Friday, June 26, 2015

Penggolongan Pengecer (Retailer) Berdasarkan Banyaknya Product Line

By With No comments:
Pada artikel yang lalu, kita telah membahas mengenai Penggolongan Pengecer (Retailer) berdasarkan Ukuran Tokonya. Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel tersebut, yaitu membahas tentang Penggolongan Pengecer (Retailer) Berdasarkan Banyaknya Product Line.

Sekilas tentang Pengertian Product Line
Product line adalah sekelompok barang-barang yang pada pokoknya cenderung mempunyai tujuan penggunaan sama dan memiliki karakteristik secara fisik yang hampir sama.

Contoh:
Bagi toko serba ada, sepatu dan sandal merupakan satu product line, demikian pula untuk alat-alat olahraga, pakaian jadi, dsb. Bagi toko sepatu, sepatu pria adalah satu product line, sepatu wanita juga satu product line.

Menurut banyaknya product line, pengecer (retailer) dapat digolongkan menjadi tiga bentuk, yaitu: 1) general merchandise store, 2) single-line store dan 3) specialty store.

1. General Merchandise Store
General merchandise store adalah sebuah toko yang menjual berbagai macam barang atau berbagai macam product line. Jenis toko yang dapat dimasukkan ke dalam general merchandise store ini adalah toko serba ada (department store).

Barang-barang yang dijual antara lain berupa: alat-alat olahraga, pakaian jadi, sepatu, alat-alat listrik, alat-alat rumah tangga, kosmetik, alat-alat tulis, dan sebagainya.

Penggolongan Pengecer (Retailer) Berdasarkan Banyaknya Product Line
Contoh Department Store via wikimedia.org
2. Single-Line Store
Penggolongan ini dihubungkan dengan kelompok barang-barang yang dijual (jenis product line-nya). Termasuk ke dalam jenis ini antara lain: toko makanan, toko mebel, toko bahan-bahan bangunan, toko alat-alat olahraga, toko kain, dan sebagainya.

Ada juga yang menggolongkannya ke dalam toko barang-barang untuk wanita dan toko barang-barang untuk pria. Jadi, mereka hanya menjual product line tunggal.

3. Specialty Store
Di sini barang yang dijualnya lebih terbatas, hanya meliputi sebagian dari product line saja (barang konvenien atau barang shopping* saja). Misalnya toko tembakau, toko roti, toko sepatu pria, dan sebagainya. Jadi, specialty store ini tidak selalu menjual barang spesial saja, tetapi juga yang lain.

* Pengertian Barang Shopping dan Konvenien
Barang Shopping adalah barang yang harus dibeli dengan mencari dahulu dan dalam membelinya harus dengan pertimbangan masak-masak (misalnya dengan membandingkan mutu, harga, kemasarn, dsb). Contoh: tekstil, perabot rumah tangga, dsb.

Barang Konvenien adalah barang yang mudah dipakai, membelinya dapat di sembarang toko, dan pada setiap waktu. Contoh: rokok, sabun, pasta gigi, dsb.

Referensi:
Basu Swastha. 2002. Azas-azas Marketing. Yogyakarta: Liberty.

Wednesday, June 24, 2015

Slide Materi: Perusahaan dalam Pasar Monopoli

By With No comments:
Pasar Monopoli merupakan salah satu jenis pasar yang hanya terdapat satu perusahaan yang menguasai pasar. Sehingga, perusahaan tersebut disebut sebagai pembuat harga (price maker) tidak ada persaingan dalam pasar monopoli, atau kalaupun ada persaingan, persaingannya sangat kecil.

Meskipun secara teori perusahaan monopoli bebas menentukan harga, namun tidak bisa seenaknya sendiri dalam menentukan harga tersebut. Karena apabila menentukan harga yang terlalu tinggi konsumen tidak akan mau membeli produk tersebut, dan akan menyebabkan perusahaan lain mudah memasuki struktur pasar

Contoh:
Microsoft adalah perusahaan monopoli untuk sistem operasi. Produknya yang bernawa Windows menguasai pasar sistem operasi di dunia. Namun, Microsoft tidak menentukan harga seenaknya sendiri atau tidak menentukan harga yang sangat tinggi.

Karena kalau Microsoft menentukan harga yang sangat tinggi akan menyebabkan banyak konsumen beralih ke sistem operasi lain, seperti linux. Selain itu, hal ini juga dapat menyebabkan praktik pembajakan produk Microsoft oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Kelanjutan materi ini kami tampilkan dalam screenshot powerpoint berikut ini:

Slide Materi: Perusahaan dalam Pasar Monopoli

Slide Materi: Perusahaan dalam Pasar Monopoli

Slide Materi: Perusahaan dalam Pasar Monopoli

Slide Materi: Perusahaan dalam Pasar Monopoli

Slide Materi: Perusahaan dalam Pasar Monopoli

Kalau anda berminat dengan slide powerpoint tersebut, silakan kirim permintaan ke iro.maruto@gmai.com (FREE)

Model Pembelajaran Efektif, Inovatif dan Interaktif: Picture and Picture

By With No comments:
Salah satu model pembelajaran efektif yang menggunakan media gambar, selain Examples non Examples adalah Picture and Picture. Sesuai dengan namanya, media utama dalam model pembelajaran ini adalah gambar (picture).

Seperti halnya Model Pembelajaran Examples non Examples, model pembelajaran Picture and Picture ini juga dapat digunakan untuk mendorong peserta didik untuk berpikir kritis terhadap contoh yang ditampilkan oleh guru.

Sehingga, dapat mendukung proses pembelajaran saintifik dalam Kurikulum 2013 (meskipun memang jenis model pembelajarannya tidak disertakan dalam RPP). Namun demikian, model pembelajaran ini juga bisa digunakan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan dimasukkan dalam RPP tentunya.

Yang membedakan dengan Examples non Examples adalah bahwa dalam Picture and Picture, gambarnya sudah dalam bentuk cetak (print out). Kemudian peserta didik diminta untuk mengurutkan gambar secara logis.

Untuk lebih sistematis dan detailnya, berikut kami sajikan tahap-tahap implementasi Model Pembelajaran Picture and Picture ini.
  1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
  2. Kemudian guru menyajikan materi sebagai pengantar
  3. Langkah selanjutnya guru menunjukkan beberapa gambar yang tentunya berkaitan dengan materi pembelajaran
  4. Guru menunjuk/memanggil peserta didik secara bergantian untuk memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
  5. Selanjutnya guru menanyakan alasan/dasar pemikiran dari urutan gambar yang disusun tersebut
  6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
  7. Kesimpulan
Sebagai penjelas, berikut kami sajikan contohnya:
Misalkan dalam mata kuliah pengantar ilmu ekonomi yang tengah membahas permintaan dan penawaran. Dosen mata kuliah tersebut menggunakan Model Pembelajaran Picture and Picture, dan menampilkan beberapa gambar, diantaranya sebagai berikut:

Model Pembelajaran Efektif, Inovatif dan Interaktif: Picture and Picture

Terdapat tiga gambar yang ditampilkan dosen dalam sub bab pergeseran kurva permintaan. Kemudian peserta didik ditunjuk untuk menyusun gambar tersebut dengan urutan yang logis. Peserta didik juga diminta memberikan alasan dari urutan tersebut.

Urutan yang benar untuk gambar tersebut di atas adalah 2-3-1
Diawali dari peningkatan pendapatan oleh konsumen yang mengakibatkan menigkatnya tingkat permintaan konsumen atas suatu produk tertentu. Peningkatan permintaan ini menyebabkan kurva permintaan bergeser ke kanan.

Materi tentang Pergerakan dan Pergeseran Permintaan bisa dibaca di sini!

Untuk sub bab lain, kita bisa menggunakan gambar lain yang sesuai. Jadi gambar yang disediakan memang cukup banyak. Tapi hal itu tidak menjadi masalah apabila hasilnya nanti sesuai dengan tujua pembelajaran.

Demikian sedikit penjelasan tentang Model Pembelajaran Picture and Picture, semoga bermanfaat.

Monday, June 22, 2015

Model Pembelajaran Efektif, Inovatif dan Interaktif: Examples non Examples

By With No comments:
Seorang guru harus mampu menggunakan model pembelajaran yang bervariasi agar keefektivan proses pembelajaran di dalam kelas bisa diwujudkan. Selama ini, model pembelajaran yang diterapkan oleh mayoritas guru adalah ceramah.

Bukan berarti model pembelajaran ceramah itu jadul, kurang efektif, ketinggalan zaman, atau yang lain tetapi apabila hanya model pembelajaran ceramah saja yang dipakai tentunya hal tersebut akan kurang efektif dan dapat menimbulkan kejenuhan pada peserta didik.

Terdapat berbagai macam model pembelajaran yang efektif, inovatif dan interaktif yang dapat digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Salah satu model pembelajaran tersebut adalah Examples non Examples.

Model Pembelajaran Examples non Examples merupakan sebuah model pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media penyampaian materi, kemudian melalui gambar tersebut peserta didik diminta untuk menganalisis permasalahan-permasalahan yang terkandung dalam gambar tersebut.

Model Examples non Examples ini bisa mendorong peserta didik untuk berpikir kritis terhadap contoh yang ditampilkan oleh guru. Selain itu, model pembelajaran Examples non Examples ini juga mendukung proses pembelajaran saintifik dalam Kurikulum 2013 (meskipun memang jenis model pembelajarannya tidak disertakan dalam RPP).

Dalam praktiknya, saya sering menggunakan model pembelajaran ini ketika mengampu beberapa mata kuliah. Dalam perkembangannya saya tidak hanya menggunakan gambar sebagai media pembelajarannya, tetapi saya juga memasukkan video, karena sejauh ini, tampilan video lebih menarik untuk peserta didik.

Model Pembelajaran Efektif, Inovatif dan Interaktif: Examples non Examples
Proses Pembelajaran via hnschool.blogspot.com
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa gambar atau video yang ditampilkan benar-benar relevan dengan materi yang akan disampaikan, karena terkadang sulit mencari gambar atau video yang sesuai dengan materi di google.com atau youtube.com. Solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan membuat gambar atau video sendiri tentunya.

Kemudian yang kedua, apabila anda memilih video sebagai media pembelajaran, usahakan durasi videonya tidak terlalu panjang (4-5 menit saja cukup). Apabila video yang anda download dari youtube.com memiliki durasi yang panjang, bisa anda potong dengan software Ulead Video Studio atau software lain (gunakan hanya bagian video yang relevan dengan materi pembelajaran).

Terdapat beberapa langkah dalam menerapkan Model Pembelajaran Examples non Examples ini (saya kira sudah banyak blogwebsite yang menampilkan langkah-langkah ini). Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Guru mempersiapkan gambar-gambar (atau video) sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran. Anda bisa mencari via google.com atau youtube.com (untuk video).
  2. Guru menampilkan gambar atau video yang sudah di-download melalui slide Ms. Powerpoint dan LCD
  3. Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok (satu kelompok terdiri dari 2-3 peserta didik)
  4. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada kelompok peserta didik untuk memperhatikan dan menganalisa gambar atau video yang ditampilkan
  5. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang peserta didik, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
  6. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya (kalau tidak memungkinkan bisa perwakilan beberapa kelompok)
  7. Dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
  8. Kesimpulan oleh guru
Demikianlah sedikit penjelasan tentang Model Pembelajaran Examples non Examples. Semoga bermanfaat dan bisa anda implementasikan dalam proses pembelajaran di dalam kelas.

Friday, June 19, 2015

Penggolongan Pengecer (Retailer) Berdasarkan Ukuran Toko

By With No comments:
Pengecer (retailer) dapat digolongkan berdasarkan beberapa faktor berikut: 1) ukuran toko, 2) banyaknya product line, 3) lokasi geografis, 4) bentuk pemilikan, dan 5) metode operasinya. Dalam artikel ini kita akan membahas penggolongan pengecer berdasarkan ukuran tokonya.

Untuk mengetahui ukuran toko dapatlah dilihat volume penjualannya, sehingga masing-masing pengecer mempunyai ukuran yang berbeda-beda dengan masalah-masalah manajemen yang berbeda pula.

Kegiatan-kegiatan seperti promosi, pembelanjaan, pembelian, personalia, dan pengawasan biaya dipengaruhi oleh besaran volume penjualan toko tersebut.

Berdasarkan ukuran tokonya, pengecer digolongkan menjadi dua jenis, yaitu:
  1. Pengecer kecil (small scale retailer)
  2. Pengecer besar (large scale retailer)
Posisi persaingan diantara kedua pengecer tersebut dapat dinilai menurut faktor-faktor sebagai berikut:
1. Pembagian Tenaga Kerjanya
Dalam hal ini pengecer besar lebih mampu mempekerjakan tenaga spesialis misalnya untuk bagian pembelian, promosi dan akuntansi. Sedangkan pada pengecer kecil tidaklah demikian. Hal ini disebabkan oleh tersedianya dana yang lebih kecil.

Penggolongan Pengecer (Retailer) Berdasarkan Ukuran Toko
Contoh Pengecer Besar via molon.de
2. Fleksibilitas Operasinya
Pada umumnya, toko-toko kecil menjalankan praktik manajemen yang lebih fleksibel dibandingkan dengan toko-toko besar. Disamping jumlah tenaga kerjanya yang lebih sedikit, juga beberapa fungsi dipegang oleh satu orang (pimpinan).

3. Daya Beli
Pengecer besar memiliki daya beli yang lebih besar dibandingkan dengan pengecer kecil. Semakin besar daya beli mereka, semakin besar pula jumlah yang mungkin mereka beli, sehingga dapat memperoleh potongan yang lebih besar dalam pembelian barang yang akan dijualnya.

Penggolongan Pengecer (Retailer) Berdasarkan Ukuran Toko
Contoh Pengecer Kecil via bisnisukm.com
4. Periklanan
Dalam hal periklanan, toko-toko besar dapat menggunakannya secara lebih efektif dibandingkan dengan toko-toko kecil.

5. Merk Pengecer
Pengecer besar mempunyai posisi yang lebih baik dalam mengembangkan dan mempertahankan merk-nya.

6. Kemampuan Keuangan
Biasanya pengecer besar mempunyai posisi keuangan yang lebih baik. Mereka lebih mudah dalam memperoleh dana dari pemilik (penanam modal) atau kreditur. Karena posisi keuangannya kuat maka memungkinkan bagi mereka untuk memberikan potongan tunai kepada pembeli. Selain itu, mereka juga akan memperoleh kepercayaan dalam penyaluran barang dari produsen.

7. Integrasi Horizontal dan Vertikal
Kadang-kadang dapat terjadi bahwa fungsi perdagangan besar dilakukan juga oleh pengecer besar; bahkan kegiatan pemasaran produsen dapat dilakukannya. Hal ini akan menimbulkan adanya integrasi vertikal. Jika pengecer besar tersebut mejual barang yang dihasilkan oleh beberapa produsen dengan merk yang berbeda-beda, maka akan terjadi integrasi horizontal.

8. Biaya Operasi
Secara umum, pengecer besar mempunyai perbandingan biaya operasi yang lebih besar daripada pengecer kecil. Pengecer besar juga mempunyai persentase yang lebih besar dalam biaya-biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja selain penjual.

9. Pengujian, Inovasi dan Riset Pemasaran
Karena mempunyai kemampuan keuangan yang lebih besar, maka  pengecer besar lebih mampu mengadakan pengujian barang, inovasi dan riset pemasaran.

10. Pertimbangan Hukum
Dari segi hukum, sering pengecer tidak dapat secara bebas menentukan harga jual eceran barang hasil produsennya. Hal ini disebabkan karena adanya suatu peraturan atau perjanjian yang menetapkan harga minimum pada tingkat pengecer.

Sumber:
Basu Swastha. 2002. Azas-azas Marketing. Yogyakarta: Liberty.

Sunday, June 14, 2015

Perumusan Fungsi Manajemen Oleh Para Ahli

By With No comments:
Fungsi Manajemen adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh manajer dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai pejabat manajemen, baik pejabat manajemen pada tingkat atas, tingkat menengah, ataupun tingkat bawah terlepas dari organisasi besar atau kecil.

Jadi fungsi itu merupakan kegiatan yang pasti dilakukan dalam keadaan apa saja, dan oleh siapa saja yang mempunyai predikat manajer. Hal ini kiranya tidaklah mengherankan, karena bagaimanapun sifat tujuan yang hendak dicapai organisasi, corak kegiatan manajemen itu pasti ada.

Namun walaupun demikian, skala kawasan dari masing-masing level manajemen itu berbeda satu sama lain. Misalnya pada tingkat atas manajemen itu bersifat menyeluruh dan berlaku bagi seluruh organisasi, pada tingkat menengah fungsi itu bersifat departemental, dan pada tingkat bawah fungsi itu bersifat pengawasan (supervision).

Tentang perumusan fungsi manajemen, di kalangan para teoretisi, para sarjana sampai dewasa ini belum ditemukan kata sepakat, terbukti banyak ditemukannya berbagai perumusan-perumusan atau ungkapan-ungkapan dengan istilah yang bermacam-macam.

Keanekaragaman istilah-istilah atau ungkapan-ungkapan kiranya bermanfaat pula bagi perkembangan ilmu pengetahuan manajemen pada waktu-waktu mendatang. Sebab pada hakikatnya, perbedaan pendapat dan tidak adanya kesatuan pola berfikir bukanlah factor penghalang terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Beberapa perumusan fungsi manajemen yang dimaksudkan di atas yang banyak menghiasi karya-karya dalam bidang ini misalnya:

Menurut GR Terry, dalam bukunya yang berjudul Principle of Management mengemukakan klasifikasi fungsi manajemen itu menjadi 4 jenis, yaitu:
1. Planning
2. Organizing
3. Actuating
4. Controlling

Menurut Harold Koont & CO Donnel dalam bukunya yang berjudul Principle of Management mengemukakan fungsi manajemen sebagai beikut:
1. Planning
2. Organizing
3. Staffing
4. Directing
5. Controlling
Perumusan Fungsi Manajemen Oleh Para Ahli
Fungsi Manajemen via usercontent2.hubimg.com
Menurut Henry Fayol, fungsi-fungsi manajemen itu meliputi:
1. Planning
2. Organizing
3. Commanding
4. Coordinating
5. Controlling

Menurut Luther M. Gullick, fungsi-fungsi manajemen itu meliputi:
1. Planning
2. Organizing
3. Staffing
4. Directing
5. Coordinating
6. Reporting
7. Budgeting

Menurut SP. Siagian, MPA dalam bukunya yang berjudul "Filsafat Administrasi", merumuskan fungsi-fungsi manajemen menjadi:
1. Planning
2. Organizing
3. Motivating
4. Controlling
5. Evaluating

Menurut Drs. The Liang Gie dalam bukunya yang berjudul "Pengertian, Kedudukan, dan Peincian Ilmu Administrasi", merumuskan fungsi-fungsi manajemen itu menjadi:
1. Perencanaan
2. Pembuatan keputusan
3. Pengarahan
4. Pengkoordinasian
5. Pengontrolan
6. Penyempurnaan

Menurut Parikesit Cokroprawiro dalam bukunya yang berjudul "ABC Management", merumuskan fungsi-fungsi manajemen menjadi:
1. Research
2. Planning
3. Organizing
4. Staffing
5. Directing
6. Controlling

Setelah mengadakan analisa seperlunya dari berbagai perumusan fungsi manajemen sebagaimana dikemukakan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa pada prinsipnya terdapat persamaan pemikiran terhadap masalah dan batasan ruang lingkup yang dikemukakan.

Hanya saja beliau-beliau mengemukakan dengan ungkapan-ungkapan yang berbeda-beda. Dari berbagai klasifikasi yang dibuat tampaknya tidak terdapat perbedaan yang prinsipiil. Jadi semata-mata hanya karena mereka melihat dari posisi, kondisi, dan situasi yang berlainan, ataupun dengan kaca mata yang tidak sama.

Ibarat orang menempuh  jarak, walaupun jarak yang ditempuh itu sama, tetapi karena mereka itu mempunyai kondisi yang berbeda, maka tidaklah mustahil kalau pos-pos yang dibuat merekapun juga tidak sama.

Sumber:
Dr. Hery Sawiji, M.Pd. dalam bukunya “Fungsi Manajemen”

Friday, June 12, 2015

Strategi Penetapan Harga Produk dalam Hubungannya dengan Pasar

By With No comments:
Pada umumnya, harga suatu barang ditentukan oleh biaya produksi dari barang tersebut. Namun, di sini Strategi Penetapan Harga tidak didasarkan pada biaya, tetapi justru harga yang menentukan biaya dari perusahaan.

Penjual dapat menentukan harga sama dengan tingkat harga pasar agar dapat ikut dalam persaingan, atau dapat pula ditentukan lebih tinggi atau lebih rendah dari tingkat harga dalam persaingan.

Penetapan Harga Sama dengan Harga Saingan
Sering dijumpai adanya penjual yang menetapkan harga sama dengan harga saingannya. Cara seperti ini akan lebih menguntungkan jika dipakai pada saat harga dalam persaingan itu tinggi. Biasanya penjual menggunakan cara tersebut untuk barang-barang standard.

Penetapan Harga Di Bawah Harga Saingan
Metode ini biasanya digunakan oleh para pengecer (retailler) dan perusahaan sering tidak mengetahui adanya praktik-praktik tersebut. Mereka mempunyai suatu prinsip bahwa mark-up yang lebih rendah akan menghasilkna volume penjualan yang lebih tinggi.

Strategi Penetapan Harga Produk dalam Hubungannya dengan Pasar
Perbedaan Harga via brooksgroup.com
Mereka juga berpendapat bahwa nama baik produsen ikut membawa nama baik pengecer. Penetapan harga di bawah harga saingan ini juga merupakan sauatu cara yang baik bagi perusahaan untuk memasuki pasar yang baru. Oleh karena itu, banyak pengecer menggunakan metode tersebut untuk barang-barang yang permintaannya elastis.

Penetapan Harga Di Atas Harga Saingan
Kadang-kadang produsen dan pengecer menetapkan harga produknya di atas tingkat harga pasar. Metode ini hanya sesuai digunakan oleh perusahaan yang sudah mempunyai reputasi atau perusahaan yang menghasilkan barang-barang prestise.

Hal ini disebabkan karena konsumen kurang memperhatikan harga dalam pembeliannya, tetapi mereka lebih mengutamakan kualitas atau faktor prestise yang akan diperolehnya dari barang tersebut.

Sumber:
Basu Swastha. 2002. Azas-azas Marketing. Yogyakarta: Liberty.

Tuesday, June 9, 2015

Dasar-dasar Ekonomi yang Dipakai dalam Perdagangan Eceran (Ritel)

By With No comments:
Tidaklah sulit bagi seseorang untuk menjalankan kegiatan perdagangan eceran ini, dan untuk berhenti pun juga mudah. Besarnya jasa yang ditawarkan oleh seorang pengecer dapat mempengaruhi keadaan sosial dan ekonominya.

Seorang pengecer dapat lebih maju dalam usahanya apabila ia mau bekerja lebih baik dibandingkan dengan pesaingnya dalam melayani konsumen.

Pelayanan kepada konsumen harus diutamakan karena merupakan tanggung jawab primer, sedangkan tanggung jawab sekundernya adalah melayani pedagang besar dan/atau produsen.

Pada pokonya, fungsi pengecer adalah memberikan pelayanan kepada konsumen agar pembeliannya dilakukan dengan cara yang semudah mungkin. Pengecer juga bertanggung jawab menyediakan berbagai macam barang yang baik dengan harga layak.

Adapun fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh pengecer (retailer) adalah sebagai berkut:
  1. Pengangkutan
  2. Penyimpanan
  3. Pembelanjaan
Pengangkutan dan penyimpanan merupakan fungsi yang dilakukan oleh pengecer untuk menyediakan barang-barang secara cepat bilamana dibutuhkan oleh konsumen. Jadi, dalam kaitannya dengan fungsi-fungsi tersebut terdapat usaha-usaha untuk menciptakan faedah waktu (time utility) dan faedah tempat (place utility).

Sedangkan fungsi pembelanjaan dapat dilakukan dengan menawarkan pembayaran secara kredit kepada konsumen.

Dasar-dasar Ekonomi yang Dipakai dalam Perdagangan Eceran (Ritel)
Ilustrasi usaha Ritel via ipvis.com
Sebagai penjual, pengecer ini memberikan saluran bagi produsen dan pedagang besar dalam usahanya untuk mendekati konsumen. Tidak jarang pula mereka ikut melakukan kegiatan periklanan, promosi penjualan, maupun personal selling untuk membantu penyaluran barang-barang produsen.

Mereka juga dapat bertindak sebagai orang yang memberikan informasi tentang konsumen kepada produsennya. Informasi tersebut terutama berupa keinginan dan kebutuhan konsumen, sehingga dapat diperkirakan tentang jenis dan jumlah permintaannya.

Mereka juga ikut membagi-bagi barang yang dihasilkan oleh produsen ke dalam jumlah dan pak yang lebih kecil sesuai dengan permintaan konsumen, disamping pula membantu dalam penyortiran barang yang dijualnya. Sehingga mereka kadang-kadang harus menanggung risiko yang diakibatkan oleh musim.

Jadi, secara terperinci fungsi-fungsi yang dilakukan oleh pengecer (retailer) selain pengangkutan, penyimpanan dan pembelanjaan adalah sebagai berikut:
  • Mencari konsumen
  • Menjalankan kegiatan promosi
  • Memberikan informasi
  • Melakukan pengepakan atau pembungkusan
  • Mengadakan pernyortiran
Sumber:
Basu Swastha. 2002. Azas-azas Markerting. Yogyakarta: Liberty.

Monday, June 8, 2015

Slide Materi: Perusahaan dalam Pasar Kompetitif (Pasar Persaingan Sempurna)

By With No comments:
Pasar Kompetitif atau yang lebih dikenal dengan nama Pasar Persaingan Sempurna merupakan struktur pasar dimana terdapat banyak penjual dan pembeli, barang yang dijual sama dan penjual sebagai pengambil harga (price taker).

Pengertian yang kami sampaikan ini sejalan dengan pendapat Mankiw (2012) bahwa Pasar Kompetitif atau Pasar Persaingan Sempurna adalah “a market with many buyers and sellers trading identical products so that each buyer and seller is a price taker”.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat diketahui bahwa terdapat 2 karakteristik pokok dari Pasar Persaingan Sempurna, yaitu:
  1. Terdapat banyak penjual dan pembeli di pasar
  2. Produk yang dijual sama
Mengapa Penjual dalam Pasar Persaingan Sempurna hanya Sebagai Pengambil Harga (Price Taker)?
Penjual dalam pasar persaingan sempurna hanya sebagai pengambil harga (price taker) karena harga ditentukan oleh mekanisme pasar. Banyaknya penjual dalam pasar tersebut merupakan faktor yang menyebabkan hal ini terjadi.

Ukuran satu atau beberapa penjual sangat kecil jika dibandingkan dengan ukuran pasar (karena banyaknya jumlah penjual) sehingga satu atau beberapa penjual tidak mampu mempengaruhi harga pasar.

Dalam kata lain satu atau beberapa penjual tidak mempunyai kekuatan untuk menentukan harga, apabila dia menjual harga di atas harga pasar, dagangannya tidak akan laku dan sebaliknya apabila menjual dengan harga di bawah harga pasar, ia akan rugi.

Sehingga penjual dalam pasar persaingan sempurna akan menjual produknya dengan harga yang sudah ditentukan oleh mekanisme pasar.

Kelanjutan materi ini kami tampilkan dalam bentuk screenshot powerpoint berikut ini:

Slide Materi: Perusahaan dalam Pasar Kompetitif (Pasar Persaingan Sempurna)

Slide Materi: Perusahaan dalam Pasar Kompetitif (Pasar Persaingan Sempurna)

Slide Materi: Perusahaan dalam Pasar Kompetitif (Pasar Persaingan Sempurna)

Apabila anda ingin mendapatkan file materi lengkapnya, silakan kirim permintaan ke iro.maruto@gmail.com (sertakan judul artikelnya) 100% FREE!

Sunday, June 7, 2015

Sifat Pasar Pengecer (Retailer)

By With No comments:
Perdagangan eceran meliputi kegiatan yang berhubungan secara langsung dengan penjualan barang atau jasa kepada konsumen akhir untuk keperluan prbadi (bukan untuk keperluan usaha).

Namun demikian, tidak menutup kemungkinan adanya penjualan secara langsung dengan para pemakai industri karena tidak semua barang industri selalu dibeli dalam jumlah besar.

Beberapa perusahaan seperti produsen, pedagang besar, atau toko pengecer yang menjual suatu barang kepada konsumen akhir untuk keperluan pribadi, perlu memperhatikan masalah bagaimana penjualan itu dilakukan (oleh seseorang, dengan telepon, atau melalui pos).

Disamping itu perlu pula memperhatikan masalah di mana penjualan tersebut dilakukan, di tempat penjual, di rumah konsumen, atau di tempat lain.

Jadi, secara definitif dapat dikatakan bahwa:
Pengecer atau toko pengecer (retailer) adalah sebuah lembada yang melakukan kegiatan usaha menjual barang kepada konsumen akhir untuk keperluan pribadi (non bisnis).
Berdasarkan definisi tersebut dapat diketahui bahwa pengecer memberikan pelayanan sebagai titik penghubung antara konsumen akhir dengan anggota saluran distribusi lainnya, seperti ditunjukkan dalam gambar di bawah ini:
Bilamana usaha pengecer kurang berhasil dalam melayani konsumen akhir, maka hal ini sangat berpengaruh terhadap usaha-usahanya untuk melayani produsen atau pedagang besar. Dalam hal ini, pengecer berusaha untuk:
  • Mendapatkan kombinasi barang-barang yang dapat memenuhi keinginan konsumen
  • Menciptakan kegunaan dari barang-barang tersebut pada waktu dibutuhkan
  • Memberitahu konsumen tentang usahanya melalui promosi
Pendeknya, pengecer menunjukkan faedah waktu, tempat dan pemilikan kepada konsumen. Produsen dan pedagang besar menggunakan pengecer untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang secara lebih efektif dapat dilakukannya.

Fungsi-fungsi tersebut antara lain: perencanaan barang, penetapan harga, distribusi, dan promosi. Kemudian pengecer melayani konsumen dan anggota saluran distribusi lainnya. Apabila seorang pengecer melakukan penjualan barang kepada pemakai industri, biasanya transaksi yang terjadi meliputi jumlah yang besar, bukan eceran. 

Jika dibandingkan dengan perusahaan pengolahan, pendirian usaha eceran (ritel) ini jauh lebih mudah karena tidak memerlukan dana yang besar untuk membangun pabrik beserta peralatannya. Selain itu, upaya untuk mendapatkan ijin usaha pun juga mudah.

Sumber:
Basu Swastha. 2002. Azas-azas Marketing. Yogyakarta: Liberty.

Saturday, June 6, 2015

Manfaat Kepuasan Konsumen

By With No comments:
Menurut Francis Buttle (2007: 28) “Naiknya tingkat kepuasan akan meningkat pula kecenderungan konsumen untuk kembali membeli produk yang ditawarkan perusahaan”.

Pada gilirannya kondisi ini akan mempengaruhi perilaku beli konsumen dan berdampak sangat signifikan terhadap performa bisnis perusahaan.

Manfaat menciptakan kepuasan pelanggan membawa dampak yang besar bagi perusahaan. Ali Hasan (2013) menyatakan manfaat kepuasan pelanggan meliputi :

1. Pendapatan
Efek kepuasan pelanggan terhadap kinerja pendapatan atau keuntungan jangka panjang (performance measures reflecting long-term profitability) dibentuk oleh berbagai dimensi strategis yang lebih kompetitif melalui kesetiaan merek, mutu produk, asosiasi merek/ perusahaan, sanak keluarga berharga, aktivitas produksi baru, kemampuancapaian karyawan dan manajer.

2. Reaksi Terhadap Produsen Berbiaya Rendah
Pemotongan harga dianggap oleh banyak perusahaan menjadi senjata ampuh untuk meraih pangsa. Banyak pelanggan yang bersedia membayar harga lebih mahal untuk pelayanan dan kualitas produk yang lebih baik. Strategi fokus pada kepuasan pelanggan merupakan alternatif terbaik dalam mempertahankan pelanggan untuk menghadapi para produsen berbiaya rendah.

Kepuasan Konsumen via blog.readytomanage.com
3. Manfaat Ekonomis
Dengan  memertahankan dan memuaskan pelanggan saat ini jauh lebih mudah dibandingkan terus-menerus berupaya menarik atau memprospek pelanggan baru, biaya memertahankan pelanggan lebih murah dibandingkan biaya mencari pelanggan baru.

4. Reduksi Sensitivitas Harga
Pelanggan yang puas terhadap sebuah perusahaan cenderung lebih jarang menawar harga untuk setiap pembelian individualnya. Kepuasan pelanggan mengalihkan fokus pada harga pelayanan dan kualitas.

5. Key Sukses Bisnis Masa Depan
Dalam hal ini, terdapat empat hal, yaitu:
  • Kepuasan pelanggan merupakan strategi bisnis jangka panjang, membangun dan memperoleh reputasi produk-perusahaan dibutuhkan waktu yang cukup lama, diperlukan investasi besar pada serangkaian aktivitas bisnis untuk membahagiakan pelanggan.
  • Kepuasan pelanggan merupakan indikator kesuksesan bisnis di masa depan yang mengukur kecenderungan reaksi pelanggan terhadap perusahaan di masa yang akan datang.
  • Program kepuasan pelanggan relatif mahal dan hanya mendatangkan laba jangka panjang yang relatif lama.
  • Ukuran kepuasan pelanggan lebih prediktif untuk kinerja masa depan sekalipun tidak mangabaikan data akuntansi.
6. Word-Of-Mouth Relationship
Pelanggan yang puas dapat menjadikan hubungan antara perusahaan dan pelanggan menjadi harmonis, memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang dan terciptanya loyalitas pelanggan, menjadi advocator bagi perusahaan terutama ketika reputasi perusahaan atau produk dilecehkan oleh orang lain, serta membentuk rekomendasi positif dari mulut ke mulut yang sangat menguntungkan bagi perusahaan.

Penulis: Veronica

Thursday, June 4, 2015

Klasifikasi Jasa

By With No comments:
Pada artikel yang telah lalu, kita telah membahas tentang Pengertian dan Karakteristik Jasa. Artikel yang akan kita bahas di sini nanti merupakan kelanjutan dari artikel Pengertian dan Karakteristik Jasa tersebut, yatu Klasifikasi Jasa.

Menurut Griffin dalam Lupiyoadi (2006) produk jasa tidak ada yang benar-benar mirip antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, untuk memahaminya, ada beberapa cara pengklasifikasian produk jasa.

Pertama, didasarkan atas tingkat kontak konsumen dengan pemberi jasa sebagai bagian dari sistem saat jasa tersebut dihasilkan. Kedua, jasa juga diklasifikasikan berdasarkan kesamaannya dengan operasi manufaktur.

Berdasarkan Tingkat Kontak Konsumen
Berdasarkan tingkat kontak konsumen jasa dapat dibedakan ke dalam kelompok sistem kontak tinggi (high-contact system) dan sistem kontak rendah (low-contact system).

Pada kelompok sistem kontak tinggi, konsumen harus menjadi bagian dari sistem untuk menerima jasa, contohnya jasa pendidikan, rumah sakit, dan transportasi.

Sementara itu, pada kelompok sistem kontak rendah, konsumen tidak perlu menjadi bagian dari sistem untuk menerima jasa, contohnya jasa reparasi mobil dan jasa perbankan. Konsumen tidak harus dalam kontak pada saat mobilnya yang rusak diperbaiki oleh teknisi bengkel.

Klasifikasi Jasa
Jasa Konsultan via easyconsult.com.au
Berdasarkan Kesamaannya dengan Operasi Manufaktur
Berdasarkan kesamaannya dengan operasi manufaktur, jasa dapat dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu jasa murni, jasa semimanufaktur, dan jasa campuran.

Jasa murni (pure service) merupakan jasa yang tergolong kontak tinggi, tanpa persediaan, atau dengan kata lain sangat berbeda dengan manufaktur, contohnya jasa tukang cukur atau ahli bedah yang memberikan perlakuan khusus (unik) dan memberikan jasanya pada saat konsumen di tempat.

Sebaliknya jasa semimanufaktur (quasimanufacturing service) merupakan jasa yang tergolong kontak rendah, memiliki kesamaan dengan manufaktur, dan konsumen tidak harus menjadi bagian dari proses produksi jasa, contohnya jasa pengantaran, perbankan, asuransi, dan kantor pos.

Sementara itu, jasa campuran (mixed service) merupakan kelompok jasa yang tergolong kontak menengah (moderate-contact), gabungan beberapa sifat jasa murni dan jasa semimanufaktur, contohnya jasa bengkel, dry cleaning, ambulans, pemadam kebakaran, dan lain-lain.

Penulis: Veronica

Popular Posts