ini meskipun banyak orang yang mengkonsumsi dagingnya.


Bisa dikatakan semakin banyak orang yang mengkonsumsi daging sapi, justru dapat menjamin kelangsungan hidup (perkembangbiakan) sapi tersebut. Berbeda dengan gajah, semakin tinggi nilai komersial gading gajah, justru akan mengancam kelangsungan hidup (perkembangbiakan) gajah tersebut.

Lalu, perbedaan apa yang dimiliki oleh kedua spesies hewan tersebut?
Jawabannya adalah karena “that elephants are a common resource, whereas cows are a private good” (karena gajah merupakan sumber daya milik bersama, sedangkan sapi adalah barang swasta) (Mankiw, 2012).

Apa bedanya sumber daya milik bersama dengan barang swasta?? Silakan lihat pembahasan ini dalah artikel “Berbagai Jenis Barang dalam Perekonomian”.

Gajah bebas berkeliaran tanpa pemilik. Setiap pemburu gelap memiliki keinginan kuat untuk membunuh gajah sebanyak yang mereka temukan. Karena jumlah pemburu gelap banyak, setiap pemburu gelap memiliki sedikit keinginan untuk menjaga populasi gajah.

Sebaliknya, sapi hidup di peternakan yang dimiliki oleh swasta. Setiap pemilik peternakan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga populasi di peternakannya, karena ia memperoleh manfaat dari upaya tersebut.

Pemerintah di beberapa negara di Afrika telah menetapkan kebijakan untuk mengatasi masalah terancamnya gajah dengan 2 cara. Di sebagian negara seperti Kenya, Tanzania dan Uganda, pemerintah di negara tersebut menerapkan kebijakan dengan melarang membunuh gajah dan menjual gadingnya.

Namun, kebijakan tersebut tidak membawa dampak yang signifikan untuk perkembangan populasi gajah. Peraturan tersebut sulit ditegakkan, karena masih banyak pemburu gelap yang melanggarnya.

Kebijakan ke-2 diterapkan di negara seperti Botswana, Malawi, Namibia, dan Zimbabwe. Kebijakan tersebut adalah menjadikan gajah sebagai barang swasta (seperti halnya sapi) dan memperbolehkan orang membunuh gajah, tetapi hanya gajah yang ada di tanah mereka sendiri.

Kebijakan yang ke-2 inilah yang membawa dampak signifikan pada peningkatan populasi gajah di Afrika. Mankiw (2012) mengatakan “with private ownership and the profit motive now on its side, the African elephant might someday be as safe from extinction as the cow”. Apabila Indonesia ingin melindungi beberapa jenis hewan tertentu, mungkin kebijakan seperti di Botswana, Malawi, Namibia, dan Zimbabwe ini bisa diterapkan.

Referensi:
Mankiw, N. Gregory. 2012. Principles of Microeconomics: 6th Edition. South-Western Cengage Learning.
More aboutMengapa Sapi Tidak Punah?

Syarat-syarat Perencanaan (Planning)

Posted by Budi Wahyono on Friday, April 10, 2015

Suatu rencana dikatakan baik apabila dibuat berdasarkan fakta yang konkrit, dan dilakukan secara bersama-sama diantara orang-orang yang ada di dalam organisasi. Jadi bukan semata-mata didasarkan atas kemampuan pribadi perencana.

Suatu perencanaan yang dapat menghasilkan suatu rencana yang baik, apabila dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip yang meliputi 5 W dan 2 H. Yaitu pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab planner dalam proses pembuatan rencana.

Yang berarti bahwa dalam perencanaan itu harus mampu memberikan jawaban 7 pertanyaan sebagai berikut:

What
Apa yang harus dikerjakan, dalam pertanyaan ini harus memuat penjelasan dan perincian kegiatan yang dibutuhkan atau faktor-faktor produksi yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan dalam usaha mencapai tujuan yang diinginkan.

Where
Di mana pekerjaan itu harus dilaksanakan, dalam pertanyaan ini harus memuat penjelasan tentang lokasi pisik dimana setiap pekerjaan harus dikerjakan. Sehingga dengan demikian segenap alat dan fasilitas yang diperlukan dapat disediakan pada tempat yang telah ditentukan.

When
Kapan pekerjaan itu dikerjakan, dalam pertanyaan ini harus memuat jawaban mengenai dimulai dan diakhirinya suatu pekerjaan baik untuk tiap-tiap bagian maupun untuk keseluruhan. Dan bilamana perlu dikemukakan pula tentang standar waktu untuk sesuatu jenis pekerjaan.


Who
Siapa yang tepat melaksanakan pekerjaan, dalam pertanyaan ini harus memuat penjelasan tentang kualifikasi orang yang akan melaksanakan, baik mengenai pengalaman, kemampuan, pendidikan dan sebagainya.

Why
Mengapa pekerjaan itu harus dilakukan, dalam hal ini memuat penjelasan atau deskripsi mengapa pekerjaan itu harus dilakukan, dan mengapa tujuan itu harus dicapai.

How
Bagaimana cara mengerjakannya, dalam hal ini memuat penjelasan tentang teknik atau metode pelaksanaan pekerjaan.

How
Bagaimana dengan biaya yang diperlukan untuk pekerjaan itu, memuat tentang ongkos atau anggaran belanja yang diperlukan (budget), serta alokasinya ke dalam masing-masing pos anggaran.

Sumber:
Dr. Hery Sawiji, M.Pd. dalam buku “Fungsi Manajemen”
More aboutSyarat-syarat Perencanaan (Planning)

Pengertian Hasil Belajar dan Perbedaan Hasil Belajar dengan Prestasi Belajar

Posted by Budi Wahyono on Wednesday, April 8, 2015

Pengertian Hasil Belajar
Menurut Sudjana (2008: 22) “hasil belajar adalah kemampuan–kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”.

Menurut Howard Kingsley, hasil belajar dibedakan dalam 3 kelompok, yaitu (1) keterampilan dan kebiasaan; (2) pengetahuan dan pengertian serta (3) sikap dan cita-cita. (dalam Sudjana, 2008: 22).

Menurut Sardiman (2007: 51), “hasil belajar adalah hasil langsung berupa tingkah laku siswa setelah melalui proses belajar-mengajar yang sesuai dengan materi yang dipelajarinya”. Sehingga hasil belajar dapat ditafsirkan sebagai output dari proses belajar-mengajar.

Menurut Slameto (2003: 54-71), output tersebut dipengaruhi oleh faktor jasmaniah, psikologis dan kelelahan yang dikelompokkan sebagai faktor intern. Sedangkan kelompok faktor ekstern-nya meliputi faktor keluarga, sekolah dan masyarakat.

Berdasarkan pengertian tentang hasil belajar tersebut, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar tidak hanya berupa sesuatu yang dapat diukur secara kuantitatif saja melainkan juga secara kualitatif terkait dengan perubahan peserta didik dari yang belum bisa menjadi bisa, sehingga penilaiannya bisa menggunakan tes maupun non tes.

Penilaian berupa tes maupun non tes tersebut bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa ditinjau dari ranah afektif, kognitif maupun psikomotorik.


Hasil belajar dan prestasi belajar termasuk dalam kategori variabel yang sering digunakan dalam sebuah penelitian, khususnya skripsi bagi mahasiswa S-1. Banyak mahasiswa S-1 yang menggunakan variabel hasil belajar atau prestasi belajar untuk variabel terikat (dependen).

Dua istilah tersebut pun seringkali disamakan, hasil belajar adalah prestasi belajar begitupun sebaliknya. Lalu, benarkah kalau hasil belajar itu sama dengan prestasi belajar??

Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita lihat kembali pengertian dari dua istilah tersebut:
Menurut Sudjana (2008: 22) “hasil belajar adalah kemampuan–kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”.

Sedangkan untuk prestasi belajar, menurut Muhibbin Syah (2008: 91) adalah “taraf keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu”.

Berdasarkan pengertian di atas, bisa diketahui bahwa hasil belajar mempunyai cakupan makna yang lebih luas dari prestasi belajar. Prestasi belajar seringkali dinyatakan dalam bentuk skor atau nilai yang diketahui setelah dilakukan pengukuran dengan tes. Sedangkan hasil belajar tidak hanya dilihat dari nilai atau skor saja, melainkan mencakup penilaian secara kualitatif (sikap, tingkah laku, karakter, dsb).

Sehingga menurut saya, apabila ada mahasiswa yag menggunakan variabel hasil belajar, tetapi data yang diambil hanya data nilai raport (dalam bentuk angka/kuantitatif saja), saya kira belum bisa mewakili hasil belajar. Terlebih lagi apabila data yang digunakan hanya data nilai ulangan harian, jelas belum bisa mewakili, karena nilai ulangan harian bukan merupakan nilai akhir.
More aboutPengertian Hasil Belajar dan Perbedaan Hasil Belajar dengan Prestasi Belajar

Keunggulan dan Keterbatasan Bahan Ajar

Posted by Budi Wahyono on Monday, April 6, 2015

Bahan ajar merupakan perangkat mengajar yang digunakan oleh guru/dosen dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Bahan ajar memiliki beberapa keunggulan, namun juga memiliki keterbatasan.

Menurut Mulyasa (2006: 46-47), bahan ajar memiliki 3 (tiga) keunggulan, yaitu sebagai berikut:
  1. Berpusat pada kemampuan siswa yang beragam. 
  2. Memiliki kontrol terhadap pencapaian hasil belajar. 
  3. Memiliki relevansi dengan kurikulum dalam hal tujuan dan cara pencapaiannya.
Menurut Mulyasa (2006: 46-47), bahan ajar juga memiliki 3 (tiga) keterbatasan, yaitu sebagai berikut:
1. Membutuhkan keahlian tertentu dalam menyusun bahan ajar yang baik. Bahan ajar yang baik tidak hanya berisi tujuan dan alat ukur pencapaiannya saja namun juga tertulis tentang pengalaman belajar siswa.
2. Membutuhkan manajemen pendidikan yang berbeda dibanding pembelajaran konvensional, karena sulit menentukan proses penjadwalan dan kelulusan masing-masing siswa yang memiliki kemampuan beragam.
3. Membutuhkan sumber belajar pendukung yang sangat mahal dibanding pembelajaran konvensional.

More aboutKeunggulan dan Keterbatasan Bahan Ajar

Eksternalitas dan Pajak Pigovian

Posted by Budi Wahyono on Sunday, April 5, 2015

Materi eksternalitas adalah salah satu materi di dalam mata kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi. Apabila dosen pengampu mata kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi menggunakan buku Principles of Microeconomics karya N. Gregory Mankiw, materi eksternalitas ini masuk di Part IV The Economics of Public Sector atau Ekonomi Sektor Publik.

Pengertian eksternalitas secara sederhana adalah dampak tindakan suatu pihak terhadap kondisi orang/pihak lain. Eksternalitas ini muncul ketika seseorang melakukan kegiatan yang mempengaruhi kesejahteraan orang lain, namun orang tersebut tidak membayar atau menerima kompensasi dari dampak tindakannya itu.

Pengertian ini sejalan dengan pendapat Mankiw (2012) bahwa eksternalitas adalah “the uncompensated impact of one person’s actions on the well-being of a bystander”. Eksternalitas dibagi menjadi 2 (dua) jenis, yaitu eksternalitas positif dan eksternalitas negatif.

Apabila dampak yang ditimbulkan dari tindakan tersebut menguntungkan, maka termasuk eksternalitas positif. Namun apabila dampak yang diakibatkan merugikan, maka termasuk eksternalitas negatif.

Contoh eksternalitas positif adalah pendidikan. Proses pendidikan akan menghasilkan sumber daya manusia yang handal dalam bidangnya, sebagai contoh sarjana ekonomi yang ahli dalam dunia bisnis. Kemudian sarjana ekonomi tersebut menjadi seorang pengusaha sukses. Dari usahanya tersebut sarjana ekonomi tadi bisa merekrut banyak pengangguran untuk bekerja di perusahaannya. Dampak yang menguntungkan untuk pengangguran dan pemerintah tersebut termasuk dalam eksternalitas positif.

Sedangkan contoh eksternalitas negatif adalah pabrik yang memproduksi suatu barang. Dari proses produksinya tersebut, pabrik tadi menghasilkan limbah yang merugikan masyarakat di sekitar pabrik. Dampak merugikan ini disebut dengan eksternalitas negatif.

Berdasarkan penjelasan tentang pengertian eksternalitas di atas, kita bisa melihat bahwa eksternalitas positif perlu ditingkatkan keberadaannya sehingga banyak pihak yang diuntungkan. Sedangkan eksternalitas negatif perlu ditekan atau dikurangi. Upaya untuk meningkatkan eksternalitasn positif dan mengurangi eksternalitas negatif ini dikenal dengan istilah Internalisasi Eksternalitas.

Pada artikel ini kita akan membahas bagaimana cara yang dapat ditempuh pemerintah untuk mengurangi kesternalitas negatif. Mankiw (2012) mengemukakan langkah yang dapat ditempuh pemerintah untuk mengatasi eksternalitas negatif tersebut, yaitu dengan cara “altering incentives so that people take account of the external effects of their actions

Solusi Mankiw tersebut adalah dengan memberikan insentif kepada pihak yang menimbulkan eksternalitas negatif. Hal ini sejalan dengan Prinsip Ke-4 dari 10 Prinsip Ekonomi, yaitu “People Respond to Incentives” (orang memberikan reaksi terhadap insentif). Insentif sendiri adalah “something that induces a person to act”.

Lalu insentif seperti apa yang bisa dibebankan kepada pelaku eksternalitas negatif? Jawabannya adalah pajak. Adanya pajak bisa menekan produksi perusahaan sehingga titik optimum kesejahteraan secara sosial dapat diwujudkan. Gambarannya bisa dilihat dalam kurva berikut ini:


Dalam kurva tersebut dapat dilihat bahwa keseimbangan optimum secara sosial berada di kiri kurva penawaran. Keseimbangan optimum secara sosial tersebut dapat dicapai apabila kurva penawaran bergeser ke kiri dan berimpit dengan garis biaya sosial (garis warna merah). Untuk menggeser kurva penawaran ke kiri, bisa ditempuh dengan membebankan pajak kepada produsen, sehingga kuantitas produksinya akan berkurang.

Pajak seperti ini dikenal dengan nama Pajak Pigovian, yang pertama kali dikemukakan oleh Arthur Pigou (1877–1959). Mankiw (2012) mengemukakan pengertian Pajak Pigovian adalah “a tax designed to induce private decision makers to take account of the social costs that arise from a negative externality”. Secara sederhana pengertian pajak pigovian adalah pajak yang diberlakukan untuk memperbaiki dampak dari eksternalitas negatif.

Referensi:
Mankiw, N. Gregory. 2012. Principles of Microeconomics: 6th Edition. South-Western Cengage Learning.
More aboutEksternalitas dan Pajak Pigovian