Konsep Otonomi Daerah Bidang Pendidikan

Posted by Budi Wahyono on Monday, November 24, 2014

Beberapa teori yang mendasari perlunya otonomi daerah bidang pendidikan, antara lain (1) teori ekonomi neo-liberal, dan (2) teori organisasi.

Jouen, et al  menyatakan bahwa dalam pengelolaan pendidikan perlu mempertimbangkan impact dari teori ekonomi neo-liberal yang mendukung privatisasi sektor publik dan strategi pengelolaan manajemen yang melibatkan semua stakeholder.

Teori ekonomi neo-liberal Nampak sejalan dengan pemberlakukan otonomi daerah bidang pendidikan sebagai jawaban atas centralized system yang selama ini dirasakan kurang efektif dan efisien.

Privatisasi dalam teori ekonomi neo-liberal dapat diartikan bahwa kewenangan dan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan perlu diserahkan kepada pemerintah derah (dan publik) dan bukan lagi didominasi oleh pemerintah pusat.

Teori kedua yang mendasari otonomu daerah bidang pendidikan adalah teori organisasi. Sebagaimana dinyatakan oleh Murphy dalam Phillips  bahwa:
Organizational theory suggest that in decentralization, employees that are responsible for decision and are empoweres to make decisions have more control ever therir work and are accountable for their decisions. The effectiveness of organization is improved because the employee, who deals with and knows the client, can alter the product or service to meet the client’s needs.
Teori ini menekankan bahwa apabila mereka yang bertanggun jawan terhadap pengambilan keputusan (termasuk pemerintah daerah – kabupaten/ kota) diberi kesempatan dan diberdayakan untuk mengambil keputusan dan mengurus kebutuhan mereka, mereka akan lebih accountable dan organisasi tersebut akan lebih efektif, karena mereka lebih tahu program dan kebutuhan mereka sendiri.

Sumber gambar: aryzdhum.wordpress.com
Dalam konteks organisasi kependidikan, jika pengambilan keputusan hanya dilakukan oleh para pimpinan (pemerintah pusat) pada umumnya tidak akan efektif dan efisien karena pemerintah pusat belum tentu mengetahui kebutuhan dan permasalahan pendidikan yang ada di daerah dan sekolah, sehingga seringkali kebijakan dan program yang ditetapkan tidak tepat waktu dan tidak tepat sasaran.

Teori organisasi ini menekankan perlunya pengambilan keputusan secara partisipatif, dan sejalan dengan otonomi daerah bidang pendidikan yang memberikan kewenangan dan tanggung jawab kepada pemerintah daerah, dengan harapan akan mampu meningkatkan kualitas layanan pendidikan kepada publik.

Sumber:
Baedhowi. 2009. Kebijakan Otonomi Daerah Bidang Pendidikan: Konsep Dasar dan Implementasi. Semarang: Pelita Insani.
More aboutKonsep Otonomi Daerah Bidang Pendidikan

Pengertian Pembimbingan (Directing)

Posted by Budi Wahyono on Sunday, November 23, 2014

Ada beberapa istilah yang dapat digunakan untuk menggantikan fungsi ini antara lain actuating, commanding, motivating, dan lain sebagainya.

Perwujudan dari kegiatan yang dikonotasikan dengan berbagai istilah yang mungkin sangat bersifat asasi ini, pada umumnya mengakui bahwa manifestasi dai aktivitas itu meliputi serangkaian proses kegiatan untuk menggerakkan, membimbing, mengarahkan, dan memberi motivasi kepada orang-orang dalam organisasi (terutama pelaksana) untuk mengelola alat-alat dan fasilitas yang ada ke arah usaha pencapaian tujuan yang telah ditentukan.

Di dalam karya ini, unuk mengungkapkan kegiatan-kegiatan fungsi ketiga manajemen itu dengan menggunakan istilah pembimbingan (directing), yang dapat didefinisikan sebagai keseluruhan kegiatan untuk membei peintah, membimbing, mengarahkan, dan memberi dorongan kepada para bawahan agar mereka tahu, mau, dan suka bekerja demi tercapainya tujuan organisasi.

Jelas bahwa sasaran fungsi ini adalah untuk menimbulkan kemauan kesukaan, dan membuat agar mereka tahu bekerja dan atau mau suka menjalankan tugas pekerjaannya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Umumnya mereka mau dan suka bekerja apabila mereka mengerti dengan sadar akan alasan-alasan maupun tujuan dari pada pekerjaan dipertanggungjawabkan kepadanya. Untuk menimbulkan kemauan dan kesukaan, mereka diberi pengertian dan kesadaran akan alasan-alasan dari pada pekerjaan yang mereka akan lakukan.

Sumber gambar: ent-nts.ca
Tugas semacam ini lazim disebut tugas untuk memberi dorongan lihat atau motivating. Dan mereka agar tahu pekerjaan, mereka harus dibimbing dan diarahkan pada pekerjaan tersebut. Tugas untuk membimbing disebut "leading", dan tugas untuk memberi pengarahan lazim disebut dengan istilah "directing. "

Jadi fungsi pembimbingan itu, di dalamnya harus bersenyawa unsur-unsur yang meliputi:  
  1. Memeintah orang-orang (actuating)  
  2. Membimbing atau memimpin (leading) 
  3. Mengarahkan kegiatan (directing) 
  4. Memberi dorongan (motivating)
Unsur yang pertama, merupakan kegiatan untuk memberikan komando atau instruksi kepada orang-orang agar mereka bekerja/melakukan tugasnya. Yang kedua, merupakan kegiatan untuk memberi contoh-contoh atau teladan, teknik, dan metode kerja untuk anak buahnya. Sedang unsur yang ketiga, berupa kegiatan untuk mengarahkan orang-orang dengan jalan memberikan petunjuk-petunjuk atau kebijaksanaan yang benar, jelas, dan tegas.

Adapun yang terakhir, berupa kegiatan untuk memberikan pengertian kepada orang-orang agar mengerti motif-motif, alasan-alasan yang mendorong timbulnya kemauan untuk bekerja dengan baik.

Sumber:
Dr. Hery Sawiji, M.Pd. (Dosen S-1 dan S-2 Pendidikan Ekonomi FKIP UNS)
Dalam bukunya yang berjudul “Fungsi Manajemen”
More aboutPengertian Pembimbingan (Directing)

Peran dan Literasi Visual dalam Pembelajaran

Posted by Budi Wahyono on Friday, November 14, 2014

Peran Visual dalam Pembelajaran
Salah satu peranan visual dalam pembelajaran adalah sebagai sarana untuk menyediakan atau memberikan refensi yang konkret tentang sebuah ide, kata-kata tidak dapat mewakili dan menyuarakan benda karena visual bersifat iconic (tanpa kata sudah menunjukan arti), oleh karena itu setiap kata memiliki kesamaan dengan benda yang di rujuk. 

Beberapa manfaat visual dalam pembelajaran antara lain visual dapat memotivasi peserta didik dengan cara menarik perhatian mereka, mempertahankan perhatian serta mendapatkan respon-respon emosional.

Selain itu visual juga dapat menyederhanakan informasi yang sulit untuk di jelaskan dengan kata-kata, dengan kata lain , peranan visual dalam pembelajaran termasuk penting untuk mendukung informasi tertulis dan informasi lisan.

Literasi Visual
Literasi visual merupakan kemampuan belajar untuk menafsirkan pesan visual secara akurat dan untuk membuat pesan tersebut.

Pendekatan utama dalam dalam pengembangan literasi visual antara lain:
  1. Strategi input: membantu peserta didik untuk memecahkan kode, atau “membaca” visual secara mahir dengan mempraktekan keterampilan analisis visual. (Misalnya, melalui analisis gambar dan diskusi film dan program video). 
  2. Strategi output: membantu peserta didik untuk mengkodekan, atau "menulis'', visual, untuk mengekspresikan diri mereka dan berkomunikasi dengan orang lain. (Misalnya, melalui perencanaan dan memproduksi presentasi foto dan video)
Sumber gambar: ardansirodjuddin.wordpress.com
Decoding: Menafsirkan Visual
Dengan melihat sebuah tampilan secara visual tidak secara otomatis menjamin bahwa peserta didik akan belajar dari tampilan tersebut. Peserta didik harus dibimbing untuk dapat mewakili pemikiran yang jelas dan benar tentang penampilan visual tersebut. Salah satu aspek dari literasi visual adalah keterampilan menafsirkan dan menciptakan makna dari rangsangan di sekitarnya.
  1. Efek Perkembangan - Banyak variabel yang mempengaruhi peserta didik untuk  dapat memaknai  sebuah tampilan visual.
  2. Efek Budaya - Dalam mengajar, harus disadari bahwa kemampuan peserta didik untuk menginterprestasikan sebuah tampilan visual dapat diperbarui oleh latar belakang kebudayaan 
  3. Preferensi Visual - Dalam memilih visual, guru harus membuat pilihan yang tepat antara macam visual yang disukai dan yang paling efektif.
Encoding: Menciptakan visual
Aspek literasi visual adalah penciptaan peserta didik melalui presentasi visual. Sama seperti menulis dapat memacu membaca, memproduksi media bisa sangat efektif dalam memahami media.

Literasi Visual dalam Pendidikan
Program pendidikan literasi visual dirancang untuk anak-anak dari prasekolah sampai sekolah tinggi dan mencakup baik encoding dan decoding dari informasi visual di semua media. Guru didorong untuk berpikir secara visual dan untuk memusatkan perhatian siswa pada aspek visual buku teks dan buku cerita saat membaca. Produksi media, desain komputer, dan keterampilan berpikir kritis dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk bekerja dan berhasil.
More aboutPeran dan Literasi Visual dalam Pembelajaran

Perspektif Konstruktivistik tentang Pembelajaran

Posted by Budi Wahyono on Wednesday, November 5, 2014

Konstruktivistik adalah gerakan lanjutan dari Perspektif Kognitif. Perspektif ini mempertimbangkan keterlibatan siswa dalam pengalaman bermakna sebagai esensi dari pembelajaran experiental.

Pergeseran ini adalah dari pengalihan informasi secara pasif untuk aktif memecahkan masalah dan menemukan.

Konstruktivistik menekankan bahwa peserta didik membuat interpretasi dari informasi mereka sendiri. Konstruktivistik membedakan perspektifnya dengan behavioristik atau kognitif, yang percaya bahwa pikiran dapat "dipetakan" oleh pengajar.

Konstruktivistik berpendapat bahwa siswa menempatkan pengalaman belajar dalam pengalaman mereka sendiri dan bahwa tujuan pengajaran bukan untuk mengajarkan informasi tetapi menciptakan situasi sehingga siswa dapat menginterpretasikan informasi untuk pemahaman mereka sendiri.

Peran pengajar tidak untuk mengeluarkan fakta-fakta tetapi untuk memberikan siswa cara-cara dalam mengumpulkan pengetahuan. Para konstruktivistik percaya pembelajaran paling efektif terjadi ketika siswa terlibat dalam tugas-tugas otentik yang berhubungan dengan konteks yang bermakna – belajar dengan melakukan (learning by doing).

Sumber gambar: liveseysolar.com
Ukuran utama pembelajaran adalah berdasarkan kemampuan siswa untuk menggunakan pengetahuan untuk memfasilitasi berpikir dalam kehidupan nyata.
More aboutPerspektif Konstruktivistik tentang Pembelajaran

Perspektif Kognitif tentang Pembelajaran

Posted by Budi Wahyono

Selain Perspektif Behavioristik, terdapat pula Perspektif Kognitif tentang Pembelajaran. Pada paruh kedua abad 20, kognitif memberikan sumbangan untuk teori pembelajaran dan desain instruksional dengan menciptakan model bagaimana peserta didik menerima, memproses, dan mengubah informasi.

Kognitif didasarkan pada karya psikolog Swiss, Jean Piaget (1977). Psikolog kognitif menjelajahi proses mental individu yang digunakan dalam menanggapi lingkungan mereka.

Kognitif berkaitan dengan bagaimana orang berpikir, memecahkan masalah, dan membuat keputusan. Misalnya, behavioristik hanya menyatakan bahwa praktek memperkuat respons terhadap stimulus.

Kognitif membuat model mental memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Informasi baru disimpan dalam memori jangka pendek, di mana ia "dilatih" sampai siap untuk disimpan dalam memori jangka panjang. Jika informasi tidak dilatih, ia menghilang dari memori jangka pendek.

Peserta didik kemudian menggabungkan informasi dan keterampilan dalam memori jangka panjang untuk mengembangkan strategi kognitif, atau keterampilan untuk menghadapi tugas yang kompleks.

Jean Piaget - Sumber gambar: www.biography.com
Kognitif memiliki persepsi pembelajaran yang lebih luas daripada persepsi behavioristik: Siswa tidak selalu bergantung pada bimbingan guru dan lebih mengandalkan strategi kognitif mereka sendiri dalam menggunakan sumber belajar yang tersedia.
More aboutPerspektif Kognitif tentang Pembelajaran