Sunday, July 26, 2015

Apakah Pembelajaran Elektronik Terpadu itu?

By With No comments:
Terdapat beberapa pengertian Pembelajaran Elektronik Terpadu, diantaranya sebagai berikut:

1. Sebuah akses kepada pilihan sumber belajar alternatif yang lebih banyak melalui komputer pribadi  (PC) Anda dari tempat penyimpanan digital internasional dan juga institusional,  yang diakses melalui “log-in” tunggal yang menciptakan “perpaduan” pembelajaran yang ditawarkan kepada Anda;

2. Belajar online dengan tutor sebagai fasilitator dan menekankan pada kreasi bersama dalam sebuah kelas yang kaya dalam suasana kerjasama online;

3. Mengunduh konten ke dalam peralatan mobile,  menggunakan podcasts,  dan buku elektronik sebagai sumber,  PC tablet dengan koneksi nirkabel untuk mencatat dan berbagi dikelas,  dan menggunakan fasilitas berkirim pesan untuk menerima  informasi terbaru mengenai perkuliahan sambil mereka beraktivitas;

4. Memasukan unsur permainan online dengan banyak pemain atau bermain peran melalui multimedia dengan menggunakan simulasi otentik yang dikembangkan untuk menggali penanganan permasalahan kehidupan nyata sehari-hari;

5. Konten personal disampaikan melalui jaringan yang diatur dengan signal RSS untuk menandai konten baru yang relevan dengan minat individu;

Apakah Pembelajaran Elektronik Terpadu itu?
Pembelajaran Elektronik Terpadu via okezone.com
6. Menggunakan lingkungan pembelajaran virtual (VLE) untuk mengakses materi perkuliahan dan mengajukan pertanyaan di dalam maupun di luar kampus;

7. Mengunggah catatan-catatan ke blog Anda sendiri ketika perkuliahan berlangsung dan menggunakan semacam alat bantu elektronik untuk memberi umpan balik kepada penyaji dengan cepat;

8. Belajar tepat pada waktunya dengan menggunakan tutorial berbasis komputer;
Tetap berhubungan dengan teman-teman belajar yang jauh dari kelas melalui penggunaan pesan instan dan mekanisme sosialisasi melalui komputer informal lainnya;

9. Mengumpulkan dan menerbitkan portofolio tugas-tugas kuliah Anda yang dipelajari dari beberapa institusi;

10. Penggabungan tempat belajar fisik dan virtual yang tidak berlapis yang menggabungkan dan mengakomodir teknologi,  tetapi berfokus pada pembelajaran mahasiswa;

11. Hubungan pengajar-mahasiswa yang bermanfaat dan berhasil di kelas, dan dipelihara melalui komunikasi online tanpa pernah bertatap muka sekalipun.

Penulis: Dr. Dewi Kusuma Wardani, M.Si. (rangkuman dari buku “Preparing for Blended e-Learning” dengan penulis Allison Littlejohn & Chris Pegler).

Friday, July 24, 2015

Potensi Pembelajaran Terpadu (Blended Learning)

By With No comments:
Pembelajaran elektronik terpadu memungkinkan kita untuk mengubah sikap kita tidak hanya terhadap di mana dan kapan pembelajaran berlangsung, tetapi juga sumber dan alat apa yang dapat mendukung pembelajaran dan bagaimana caranya menggunakan sumber dan alat ini. Pembelajaran elektronik terpadu menambah dimensi pembelajaran terpadu.

Pembelajaran elektronik terpadu mendorong penggabungan tempat yang berbeda, yang memungkinkan peserta didik belajar dari perguruan tinggi,  universitas,  lingkungan kerja,  rumah,  atau di jalan.

Pembelajaran elektronik terpadu juga dapat memberikan fleksibilitas dalam hal waktu di mana pelajar dapat berpartisipasi dalam kelas-kelas, yang mengurangi atau menghilangkan keterbatasan yang muncul sebagai akibat dari penyeimbangan komitmen kerja atau komitmen rumah dengan komitmen belajar.

Pembelajaran ini membuka jangkauan sumber-sumber media yang dapat dipergunakan untuk belajar. Keterpaduan tempat, waktu,  dan media memberi keragaman baru pada jenis-jenis kegiatan yang dapat peserta didik lakukan dan cara mereka berkolaborasi dengan menggunakan alat-alat elektronik yang tersedia.

Pembelajaran elektronik terpadu menambah dimensi ekstra terhadap pembelajaran. Penggabungan antara wilayah fisik dan online bermaksud agar masyarakat dapat membentuk dan berinteraksi dengan cara-cara yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Penggabungan ini memungkinkan terjadinya interaksi yang sesungguhnya (secara serempak) dalam hubungannya dengan peluang untuk bekerjasama selama jangka waktu tertentu (secara tidak serempak). Hal ini yang nantinya akan menggali bentuk-bentuk dialog yang berbeda dan tipe-tipe pembelajaran baru.

Potensi Pembelajaran Terpadu (Blended Learning)
Blended Learning via etrainingpedia.com
Sumber media dan peralatan baru memungkinkan peserta didik untuk menciptakan bank sumber belajar mereka sendiri,  menggabungkan aset-aset yang mereka ciptakan sendiri dengan materi-materi yang lebih “formal” yang bersumber dari perpustakaan-perpustakan dari berbagai belahan dunia.

Hal ini menimbulkan pertanyaan terhadap beberapa nilai tradisional sebuah pendidikan,  seperti: siapa yang memiliki,  menciptakan dan mengawasi sumber-sumber dan pengetahuannya. Tipe-tipe kegiatan pembelajaran baru menantang pemikiran kita seperti: bagaimana pembelajaran bisa difasilitasi, merumuskan etiket-etiket belajar dan mengajar  baru, dan menggeser kontrol fokus dari pengajar kepada peserta didik.

Walaupun pembelajaran terpadu dan pembelajaran elektronik memiliki potensi untuk menyediakan beragam fleksibilitas yang dibutuhkan oleh peserta didik,  ada beberapa kendala besar yang dikelompokkan menjadi empat motif utama. Yang pertama,  pemegang kendali untuk perubahan harus diidentifikasi dan ditonjolkan.

Ke-dua, kemungkinan-kemungkinan baru yang muncul dalam perjalanan bisa saja merugikan,  jadi kita harus menemukan pendekatan yang dapat mendukung metode pembelajaran ini. Ke-tiga,  metodologi-metodologi baru semakin menambah rumit semua persiapan yang dilakukan untuk menerapkan pembelajaran terpadu maupun pembelajaran elektronik. Yang ke-empat, cara-cara berinteraksi yang baru dan pertukaran informasi yang bebas perlu dipertimbangkan secara hati-hati masalah etisnya.

Petimbangan-pertimbangan ini berdampak pada para rekanan di dalam institusi.  Manajemen senior dan pembuat kebijakan harus memikirkan peluang dan alasan baru mengapa mereka mau mengadopsi pembelajaran elektronik terpadu. Manajer pembelajaran elektronik juga harus mempertimbangkan bantuan dan biaya yang dibutuhkan.

Staf pembantu harus memberikan masukan kepada para tutor dan peserta didik di univesitas,  perguruan tinggi,  atau di dalam lingkungan kerja —atau kepada orang-orang yang bekerja di bidang-bidang ini. Para tutor harus memikirkan konteks pembelajaran baru dan faktor-faktor lain yang terlibat dalam pembelajaran terpadu,  serta bagaimana hal-hal ini berhubungan satu sama lain.

Para peserta didik harus dipersiapkan untuk memangku peran dan tanggungjawab baru dalam bentuk pembelajaran baru ini. Dan semua orang harus mempertimbangkan implikasi etis dari bentuk interaksi dan kebebasan informasi yang baru ini.

Penulis: Dr. Dewi Kusuma Wardani, M.Si. (rangkuman dari buku “Preparing for Blended e-Learning” dengan penulis Allison Littlejohn & Chris Pegler).

Seni Pembelajaran Terpadu (Blended Learning)

By With No comments:
Pembelajaran terpadu adalah sebuah seni pembelajaran yang telah dilakukan oleh para pengajar yang mengilhaminya selama berabad-abad. Pembelajaran ini berpusat pada penggabungan jenis sumber dan kegiatan pembelajaran yang berbeda di dalam sebuah lingkungan pembelajaran di mana para pebelajar dapat melakukan interaksi dan membangun ide.

Sejak beberapa dekade terakhir,  pembelajaran terpadu telah mampu memperluas metodologi pembelajaran,  membuka peluang terhadap pembelajaran jarak jauh dan terbuka,  dan juga lebih memberikan tantangan terhadap metode-metode pembelajaran tradisional.

Istilah pembelajaran elektronik terpadu” merupakan sebuah pengakuan bahwa kesempatan untuk menggunakan pembelajaran elektronik murni lebih kecil dibandingkan jika digabungkan (dipadukan dengan) pendekatan-pendekatan lainnya sebagai sebuah bentuk pembelajaran terpadu.

Pendidikan belum mampu memegang kendali atas penggunaan teknologi baru dalam pembelajaran. Kemajuan ini seringkali dikendalikan oleh tren-tren baru yang tercipta di luar pendidikan formal.

Alat-alat elektronik,  seperti: DVD,  iPod,  kamera digital,  telepon genggam dan komputer,  sedang merajalela dan sangat akrab dengan pelajar kita. Inovasi terbaru dalam perangkat lunak sosial telah mengubah cara orang-orang bertemu dan berinteraksi.

Seni Pembelajaran Terpadu (Blended Learning)
Blended Learning via spinedu.com
Mereka menantang norma-norma sosial,  membuka banyak peluang sampai dengan bagaimana kita bisa menyebarluaskan informasi-informasi pribadi dan bersama-sama menggali topik-topik yang sama-sama diminati. Harapan para pelajar tengah dicetak dengan penggunaan teknologi dalam kehidupan sosial mereka,  dan pembaharuan teknologi ini dalam dunia pendidikan sangatlah pesat.

Semua ini pastilah berdampak pada arah pembelajaran elektronik dan pembelajaran terpadu pada masa kini dan masa depan. Hal ini juga menandai kepercayaan diri akan penggunaan teknologi dan memadukannya dengan pembelajaran yang ada.

Para tutor tengah menciptakan perkuliahan melalui podcasts (data berupa suara dan video untuk perkuliahan yang bisa diunduh),  dan pada saat yang sama banyak di antara mahasiswa-mahasiwa mereka yang memakai teknologi penyiaran pribadi untuk menyebarkan video,  dan tentu saja klip gambar dan suara yang mereka tangkap melalui telepon genggam mereka.

Banyak di antara teknologi-teknologi ini yang dapat dengan mudah membuat kita saling  “terhubung” dan juga berhubugan atau berbaur. Keterpaduan dalam pembelajaran elektronik terpadu semakin kaya,  kompleks,  dan bervariasi – lebih bermanfaat,  tetapi juga lebih sulit diduga.

Penulis: Dr. Dewi Kusuma Wardani, M.Si. (rangkuman dari buku “Preparing for Blended e-Learning” dengan penulis Allison Littlejohn & Chris Pegler).

Tuesday, July 7, 2015

7 (Tujuh) Asas Pokok yang Harus Diperhatikan oleh Setiap Organisasi

By With No comments:

Terdapat 7 (tujuh) asas pokok yang harus diperhatikan oleh setiap organisasi. Tujuh asas pokok tersebut adalah sebagai berikut:

1. Perumusan Tujuan dengan Jelas
Sesuatu yang hendak dicapai oleh organisasi hendaknya dirumuskan dengan jelas, dan difahami oleh setiap anggota dan atau orang di dalam organisasi. Sehingga dengan demikian di samping dapat menjiwai setiap orang dalam melaksankan tugas, publik intern itu mungkin dapat menyumbangkan idenya, kreasinya terhadap tindakan atau langkah yang diambil.

Yang selanjutnya akan menambah keyakinan, memberi motivasi dalam menjalankan tugas. Karena mereka diikutsertakan, diberi wewenang, dan mereka merasa mempunyai peranan, maka akan selalu tergugah hatinya untuk dapat mempertanggungjawabkan tugas yang dilimpahkan dengan sebaik mungkin.

2. Pembagian Tugas Pekerjaan
Jikalau dikaji kembali tentang definisi organisasi, maka akan kita jumpai salah satu unsurnya ialah adanya dua orang atau lebih yang bersepakat untuk mengadakan kerjasama, untuk mencapai tujuan yang mereka kehendaki bersama.

Maka agar mereka dapat melakukan kegiatan dengan baik, dalam arti juga untuk meringankan beban masing-masing pihak, maka perlu diadakan pembagian tugas pekerjaan. Baik pembagian tugas ke dalam satuan-satuan organisasi, ke dalam sub-sub unit, atau sampai ke dalam satuan-satuan pelaksana (operating unit).

Sehingga di dalam organisasi akan terdapat satuan-satuan organisasi dengan pejabat, tugas, wewenang, dan tanggung jawab serta hubungan satu sama lain, yang masing-masing pejabat mempunyai peranan tertentu dalam lingkungan kesatuan yang utuh. Tetapi tidak merupakan pengkotakan tugas dan tanggung jawab.

Jadi dengan singkat dapat dikatakan, bahwa pembagian tugas pekerjaan adalah aktivita untuk membagi-bagi tugas pekerjaan, ke dalam satuan-satuan tertentu atau ke dalam bagian-bagian yang khusus. Dan karena organisasi  dalam arti  filosofis  adalah manifestasi  kemampuan manusia untuk bekerja secara kooperatif, maka tugas-tugas yang terdapat di dalam organisasi harus dibagi-bagi sesuai dengan kemampuan, keahlian dan bakat orang-orang di dalam organisasi.

3. Delegasi Kekuasaan
Adalah penyerahan sebagian hak untuk mengambil tindakan yang diperlukan, dari pejabat yang lebih tinggi tingkatannya kepada pejabat yang lebih rendah, atau dari pejabat yang satu kepada yang lain yang sederajat dalam suatu organisasi.

Sebagai contoh A diberi tugas membersihkan ruang X yang jam kerja dimulai pukul 08.00. Sebagai petugas yang bertanggung jawab bersihnya ruang X tersebut, A harus diberi kekuasaan membawa kunci masuk kantor X. Sehingga dapat dengan leluasa membersihkan ruang X sebelum jam 08.00, dengan tanpa mengganggu pegawai kantor X yang bekerja.

7 (Tujuh) Asas Pokok yang Harus Diperhatikan oleh Setiap Organisasi
Ilustrasi Organisasi via actionco.fr
Pelimpahan kekuasaan ini perlu dilaksanakan, mengingat bahwa kemampuan seseorang itu terbatas. Dalam arti bahwa dengan predikatnya seseorang mungkin tidak mampu untuk mengetahui semua hal dalam organisasi sampai hal yang sekecil-kecilnya. Lebih-lebih kalau organisasi itu sudah sedemikian besarnya dan kompleks tugas-tugas yang harus dilaksanakan guna merealisir tujuan.

Dengan contoh di atas menunjukkan bahwa delegasi kekuasaan adalah suatu asas yang esensiil, agar organisasi lancar jalannya. Kemudian dari pada itu, hendaknya dalam memberikan tugas disertakan juga kekuasaan atau batas-batas kewenangan yang sepadan dengan fungsi dan tanggung jawab yan akan diberikan.

4. Rentangan Kekuasaan
Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa di dalam organisasi terdapat beberapa orang yang mempunyai predikat pimpinan. Baik pimpinan tingkat atas, tingkat menengah, ataupun tingkat bawah. Mereka dikatakan pimpinan, praktis mereka ini mempunyai bawaha. Asas yang berkenaan dengan penentuan jumlah bawahan atau tanggung jawab yang harus berada di bawah pengawasan seseorang pejabat termasuk dalam pengertian rentangan kekuasaan.

Menentukan jumlah orang atau jenis tanggung jawab yang tepat yang harus berada di bawah pengawasan seseorang pejabat supaya dapat dipimpin dengan baik, adalah merupakan suatumasalah yang sulit dan harus dipecahkan dalam organisasi.

5. Tingkatan Tata Jenjang
Adalah jumlah tingkatan menurut kedudukan dari atas ke bawah, yang tiap-tiap tingkatan terdapat pejabat dengan tugas, wewenang dan tanggung jawab tertentu. Untuk menentukan jumlah tingkatan atau hirarki, hendaknya diperhatikan benar-benar akan corak dari pada pekerjaan.

Dan hendaknya diusahakan jenjang organisasi sependek mungkin, sehingga dengan demikian besar kemungkinan akan mengurangi hambatan dalam proses penyaluran kekuasaan dan tanggung jawab. Suatu fakta menunjukkan, bahwa semakin banyak jenjang berarti semakin banyak pula kemungkinan hambatan penyaluran setiap kebijaksanaan. Jenjang atau hirarki ini sangat erat sekali hubungannya dengan rentangan kekuasaan.

6. Kesatuan Perintah dan Tanggung Jawab
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa di dalam organisasi pasti kita jumpai adanya satuan-satuan tugas yang harus dilaksanakan oleh pelaksana. Oleh karenanya, setiap pelaksana hendaknya hanya menerima perintah dan tanggung jawab dari atasan, dan dilaksanakan dengan menggunakan saluran komunikasi yang tegas.

Maksudnya agar semua pertugas dapat mengetahui dari siapa ia menerima perintah dan kepada siapa ia harus mempertanggungjawabkan hasil kerjanya. Disamping itu asas ini dapat menghindarkan kemungkinan adanya kekembaran dan atau kevakuman dalam pelaksanaan pekerjaan, yang disebabkan karena adanya bawahan yang dapat menerima perintah  lebih dari satu atasan.

7. Koordinasi
Adalah suatu kondisi dimana terkandung aspek-aspek tidak terjadinya kekacauan, percekcokan, kekembaran atau kekosongan kerja, sebagai akibat  dari pada pekerjaan menghubug-hubungkan, menyatupadukan, dan menyelaraskan orang-orang dan pekerjaannya dalam suatu kerja sama yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang telah ditentukan. 

Aktivia manajemen yang berupa menghubung-hubungkan, menyatupadukan, dan menyelaraskan orang-orang dan pekerjaannya, sehingga kesemuanya berlangsung secara tertib dan seirama menuju tercapainya tujuan disebut dengan istilah pengkoordinasian (coordinating).

Karena untuk menciptakan hubungan yang harmonis atau koordinasi itu melalui integrasi, simplifikasi dan sinkronisasi, maka asas yang ke 7 dari oeganisasi ini lazim juga disebut KIIS (Koordinasi Integrasi Simplifikasi Sinkronisasi). Ke 7 asas organisasi sebagaimana dikemukakan diatas, dapat dipandang sebagai “Zine Que Non” untuk membina dan menjaga kelestarian organisasi

Sumber:
Dr. Hery Sawiji, M.Pd. dalam bukunya Fungsi Manajemen.

Monday, July 6, 2015

Slide Materi: Aplikasi: Biaya-biaya Pajak

By With No comments:
Bagaimana Pajak Memengaruhi Pelaku Pasar
Tidak peduli pajak dikenakan kepada pembeli atau penjual. Harga yang dibayar pembeli meningkat, harga yang diterima penjual menurun. Pada akhirnya, penjual dan pembeli membagi beban pajak secara bersama.

Pajak menghasilkan irisan antara harga yang dibayar pembeli dengan harga yang diterima penjual. Akibat pajak ini, jumlah barang yang dijual turun di bawah tingkat barang yang seharusnya dapat dijual tanpa pajak. Ukuran pasar untuk barang tersebut pun mengalami penyusutan.

Pendapatan dari Pajak (Tax Revenue)
T = besarnya pajak
Q = jumlah barang yang terjual
T x Q = Pendapatan Pemerintah dari Pajak

Adanya pajak menyebabkan tingkat kesejahteraan berubah. Bentuk perubahan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Perubahan dalam Kesejahteraan tersebut meliputi:
  2. Perubahan surplus konsumen
  3. Perubahan surplus produsen
  4. Perubahan penerimaan / penghasilan pajak
  5. Kerugian pembeli dan penjual melebihi pendapatan yang diterima pemerintah.
  6. Kerugian ini sering disebut Kerugian Beban Baku (Deadweight Loss)
Lanjutan materi ini kami tampilkan dalam bentuk screenshot powerpoint berikut ini:

Slide Materi: Aplikasi: Biaya-biaya Pajak

Slide Materi: Aplikasi: Biaya-biaya Pajak

Slide Materi: Aplikasi: Biaya-biaya Pajak

Slide Materi: Aplikasi: Biaya-biaya Pajak

Slide Materi: Aplikasi: Biaya-biaya Pajak

Slide Materi: Aplikasi: Biaya-biaya Pajak
Apabila anda ingin mendapatkan file tersebut, silakan kirim permintaan via email ke iro.maruto@gmail.com (Free!!)

Pengertian dan Manfaat Segmentasi Pasar

By With No comments:
Pengertian Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi-bagi pasar yang bersifat heterogen dari suatu produk ke dalam satuan-satuan pasar (segmen pasar) yang bersifat homogen.

Segmentasi pasar ini merupakan suatu falsafah yang berorientasi pada konsumen. Jadi, perusahaan yang berorientasi pada konsumen akan membagi pasarnya ke dalam segmen-segmen pasar tertentu dimana masing-masing segmen bersifat homogen.

Homogenitas masing-masing segmen tersebut disebabkan oelh adanya perbedaan-perbedaan dalam kebiasaan membeli, cara penggunaan barang, kebutuhan pemakai, motif pembelian, tujuan pembelian, dan sebagainya.

Manfaat Segmentasi Pasar
Dengan menyatukan program pemasaran yang ditujukan ke segmen-segmen pasar yang dituju, manajemen dapat melaksanakan kegiatan pemasaran dengan lebih baik dan dapat menggunakan sumber-sumber pemasaran secara lebih efisien.

Bagi sebuah perusahaan kecil dengan sumber-sumber yang sangat terbatas dapat ikut bersaing dalam segmen pasar tertentu. Secara terperinci dapat dikatakan bahwa segmentasi pasar dapat membantu manajemen dalam:
  1. Menyalurkan uang dan usaha ke dalam potensial yang paling menguntungkan
  2. Merencanakan produk yang dapat memenuhi permintaan pasar
  3. Menentukan cara-cara promosi yang paling efektif bagi perusahaan
  4. Memilih media advertensi yang lebih baik dan menentukan bagaimana mengalokasikan anggaran secara lebih baik ke berbagai macam media
  5. Mengatur waktu yang sebaik-baiknya dalam usaha promosi
Pengertian dan Manfaat Segmentasi Pasar
Market Segmentation via webmarketingtoday.com
Sedangkan alasan-alasan bagi perusahaan dalam mengadakan segmentasi pasar adalah sebagai berikut:
1. Pasar bersifat dinamis, tidak statis. Ini berarti bahwa dalam pasar terdapat perubahan secara terus-menerus tentang sikap, siklus kehidupan, kondisi keluarga, pendapatan, pola geografis, dan sebagainya
 
2. Pasar untuk suatu produk berubah sesuai dengan siklus kehidupan produk tersebut, dari tahap perkenalan sampai tahap penurunan. Masalah siklus kehidupan produk (product life cycle) sudah kami bahas di sini.

Sumber:
Basu Swastha. 2002. Azas-azas Marketing. Yogyakarta: Liberty.

Saturday, July 4, 2015

Penggolongan Pengecer (Retailer) Berdasarkan Lokasi Geografis dan Bentuk Pemilikan

By With No comments:
Penggolongan Pengecer (Retailer) Berdasarkan Lokasi Geografis
Penggolongan pengecer menurut lokasi geografis ini mempunyai hubungan dengan pola pembelian konsumen. Secara umum dapat dikatakan bahwa perdagangan eceran ini lebih mengelompok dibandingkan dengan penyebaran penduduk.

Analisa lokasi geografis ini dapat dipakai untuk mengadakan penilaian terhadap pasar potensial secara regional dari beberapa macam barang. Berdasarkan pada lokasi geografisnya, pengecer dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu: 1) pengecer yang berada di desa dan 2) pengecer yang berada di kota.

Penggolongan Pengecer (Retailer) Berdasarkan Bentuk Pemilikan
Berdasarkan bentuk pemilikannya, pengecer dapat digolongkan ke dalam dua golongan, yaitu:

1. Toko Berangkai
Toko berangkai (corporate chain store) ini merupakan beberapa toko yang berada dalam satu organisasi, yang dimiliki oleh sekelompok orang. Masing-masing toko menjual product line yang sama, dan struktur distribusinya juga sama.

2. Toko Independen
Dalam toko independen (independent store) ini pemilik mempunyai kebebasan yang lebih besar dalam menentukan kebijaksanaan dan strateginya.

Hal ini disebabkan karena pemilik toko, juga sebagai pemimpinnya, bukanlah sekelompok orang sehingga usahanya diusahakan sendiri, tidak tergantung pada orang lain.

Penggolongan Pengecer (Retailer) Berdasarkan Lokasi Geografis dan Bentuk Pemilikan
Contoh Pengecer di Desa via rri.co.id
Sumber:
Basu Swastha. 2002. Azas-azas Marketing. Yogyakarta: Liberty.

Friday, June 26, 2015

Penggolongan Pengecer (Retailer) Berdasarkan Banyaknya Product Line

By With No comments:
Pada artikel yang lalu, kita telah membahas mengenai Penggolongan Pengecer (Retailer) berdasarkan Ukuran Tokonya. Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel tersebut, yaitu membahas tentang Penggolongan Pengecer (Retailer) Berdasarkan Banyaknya Product Line.

Sekilas tentang Pengertian Product Line
Product line adalah sekelompok barang-barang yang pada pokoknya cenderung mempunyai tujuan penggunaan sama dan memiliki karakteristik secara fisik yang hampir sama.

Contoh:
Bagi toko serba ada, sepatu dan sandal merupakan satu product line, demikian pula untuk alat-alat olahraga, pakaian jadi, dsb. Bagi toko sepatu, sepatu pria adalah satu product line, sepatu wanita juga satu product line.

Menurut banyaknya product line, pengecer (retailer) dapat digolongkan menjadi tiga bentuk, yaitu: 1) general merchandise store, 2) single-line store dan 3) specialty store.

1. General Merchandise Store
General merchandise store adalah sebuah toko yang menjual berbagai macam barang atau berbagai macam product line. Jenis toko yang dapat dimasukkan ke dalam general merchandise store ini adalah toko serba ada (department store).

Barang-barang yang dijual antara lain berupa: alat-alat olahraga, pakaian jadi, sepatu, alat-alat listrik, alat-alat rumah tangga, kosmetik, alat-alat tulis, dan sebagainya.

Penggolongan Pengecer (Retailer) Berdasarkan Banyaknya Product Line
Contoh Department Store via wikimedia.org
2. Single-Line Store
Penggolongan ini dihubungkan dengan kelompok barang-barang yang dijual (jenis product line-nya). Termasuk ke dalam jenis ini antara lain: toko makanan, toko mebel, toko bahan-bahan bangunan, toko alat-alat olahraga, toko kain, dan sebagainya.

Ada juga yang menggolongkannya ke dalam toko barang-barang untuk wanita dan toko barang-barang untuk pria. Jadi, mereka hanya menjual product line tunggal.

3. Specialty Store
Di sini barang yang dijualnya lebih terbatas, hanya meliputi sebagian dari product line saja (barang konvenien atau barang shopping* saja). Misalnya toko tembakau, toko roti, toko sepatu pria, dan sebagainya. Jadi, specialty store ini tidak selalu menjual barang spesial saja, tetapi juga yang lain.

* Pengertian Barang Shopping dan Konvenien
Barang Shopping adalah barang yang harus dibeli dengan mencari dahulu dan dalam membelinya harus dengan pertimbangan masak-masak (misalnya dengan membandingkan mutu, harga, kemasarn, dsb). Contoh: tekstil, perabot rumah tangga, dsb.

Barang Konvenien adalah barang yang mudah dipakai, membelinya dapat di sembarang toko, dan pada setiap waktu. Contoh: rokok, sabun, pasta gigi, dsb.

Referensi:
Basu Swastha. 2002. Azas-azas Marketing. Yogyakarta: Liberty.

Wednesday, June 24, 2015

Slide Materi: Perusahaan dalam Pasar Monopoli

By With No comments:
Pasar Monopoli merupakan salah satu jenis pasar yang hanya terdapat satu perusahaan yang menguasai pasar. Sehingga, perusahaan tersebut disebut sebagai pembuat harga (price maker) tidak ada persaingan dalam pasar monopoli, atau kalaupun ada persaingan, persaingannya sangat kecil.

Meskipun secara teori perusahaan monopoli bebas menentukan harga, namun tidak bisa seenaknya sendiri dalam menentukan harga tersebut. Karena apabila menentukan harga yang terlalu tinggi konsumen tidak akan mau membeli produk tersebut, dan akan menyebabkan perusahaan lain mudah memasuki struktur pasar

Contoh:
Microsoft adalah perusahaan monopoli untuk sistem operasi. Produknya yang bernawa Windows menguasai pasar sistem operasi di dunia. Namun, Microsoft tidak menentukan harga seenaknya sendiri atau tidak menentukan harga yang sangat tinggi.

Karena kalau Microsoft menentukan harga yang sangat tinggi akan menyebabkan banyak konsumen beralih ke sistem operasi lain, seperti linux. Selain itu, hal ini juga dapat menyebabkan praktik pembajakan produk Microsoft oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Kelanjutan materi ini kami tampilkan dalam screenshot powerpoint berikut ini:

Slide Materi: Perusahaan dalam Pasar Monopoli

Slide Materi: Perusahaan dalam Pasar Monopoli

Slide Materi: Perusahaan dalam Pasar Monopoli

Slide Materi: Perusahaan dalam Pasar Monopoli

Slide Materi: Perusahaan dalam Pasar Monopoli

Kalau anda berminat dengan slide powerpoint tersebut, silakan kirim permintaan ke iro.maruto@gmai.com (FREE)

Model Pembelajaran Efektif, Inovatif dan Interaktif: Picture and Picture

By With No comments:
Salah satu model pembelajaran efektif yang menggunakan media gambar, selain Examples non Examples adalah Picture and Picture. Sesuai dengan namanya, media utama dalam model pembelajaran ini adalah gambar (picture).

Seperti halnya Model Pembelajaran Examples non Examples, model pembelajaran Picture and Picture ini juga dapat digunakan untuk mendorong peserta didik untuk berpikir kritis terhadap contoh yang ditampilkan oleh guru.

Sehingga, dapat mendukung proses pembelajaran saintifik dalam Kurikulum 2013 (meskipun memang jenis model pembelajarannya tidak disertakan dalam RPP). Namun demikian, model pembelajaran ini juga bisa digunakan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan dimasukkan dalam RPP tentunya.

Yang membedakan dengan Examples non Examples adalah bahwa dalam Picture and Picture, gambarnya sudah dalam bentuk cetak (print out). Kemudian peserta didik diminta untuk mengurutkan gambar secara logis.

Untuk lebih sistematis dan detailnya, berikut kami sajikan tahap-tahap implementasi Model Pembelajaran Picture and Picture ini.
  1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
  2. Kemudian guru menyajikan materi sebagai pengantar
  3. Langkah selanjutnya guru menunjukkan beberapa gambar yang tentunya berkaitan dengan materi pembelajaran
  4. Guru menunjuk/memanggil peserta didik secara bergantian untuk memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
  5. Selanjutnya guru menanyakan alasan/dasar pemikiran dari urutan gambar yang disusun tersebut
  6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
  7. Kesimpulan
Sebagai penjelas, berikut kami sajikan contohnya:
Misalkan dalam mata kuliah pengantar ilmu ekonomi yang tengah membahas permintaan dan penawaran. Dosen mata kuliah tersebut menggunakan Model Pembelajaran Picture and Picture, dan menampilkan beberapa gambar, diantaranya sebagai berikut:

Model Pembelajaran Efektif, Inovatif dan Interaktif: Picture and Picture

Terdapat tiga gambar yang ditampilkan dosen dalam sub bab pergeseran kurva permintaan. Kemudian peserta didik ditunjuk untuk menyusun gambar tersebut dengan urutan yang logis. Peserta didik juga diminta memberikan alasan dari urutan tersebut.

Urutan yang benar untuk gambar tersebut di atas adalah 2-3-1
Diawali dari peningkatan pendapatan oleh konsumen yang mengakibatkan menigkatnya tingkat permintaan konsumen atas suatu produk tertentu. Peningkatan permintaan ini menyebabkan kurva permintaan bergeser ke kanan.

Materi tentang Pergerakan dan Pergeseran Permintaan bisa dibaca di sini!

Untuk sub bab lain, kita bisa menggunakan gambar lain yang sesuai. Jadi gambar yang disediakan memang cukup banyak. Tapi hal itu tidak menjadi masalah apabila hasilnya nanti sesuai dengan tujua pembelajaran.

Demikian sedikit penjelasan tentang Model Pembelajaran Picture and Picture, semoga bermanfaat.

Monday, June 22, 2015

Model Pembelajaran Efektif, Inovatif dan Interaktif: Examples non Examples

By With No comments:
Seorang guru harus mampu menggunakan model pembelajaran yang bervariasi agar keefektivan proses pembelajaran di dalam kelas bisa diwujudkan. Selama ini, model pembelajaran yang diterapkan oleh mayoritas guru adalah ceramah.

Bukan berarti model pembelajaran ceramah itu jadul, kurang efektif, ketinggalan zaman, atau yang lain tetapi apabila hanya model pembelajaran ceramah saja yang dipakai tentunya hal tersebut akan kurang efektif dan dapat menimbulkan kejenuhan pada peserta didik.

Terdapat berbagai macam model pembelajaran yang efektif, inovatif dan interaktif yang dapat digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Salah satu model pembelajaran tersebut adalah Examples non Examples.

Model Pembelajaran Examples non Examples merupakan sebuah model pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media penyampaian materi, kemudian melalui gambar tersebut peserta didik diminta untuk menganalisis permasalahan-permasalahan yang terkandung dalam gambar tersebut.

Model Examples non Examples ini bisa mendorong peserta didik untuk berpikir kritis terhadap contoh yang ditampilkan oleh guru. Selain itu, model pembelajaran Examples non Examples ini juga mendukung proses pembelajaran saintifik dalam Kurikulum 2013 (meskipun memang jenis model pembelajarannya tidak disertakan dalam RPP).

Dalam praktiknya, saya sering menggunakan model pembelajaran ini ketika mengampu beberapa mata kuliah. Dalam perkembangannya saya tidak hanya menggunakan gambar sebagai media pembelajarannya, tetapi saya juga memasukkan video, karena sejauh ini, tampilan video lebih menarik untuk peserta didik.

Model Pembelajaran Efektif, Inovatif dan Interaktif: Examples non Examples
Proses Pembelajaran via hnschool.blogspot.com
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa gambar atau video yang ditampilkan benar-benar relevan dengan materi yang akan disampaikan, karena terkadang sulit mencari gambar atau video yang sesuai dengan materi di google.com atau youtube.com. Solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan membuat gambar atau video sendiri tentunya.

Kemudian yang kedua, apabila anda memilih video sebagai media pembelajaran, usahakan durasi videonya tidak terlalu panjang (4-5 menit saja cukup). Apabila video yang anda download dari youtube.com memiliki durasi yang panjang, bisa anda potong dengan software Ulead Video Studio atau software lain (gunakan hanya bagian video yang relevan dengan materi pembelajaran).

Terdapat beberapa langkah dalam menerapkan Model Pembelajaran Examples non Examples ini (saya kira sudah banyak blogwebsite yang menampilkan langkah-langkah ini). Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Guru mempersiapkan gambar-gambar (atau video) sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran. Anda bisa mencari via google.com atau youtube.com (untuk video).
  2. Guru menampilkan gambar atau video yang sudah di-download melalui slide Ms. Powerpoint dan LCD
  3. Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok (satu kelompok terdiri dari 2-3 peserta didik)
  4. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada kelompok peserta didik untuk memperhatikan dan menganalisa gambar atau video yang ditampilkan
  5. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang peserta didik, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
  6. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya (kalau tidak memungkinkan bisa perwakilan beberapa kelompok)
  7. Dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
  8. Kesimpulan oleh guru
Demikianlah sedikit penjelasan tentang Model Pembelajaran Examples non Examples. Semoga bermanfaat dan bisa anda implementasikan dalam proses pembelajaran di dalam kelas.

Friday, June 19, 2015

Penggolongan Pengecer (Retailer) Berdasarkan Ukuran Toko

By With No comments:
Pengecer (retailer) dapat digolongkan berdasarkan beberapa faktor berikut: 1) ukuran toko, 2) banyaknya product line, 3) lokasi geografis, 4) bentuk pemilikan, dan 5) metode operasinya. Dalam artikel ini kita akan membahas penggolongan pengecer berdasarkan ukuran tokonya.

Untuk mengetahui ukuran toko dapatlah dilihat volume penjualannya, sehingga masing-masing pengecer mempunyai ukuran yang berbeda-beda dengan masalah-masalah manajemen yang berbeda pula.

Kegiatan-kegiatan seperti promosi, pembelanjaan, pembelian, personalia, dan pengawasan biaya dipengaruhi oleh besaran volume penjualan toko tersebut.

Berdasarkan ukuran tokonya, pengecer digolongkan menjadi dua jenis, yaitu:
  1. Pengecer kecil (small scale retailer)
  2. Pengecer besar (large scale retailer)
Posisi persaingan diantara kedua pengecer tersebut dapat dinilai menurut faktor-faktor sebagai berikut:
1. Pembagian Tenaga Kerjanya
Dalam hal ini pengecer besar lebih mampu mempekerjakan tenaga spesialis misalnya untuk bagian pembelian, promosi dan akuntansi. Sedangkan pada pengecer kecil tidaklah demikian. Hal ini disebabkan oleh tersedianya dana yang lebih kecil.

Penggolongan Pengecer (Retailer) Berdasarkan Ukuran Toko
Contoh Pengecer Besar via molon.de
2. Fleksibilitas Operasinya
Pada umumnya, toko-toko kecil menjalankan praktik manajemen yang lebih fleksibel dibandingkan dengan toko-toko besar. Disamping jumlah tenaga kerjanya yang lebih sedikit, juga beberapa fungsi dipegang oleh satu orang (pimpinan).

3. Daya Beli
Pengecer besar memiliki daya beli yang lebih besar dibandingkan dengan pengecer kecil. Semakin besar daya beli mereka, semakin besar pula jumlah yang mungkin mereka beli, sehingga dapat memperoleh potongan yang lebih besar dalam pembelian barang yang akan dijualnya.

Penggolongan Pengecer (Retailer) Berdasarkan Ukuran Toko
Contoh Pengecer Kecil via bisnisukm.com
4. Periklanan
Dalam hal periklanan, toko-toko besar dapat menggunakannya secara lebih efektif dibandingkan dengan toko-toko kecil.

5. Merk Pengecer
Pengecer besar mempunyai posisi yang lebih baik dalam mengembangkan dan mempertahankan merk-nya.

6. Kemampuan Keuangan
Biasanya pengecer besar mempunyai posisi keuangan yang lebih baik. Mereka lebih mudah dalam memperoleh dana dari pemilik (penanam modal) atau kreditur. Karena posisi keuangannya kuat maka memungkinkan bagi mereka untuk memberikan potongan tunai kepada pembeli. Selain itu, mereka juga akan memperoleh kepercayaan dalam penyaluran barang dari produsen.

7. Integrasi Horizontal dan Vertikal
Kadang-kadang dapat terjadi bahwa fungsi perdagangan besar dilakukan juga oleh pengecer besar; bahkan kegiatan pemasaran produsen dapat dilakukannya. Hal ini akan menimbulkan adanya integrasi vertikal. Jika pengecer besar tersebut mejual barang yang dihasilkan oleh beberapa produsen dengan merk yang berbeda-beda, maka akan terjadi integrasi horizontal.

8. Biaya Operasi
Secara umum, pengecer besar mempunyai perbandingan biaya operasi yang lebih besar daripada pengecer kecil. Pengecer besar juga mempunyai persentase yang lebih besar dalam biaya-biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja selain penjual.

9. Pengujian, Inovasi dan Riset Pemasaran
Karena mempunyai kemampuan keuangan yang lebih besar, maka  pengecer besar lebih mampu mengadakan pengujian barang, inovasi dan riset pemasaran.

10. Pertimbangan Hukum
Dari segi hukum, sering pengecer tidak dapat secara bebas menentukan harga jual eceran barang hasil produsennya. Hal ini disebabkan karena adanya suatu peraturan atau perjanjian yang menetapkan harga minimum pada tingkat pengecer.

Sumber:
Basu Swastha. 2002. Azas-azas Marketing. Yogyakarta: Liberty.

Popular Posts