Pendidikan Sebagai Sebuah Sistem

Posted by Budi Wahyono on Tuesday, September 30, 2014

Sistem merupakan suatu kesatuan dari sejumlah komponen yang saling berkaitan dan mempengaruhi. Masing-masing komponen mempunyai fungsi sendiri, akan tetapi tertuju pada satu tujuan (yaitu tujuan sistem).

Lalu, mengapa pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu sistem?
Tidak lain dan tidak bukan adalah karena pendidikan terdiri dari sejumlah komponen yang saling berkaitan dan mempengaruhi, dan komponen-komponen tersebut tertuju pada satu tujuan yaitu tujuan pendidikan.

Kemudian, apa saja komponen pendidikan itu?
Secara umum, sama halnya dengan sistem lainnya, komponen-komponen pendidikan dapat dikategorikan menjadi tiga bagian utama, yaitu komponen INPUT, PROSES dan OUTPUT.

Contoh:
Komponen input adalah peserta didik baru
Komponen proses adalah proses pembelajaran yang terjadi di sekolah
Sedangkan komponen output adalah lulusan

Apabila digambarkan dalam sebuah bagan, kurang lebih sebagai berikut:


Hubungan Sistem Pendidikan dengan Sistem lain dan Perubahan Kedudukan dari Sistem
Suatu komponen bisa berubah menjadi sebuah sistem apabila komponen tersebut dilihat secara tersendiri dan ternyata komponen tersebut terdiri dari beberapa sub-komponen.

Contoh:
Suatu sistem masyarakat terdiri dari 3 komponen yang saling berkaitan: Politik, Ekonomi dan Pendidikan. Apabila dilihat secara tersendiri, ternyata komponen pendidikan mempunyai beberapa sub-komponen, yaitu pendidikan formal (PF), pendidikan nonformal (PNF) dan pendidikan informal (PIF).

Dalam kondisi tersebut, pendidikan berlaku sebagai komponen pada sistem masyarakat, tetapi pendidikan dapat berubah status menjadi sistem ketika pendidikan dilihat secara tersendiri, karena pendidikan mempunyai 3 komponen di bawahnya.

Kelanjutan artikel ini kami kemas dalam softfile powerpoint, apabila pembaca berminat untuk mendapatkan file tersebut silakan mengirim permintaan ke iro.maruto@gmail.com (FREE!).
More aboutPendidikan Sebagai Sebuah Sistem

Pengertian dan Tujuan Pemasaran Jasa Bank

Posted by Budi Wahyono on Tuesday, September 16, 2014

Pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan harus dikelola secara profesional sehingga kebutuhan dan keinginan pelanggan akan segera terpenuhi dan terpuaskan. Profesionalisme pemasaran ini tidak hanya berlaku pada perusahaan barang, melainkan berlaku pula pada perusahaan jasa termasuk bank.

Bank merupakan perusahaan jasa yang bertugas menghimpun dan menyalurkan dana dari dan ke masyarakat. Sebagaimana perusahaan jasa yang lain, bank juga harus mampu memberikan pelayanan yang baik, sehingga tercipta kepuasan pelanggan.

Untuk menciptakan kepuasan pelanggan tersebut, bank harus mampu melakukan pengelolaan pemasaran yang professional. Pengelolaan pemasaran bank yang profesional inilah yang disebut dengan nama manajemem pemasaran bank.

Kasmir (2004) menyatakan bahwa pemasaran bank adalah suatu proses untuk menciptakan dan mempertukarkan produk atau jasa bank yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan nasabah dengan cara memberikan kepuasan.

Selanjutnya Kasmir (2005) menyatakan bahwa tujuan pemasaran bank secara umum adalah untuk: 
  1. Memaksimumkan konsumsi atau dengan kata lain memudahkan dan merangsang konsumsi sehingga dapat menarik nasabah untuk membeli produk yang ditawarkan bank. 
  2. Memaksimumkan kepuasan pelanggan melalui berbagai pelayanan yang diinginkan nasabah.  
  3. Memaksimumkan pilihan (ragam produk) dalam arti bank menyediakan berbagai jenis produk bank sehingga nasabah memiliki beragam pilihan pula. 
  4. Memaksimumkan mutu hidup dengan memberikan berbagai kemudahan kepada nasabah dan menciptakan iklim yang efisien. 
Referensi:
Kasmir. 2004. Pemasaran Bank. Jakarta: Kencana.
Kasmir. 2005. Pemasaran Bank. Jakarta: Prenada Media.
More aboutPengertian dan Tujuan Pemasaran Jasa Bank

Pengajaran Berprograma

Posted by Budi Wahyono on Saturday, September 6, 2014

Pengajaran Berprograma merupakan suatu sistem belajar (learning strategy) yang memungkinkan siswa untuk mempelajari materi tertentu yang telah terbagi atas bagian-bagian kecil yang dirangkaikan secara berurutan demi mencapai suatu tujuan tertentu.

Setiap bagian merupakan suatu mata rantai dan sejumlah mata rantai telah dirangkaikan menurut urutan tertentu yang merupakan suatu program. Program tersebut dikarang oleh suatu tim dan disebarluaskan dalam bentuk tertulis.

Pada setiap mata rantai dalam program siswa mempelajari sendiri uraian tertulis yang singkat dan kemudian memberikan jawaban atas suatu pertanyaan, dan segera mendapat umpan balik. Pelaksanaan pengajaran berprograma dapat mengikuti tiga pola, yaitu:

1. Program Liniar
Dalam rangka pola ini siswa menyelesaikan isi suatu program yang terdiri dari sejumlah mata rantai yang telah diurutkan dalam sekuensi yang pasti dan tidak berubah-ubah.

2. Pola Program Bercabang
Dalam rangka pola ini pada akhir mata rantai disediakan pertanyaan yang berbentuk pilihan ganda. Siswa memilih salah satu alternatif jawaban yang disediakan. Apabila pilihannya tepat, kemudian siswa mengerjakan langkah selanjutnya, tetapi apbila pilihannya salah, siswa disuruh berhenti dan melihat bagian lain dimana disajikan penjelasan tentang jenis kesalahan yang telah dibuat.

Kemudian siswa yang semula salah dalam mengerjakan pertanyaan, mengerjakan ulang soal tersebut dengan membuat pilihan baru.

3. Pola Klasikal
Menurut pola ini semua siswa dalam kelas mempelajari dahulu suatu langkah atau mata rantai dalam buku teks program dan memberikan jawaban atas pertanyaan atau persoalan yang disajikan dalam buku kerja, dan dikerjakan sendiri-sendiri.

Setelah itu, guru bersama-sama siswa membicarakan jawaban yang salah, dan jawaban yang tepat. Jawaban yang salah dikoreksi sesuai dengan jenis kesalahan yang dibuat oleh siswa. Bagi guru tersedia suatu buku pedoman yang memberikan saran-saran untuk perbaikan berbagai kesalahan yang biasanya dibuat.
More aboutPengajaran Berprograma

Sistem Pengajaran Modul

Posted by Budi Wahyono on Thursday, September 4, 2014

Modul merupakan satuan program pembelajaran terkecil yang dipelajari oleh siswa sendiri secara perseorangan atau diajarkan oleh siswa kepada dirinya sendiri (self-instructional). Setelah siswa menyelesaikan satuan yang satu, dia melangkah maju dan mempelajari satuan berikutnya.

Modul pengajaran merupakan suatu paket bahan pelajaran, sebagaimana dikembangkan di Indonesia, merupakan suatu paket bahan pelajaran (learning materials) yang memuat deskripsi tentang tujuan pelajaran yang khas, lembaran petunjuk guru yang menjelaskan cara mengajar yang efisien, bahan bacaan bagi siswa, lembaran kunci jawaban pada kertas kerja siswa, dan alat-alat evaluasi belajar.

Sistem pengajaran modul (SPM) bertujuan pula untuk memperbaiki beberapa kelemahan yang melekat pada Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), sekurang-kurangnya pada pelaksanaannya di banyak sekolah. Kelemahan atau kekurangan yang dimaksud adalah:

1) Dalam PPSI pengembangan satuan program pengajaran terkecil beserta perumusan Tujuan Instruksional Khusus (TIK), diserahkan kepada guru. Kemampuan guru dalam hal ini bervariasi, sehingga boleh jadi tidak semua guru berhasil baik dalam melaksanakan seluruh komponen PPSI secara tepat dan akurat.

Sebaliknya dalam SPM pengembangan satuan program pembelajaran yang terkecil dan perumusan TIK-nya dikerjakan oleh tim khusus yang telah terlatih, sehingga ketepatan dan standarisasinya lebih terjamin.

2) Dalam PPSI perkembangan potensi setiap siswa secara optimal masih kurang terjamin. Sebaliknya dalam SPM setiap siswa mempelajari modul tanpa terlalu tergantung pada guru dan siswa lain, sehingga proses kemajuannya lebih terjamin.

3) Dalam PPSI, evaluasi formatif dilakukan dengan menggunakan pascates yang merupakan bagian terakhir dari setiap satuan bahasan. Rangkaian pertanyaan dalam pascates tersebut disusun dalam kaitannya dengan TIK, dan perumusan TIK diserahkan kepada guru yang memiliki pemahaman dan penafsiran yang berbeda-beda.

Dengan demikian standarisasi dalam pengembangan TIK, pertanyaan dalam tes formatif, bahkan tes sumatif kurang terjamin. Sebaliknya dalam SPM, rumusan TIK, materi satuan pelajaran dan rangkaian pertanyaan dalam tes formatif maupun sumatif telah tersedia beserta kunci jawabannya.
More aboutSistem Pengajaran Modul

Manajemen Likuiditas Bank

Posted by Budi Wahyono on Wednesday, September 3, 2014

Manajemen Likuiditas adalah kemampuan bank dalam menyediakan dana yang cukup untuk memenuhi semua kewajiban-kewajiban maupun komitmen yang telah dilakukan kepada nasabahnya setiap aset.

Secara keseluruhan manajemen likuiditas meliputi pengelolaan atas Reserve Requirement (RR) atau Primary Reserve atau Giro wajib minimum (GWM) sesuai ketentuan Bank Indonesia, Secondary Reserve maupun pembahasan tentang seluruh sumber dan penggunaan dana.

Dalam mengelola likuiditas tersebut dituntut untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut:
  1. Kemampuan untuk memprediksi kebutuhan dana di waktu mendatang 
  2. Mencari sumber-sumber dana untuk mencakup jumlah yang dibutuhkan 
  3. Melakukan penatausahaan dana atau arus dana masuk dan keluar (cash flow)
Oleh karenanya dalam manajemen likuiditas diperlukan adanya keseimbangan antara dua kepentingan dalam pengelolaan likuiditas bank ada risiko yang mungkin timbul antara lain:
  1. Risiko pendanaan (funding risk) 
  2. Risiko bunga (interest risk)
More aboutManajemen Likuiditas Bank

Sistem Belajar Tuntas (Mastery Learning)

Posted by Budi Wahyono on Saturday, August 30, 2014

Sistem Belajar Tuntas merupakan suatu pola pengajaran terstruktur yang bertujuan untuk mengadaptasikan pengajaran kepada kelompok siswa yang besar (pengajaran klasikal), sehingga diberikan perhatian secukupnya pada sejumlah perbedaan yang terdapat diantara siswa, khususnya yang menyangkut kecepatan dalam belajar (rate of progress).

Sistem belajar tuntas diharapkan mampu mengatasi kelemahan yang sering melekat pada pengajaran klasikal. Kelemahan tersebut antara lain hanya siswa yang pandai akan mencapai semua tujuan instruksional, sedangkan siswa yang tidak begitu cerdas hanya mencapai sebagian dari semua tujuan instruksional, bahkan mungkin tidak mencapai apa-apa sama sekali.

Melalui sistem belajar tuntas, diusahakan supaya setiap siswa mencapai semua tujuan instruksional, namun kelompok siswa sebagai satuan pun dapat melaju dalam mempelajari materi pelajaran dengan tempo yang layak dan wajar.

Model belajar ini kemudian dikembangkan oleh Benyamin S. Bloom, menjadi pola atau prosedur pengajaran yang dapat diterapkan dalam memberikan pengajaran kepada satuan kelas. Adapun langkah-langkah operasional yang dapat ditempuh guru dalam menerapkan model belajar tuntas ini adalah sebagai berikut:
  1. Menentukan semua tujuan instruksional yang harus dicapai, baik yang umum maupun khusus
  2. Menjabarkan materi pelajaran atas sejumlah unit pelajar yang dirangkaikan, yang masing-masing dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih dua minggu
  3. Memberikan pelajaran secara klasikal, sesuai dengan unit pelajaran yang sedang dipelajari
  4. Memberikan tes kepada siswa pada akhir masing-masing unit pelajaran untuk mengecek kemajuan masing-masing siswa dalam mengolah materi pelajaran
  5. Kepada siswa yang belum mencapai tingkat penguasaan yang dituntut, diberikan pertolongan khusus misalnya bantuan dari teman sebagai tutor sebaya, mendapat pengajaran dalam kelompok kecil, dan disuruh mempelajari buku pelajaran yang lain
  6. Setelah hampir semua siswa mencapai tingkat penguasaan pada unit pelajaran bersangkutan, barulah guru mulai mengajarkan unit pelajaran berikutnya
  7. Unit pelajaran yang menyusul itu juga diajarkan secara kelompok dan diakhiri dengan memberikan tes formatif bagi unit pelajaran yang bersangkutan
  8. Setelah sebagian besar dari siswa mencapai tingkat keberhasilan yang dituntut, guru memulai mengajarkan unit pelajaran baru secara bersama-sama
  9. Prosedur yang sama diikuti pula dalam mengajarkan unit-unit pelajaran lain, sampai seluruh rangkaian selesai
  10. Setelah seluruh rangkaian unit pelajaran selesai, siswa mengerjakan tes yang mencakup seluruh unit pelajaran. Tes akhir ini bersifat sumatif, yaitu mengevaluasi taraf keberhasilan masing-masing siswa terhadap semua tujuan unit pengajaran khusus. Hasil pada tes sumatif ini digunakan untuk memberikan nilai dalam buku rapor.
More aboutSistem Belajar Tuntas (Mastery Learning)

Tinjauan Tentang Kepemimpinan Situasional

Posted by Budi Wahyono on Thursday, August 28, 2014

Pentingnya kemampuan diagnostik bagi seorang pimpinan dalam aktivitas mempengaruhi dan mengarahkan bawahannya tidak dapat diabaikan. Paul Hersey dan Blanchard dalam Agus Dharma (1990) mengemukakan bahwa:
“Apabila kemampuan dan motif orang-orang yang dibawahinya sangat bervariasi, maka ia harus memiliki kemampuan diagnostik dan kepekaan untuk menginderai berbagai perbedaan itu.”
Dengan kata lain, seorang pimpinan harus memiliki keluwesan dan kemampuan yang diperlukan untuk memvariasikan perilakunya sendiri.

Apabila kebutuhan dan motif bawahannya berbeda-beda, maka mereka harus diperlakukan secara berbeda-beda pula. Oleh karena itu, seorang pimpinan harus mampu mengadaptasi gaya kepemimpinannya sesuai dengan perilaku bawahannya.

Kepemimpinan Situasional menurut Hersey dan Blanchard dalam Agus Dharma (1990) adalah kepemimpinan yang didasarkan pada hubungan antara perilaku tugas, perilaku hubungan dan tingkat kematangan bawahan. Sehingga walaupun terdapat banyak variabel-variabel situasional yang penting lainnya akan tetapi penekanan dalam kepemimpinan situasional ini hanyalah perilaku pemimpin dan bawahannya saja.

Perilaku bawahan ini amat penting untuk mengetahui kepemimpinan situasional, karena bawahan juga dapat menentukan kekuatan pribadi yang dimiliki pimpinan. Adapun penjelasan masing-masing hubungan dalam kepemimpinan situasional tersebut adalah sebagai berikut:

1. Perilaku Tugas
Perilaku tugas ini diartikan sebagai tindakan sejauh mana pimpinan memberikan petunjuk dan pengarahan kepada bawahannya, yaitu dengan memberitahukan kepada bawahan apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukan, kapan melakukan, siapa yang melakukan dan dimana mereka harus melakukannya. Hal ini berarti bahwa pimpinan menyusun tujuan dan menetapkan peranan mereka.

2. Perilaku Hubungan
Perilaku hubungan merupakan tingkatan sejauh mana pimpinan melakukan hubungan dua arah dengan cara mendengarkan dan memberikan dukungan atas pekerjaan yang dilakukan bawahan. Ini berarti pimpinan secara aktif menyimak dan mendukung upaya bawahannya dalam pelaksanaan pekerjaan mereka.

3. Tingkat Kematangan Bawahan (Pegawai)
Kematangan bawahan merupakan besarnya kemampuan dan kemauan bawahan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan situasional didasarkan pada hubungan antara perilaku tugas, perilaku hubungan dan tingkat kematangan bawahan. Dengan kemampuan pimpinan dalam mendiagnosis kematangan bawahan diharapkan seorang pimpinan memiliki keluwesan untuk memvariasikan perilakunya sendiri.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan situasional adalah suatu sikap seorang pimpinan yang harus memiliki keluwesan dan kemampuan yang diperlukan untuk memvariasikan perilakunya sendiri, yang berdasarkan pada hubungan antara perilaku tugas, perilaku hubungan dan tingkat kematangan bawahan.

Kepemimpinan Situasional merupakan salah satu sikap pimpinan perusahaan dalam memberikan arahan agar pegawai mampu mewujudkan tujuan perusahaan tersebut. Dalam perusahaan seorang pimpinan harus mempunyai sikap agar target produksi perusahaan tercapai.
More aboutTinjauan Tentang Kepemimpinan Situasional