Thursday, February 16, 2017

Berbagai Tantangan Implementasi Manajemen Sumber Daya Manusia

By With No comments:
Dalam implementasinya, manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) tidak lepas dari berbagai tantangan. Berikut dijelaskan beberapa tantangan yang dihadapi dalam mengimplementasikan manajemen SDM:

1. Pemutusan Hubungan Kerja
Kebijakan pemutusan hubungan kerja atau PHK, disadari atau tidak, membawa pengaruh yang besar baik terhadap perusahaan dan terutama bagi karyawan. Bagi pihak karyawan, mendapatkan pekerjaan pengganti tentu tidak mudah terutama bila karyawan tersebut tidak memiliki keterampilan khusus.

Hal ini diperburuk dengan adanya kebijakan yang kurang adil, hingga kekecewaan karyawan dapat dilampiaskan dengan tindakan yang kurang terpuji yang pada akhirnya dapat merugikan kedua belah pihak. Di sisi lain, kebijakan yang dipandang kurang adil dapat memicu keresahan karyawan lain hingga iklim kerja dapat terganggu.

Dalam kondisi seperti ini, manajemen SDM dituntut untuk dapat memberikan win-win solution terhadap kepentingan karyawan dan perusahaan sekaligus meminimalisir dampak negatif apabila kebijakan PHK terpaksa diberlakukan.

2. Pemogokan
Selain PHK, aksi mogok kerja juga dapat mempengaruhi kebijakan pengambangan sumber daya manusia. Adanya mogok kerja menunjukkan bahwa system yang ada dalam perusahaan kurang berfungsi dengan baik.

Manajemen SDM melalui departemen SDM dihadapkan pada tantangan untuk dapat mengelola konflik tersebut, mencegah, atau menyelesaikan pemogokan agar tidak mempengaruhi kinerja karyawan atau departemen lain dalam perusahaan.

3. Pertumbuhan Angkatan Kerja
Lajunya pertumbuhan penduduk membawa dampak yang luar biasa terhadap penyediaan lapangan kerja. Semakin tinggi angkatan kerja, maka tugas pengembangan sumber daya manusia menjadi penting untuk dilaksanakan.

Manajemen SDM diharapkan mampu mempersiapkan, mengoptimalkan dan mempertahankan sumber daya manusia yang kompeten dan profesional untuk menjalankan aktivitas perusahaan.

4. Produktivitas Tenaga Kerja
Salah satu fungsi utama dari pengembangan SDM adalah untuk meningkatkan produktivitas SDM tersebut bagi perusahaan. Berkaitan dengan hal tersebut, departemen SDM bertanggung jawab mengadakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas SDM seperti pelatihan dan pendidikan.

5. Daya Saing Kualitas Produk dan Harga Jual
Selain kualitas SDM yang unggul, dalam proses produksi juga memerlukan skill dan ketelitian dalam menghasilkan produk, sehingga akan menghasilkan produk yang berkualitas. Akan tetapi, dalam dunia bisnis, suatu produk tidak aka nada artinya tanpa adanya permintaan dari konsumen. Dalam hal inilah manajemen SDM diharapkan dapat memberikan kebijakan yang mampu mendorong para karyawan untuk menghasilkan produk yang berdaya saing sekaligus berkualitas.

6. Perdagangan Bebas ASEAN dan ASIA
Munculnya kebijakan global yang memberlakukan system perdagangan bebas tingkat dunia, menjadi permasalahan tersendiri. Hal tersebut sangat beralasan karena secara kualitas sumber daya manusia belum mampu menghadapi persaingan perdagangan bebas.

Oleh karena itu, adanya perdagangan bebas sesama anggota ASEAN dan wilayah ASIA menjadi tantangan tersendiri dalam rangka mempersiapkan diri untuk bersaing di kancah global. Melalui manajemen SDM, perusahaan diharapkan mampu menjawab tantangan tersebut dengan semakin meningkatkan kualitas SDM-nya agar mampu menjawab tantangan perdagangan bebas baik di tingkat ASIA maupun dunia.

7. Kualitas Manajemen
Pada dasarnya, majunya sumber daya manusia dalam suatu organisasi atau perusahaan tergantung pada system atau manajemen yang digunakan. Artinya semakin tinggi kualitas manajemen yang digunakan dalam mengelola sumber daya manusia, semakin besar pula peluang keberhasilan dalam mengembangkan SDM.

Sumber:
Baedhowi. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia. Semarang: Pelita Insani.

Monday, January 30, 2017

Program Peningkatan Mutu SDM dalam Organisasi

By With No comments:
Munculnya kompleksitas permasalahan yang menyeruak di berbagai lini, membutuhkan terapi atau pendekatan dalam menyelesaikan problematika tersebut. Beberapa gagasan atau program peningkatan mutu sumber saya manusia adalah sebagai berikut:

1. Desentralisasi
Munculnya tren baru dalam pengelolaan organisasi adalah dengan mengubah pola kepemimpinan sentralisasi menjadi desentralisasi. Dengan desentralisasi, semua elemen, terutama karyawan mempunyai kewenangan atau andil dalam setiap kebijakan yang berlaku di organisasi.

Pola ini memberikan tanggung jawab yang besar terhadap karyawan untuk bersama-sama membangun organisasi atau perusahaan agar semakin berkembang dan maju. Dengan demikian, semua elemen yang ada di perusahaan mempunyai tanggung jawab yang sama, sesuai dengan kapasitas masing-masing.

2. Organisasi tanpa Batas
Upaya lain dalam menumbuhkembangkan kualitas sumber daya manusia adalah dengan megembangkan system/struktur organisasi tanpa batas. Dengan berorganisasi, masyarakat dapat menempa potensi diri mereka masing-masing dalam organisasi, melalui peningkatan kreativitas dan inovasi. Oleh sebab itu, dengan merebaknya organisasi, menjadikan indikasi bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia semakin matang.

3. Perencanaan Strategik
Untuk membangun dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia diperlukan perencanaan yang matang dan taktis, sehingga perkembangan kualitas dapat dipantau dengan baik. Perencanaan strategik ini mengedepankan bagaimana peningkatan mutu sumber daya manusia dibentuk dalam sebuah kurikulum, sehingga instrumen-instrumen yang dibutuhkan dalam pengembangan potensi diri, indikator-indikator keberhasilan perkembangan serta alat evaluasi dapat tersedia dengan baik.

4. Orientasi Visi/Misi
Manusia hidup di dunia pasti mempunyai tujuan hidup. Untuk dapat memenuhi tujuan tersebut, dibutuhkan visi dan misi. Demikian juga dalam organisasi, untuk dapat mengembangkan mutu sumber daya manusia yang ada dalam organisasi, diperlukan visi dan misi organisasi yang dijadikan landasan dalam mencapai tujuan. Dengan mengacu pada visi dan misi, seorang karyawan dapat termotivasi untuk dapat meningkatkan kapabilitas dan profesionalitasnya dalam mencapai tujuan.

5. Team Work
Berbagai cara/metode untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia tidak akan maksimal tanpa adanya kerjasama yang baik diantara karyawan, departemen dan manajemen. Lebih lanjut, semangat kerjasama tim/team work dapat mendorong para karyawan untuk belajar dari karyawan lain, sehingga dapat mendorong kemajuan bersama sekaligus lebih cepat menyelesaikan pekerjaan dan mengatasi persoalan.

Di samping itu, dengan kerja sama tim, setiap individu akan terpacu untuk menjadi yang terbaik, dan untuk menjadi yang terbaik tentunya dibutuhkan kemampuan dan keterampilan tersendiri. Oleh sebab itu, semangat sportivitas juga diperlukan dalam kerja tim ini, sehingga tujuan organisasi akan cepat tercapai.

6. Globalisasi
Derasnya arus globalisasi mensyaratkan manusia untuk menguasai teknologi, komunikasi dan informasi, karena dengan penguasaan tersebut manusia akan menjadi unggul di berbagai bidang. Terkait dengan pengembangan sumber daya manusia, maka menyongsong dan ikut andil dalam globalisasi adalah suatu keniscayaan, tentunya dibarengi dengan sumber daya manusia yang matang, yaitu mempunyai wawasan global, kapabel, dan profesional.

7. Good and Clean Government
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menunjang peningkatan sumber daya manusia, akan tetapi tanpa didukung dengan pemerintahan yang baik dan bersih hasil yang dicapai tidak akan maksimal dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, sinergi pihak-pihak terkait dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia ini harus ditingkatkan. Ibarat gayung bersambut, masyarakat susah payah menempa diri untuk meningkatkan kualitas hidupnya, selayaknya mendapatkan dukungan dari pemerintah yang dengan segala kekuasaannya dapat memberikan kemudahan dan mendorong guna terciptanya masyarakat Indonesia yang berkualitas.

Sumber:
Baedhowi. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia. Semarang: Pelita Insani.

Sunday, January 29, 2017

Arti Penting Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi

By With No comments:
Artikel kali ini akan membahas materi Manajemen Sumber Daya Manusia. Kami mengutip artikel ini dari buku Manajemen Sumber Daya Manusia yang ditulis oleh Prof. Dr. Baedhowi, M.Si. (Guru Besar Bidang Manajemen SDM di FKIP UNS).

Manajemen Sumber Daya Manusia memegang peran vital dalam sebuah organisasi, baik itu organisasi pemerintahan, industri, pendidikan, dan sebagainya. Apabila sumber daya manusia dalam organisasi dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, maka organisasi tersebut akan mampu menjalankan roda organisasi secara maksimal.

Dengan kata lain, manajemen sumber daya manusia sangat berperan dalam meningkatkan keefektivan dan efisiensi sebuah organisasi dalam mencapai tujuannya. Secara garis besar, manajemen sumber daya manusia memberikan berbagai manfaat sebagai berikut:

1. Kualitas (Quality)
Fungsi utama manajemen SDM adalah menciptakan manusia yang berkualitas sesuai dengan kompetensi atau keahliannya. Oleh sebab itu, dengan adanya manajemen SDM diharapkan tenaga kerja akan mampu memberikan manfaat pada diri sendiri dan organisasinya.

Tenaga kerja yang berkualitas akan mampu menghasilkan produk yang berkualitas pula. Inilah salah satu manfaat manajemen SDM dalam organisasi.

2. Kecepatan (Speed)
Suatu pekerjaan yang ditangani oleh ahlinya akan mampu menghasilkan output yang sesuai dengan harapan. Demikian juga ketika tenaga professional dituntut untuk kerja cepat, tenaga kerja tersebut akan mampu melakukan pekerjaan dengan penuh ketelitian dan ketepatan, sehingga dalam jangka waktu yang relatif singkat, semua pekerjaan dapat diselesaikan secara profesional.

3. Biaya Kepemimpinan (Leadership Cost)
Manajemen SDM yang baik akan dapat menjadikan pemimpin memiliki kemampuan menjalankan kepemimpinannya dalam suatu organisasi dengan baik pula. Kepemimpinan yang efektif sangat berpengaruh terhadap kebutuhan biaya dalam organisasi. Banyaknya biaya yang dikeluarkan oleh suatu organisasi dapat dilihat dari keefektivan kepemimpinan dalam menjalankan aktivitas organisasi.

Efisiensi penggunaan anggaran yang diperlukan dalam suatu kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh keefektivan seorang pemimpin dalam mengelola organisasinya. Dengan kata lain, pemimpin yang memiliki kemampuan manajemen SDM yang baik berdampak pada leadership cost yang lebih efisien.

4. Kemampuan Belajar dalam Beradaptasi (Adaptive Learning Ability)
Adanya pluralisme sumber daya manusia dalam suatu organisasi membutuhkan system komunikasi yang baik antar pihak manajemen dengan karyawan maupun sesama karyawan. Oleh sebab itu, untuk dapat mewujudkan sinkronitas tujuan antara pihak manajemen dengan karyawan tersebut, diperlukan manajemen sumber daya manusia.

Dengan adanya manajemen SDM ini, diharapkan masing-masing elemen mengetahui peran dan fungsinya, sehingga dapat mempermudah organisasi untuk mencapai tujuannya. Artinya, keberhasilan sebuah organisasi dapat dilihar dari sejauhmana kemampuannya dalam mengakomodir sumber daya manusia yang ada untuk belajar beradaptasi dengan dunia sekitarnya.

Sumber: 
Baedhowi. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia. Semarang: Pelita Insani.

Thursday, January 26, 2017

Pengertian Pembangunan Ekonomi Daerah

By With No comments:
Pada kesempatan ini, kami akan coba membahas pengertian pembangunan ekonomi daerah. Namun, sebelum kita membahas lebih jauh tentang pengertian pembangunan ekonomi daerah, ada baiknya jika kita membahas tentang pengertian daerah.

Menurut Arsyad (2010: 373) dari tinjauan aspek ekonomi, daerah mempunyai 3 definisi, yaitu:

1. Suatu daerah dianggap sebagai ruang dimana kegiatan ekonomi terjadi dan di dalam berbagai pelosok ruang tersebut terdapat sifat-sifat yang sama. Kesamaan sifat-sifat tersebut antara lain tercermin dari segi pendapatan per kapitanya, sosial-budayanya, geografisnya, dan lain sebagainya. Daerah dalam definisi seperti ini disebut dengan daerah homogen.

2. Suatu daerah dianggap sebagai suatu “ruang ekonomi” yang dikuasai oleh satu atau beberapa pusat kegiatan ekonomi. Daerah dalam definisi seperti ini disebut dengan daerah nodal.

3. Suatu daerah adalah suatu “ruang ekonomi” yang berada di bawah satu administrasi tertentu, seperti satu provinsi, kabupaten, kecamatan, dan sebagainya. Jadi, daerah disini didasarkan atas pembagian administratif suatu negara. Daerah dalam definisi seperti ini disebut dengan daerah perencanaan atau daerah administrasi.

Setelah kita mengetahui definisi daerah menurut Arsyad tadi, sekarang kita akan membahas pengertian pembangunan ekonomi daerah. Pengertian pembangunan ekonomi daerah ini kami kutip juga dari bukunya Lincolin Arsyad yang berjudul “Ekonomi Pembangunan”.

Menurut Arsyad (2010: 374) pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola setiap sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sector swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut.

Masalah pokok dalam pembangunan daerah terletak pada penekanannya terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan pada ciri khas (unique value) dari daerah yang bersangkutan (endogenous development) dengan menggunakan potensi sumber daya manusia, kelembagaan, dan sumber daya fisik secara lokal (daerah). Orientasi ini mengarahkan kita kepada pengambilan inisiatif-inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses pembangunan untuk menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang peningkatan kegiatan ekonomi.

Pembangunan Ekonomi Daerah adalah suatu proses, yaitu suatu proses yang mencakup pembentukan institusi-institusi baru, pembangunan industri-industri alternatif, perbaikan kapasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar, alih ilmu pengetahuan, dan pembangunan perusahaan-perusahaan baru.

Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Dalam upaya untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah dan masyarakatnya harus secara bersama-sama mengambil inisiatif pembangunan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah (beserta partisipasi masyarakatnya dan dengan menggunakan setiap sumber daya yang ada) harus mampu menaksir potensi setiap seumber daya yang diperlukan untuk merancang dan membangun perekonomian daerah.

Sumber Referensi:
Arsyad, Lincolin. 2010. Ekonomi Pembangunan: Edisi Ke-5. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan STIM YKPN.

Wednesday, January 25, 2017

Contoh Soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota dan Pembahasannya Bagian 4

By With No comments:
Pembahasan latihan soal OSN Ekonomi SMA kali ini berkaitan dengan materi pasar persaingan sempurna. Adapun contoh soalnya kami ambilkan dari salah satu soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota tahun 2012 Paket 2.

Berikut contoh soal OSN Ekonomi SMA yang akan kita bahas dalam artikel ini:
Soal
Bila perusahaan menambah produksi barang dari 200 unit menjadi 210 unit menyebabkan penerimaan totalnya bertambah dari Rp1.000.000,00 menjadi Rp1.500.000,00 sedangkan biaya total bertambah dari Rp600.000,00 menjadi Rp630.000,00, maka perusahaan akan …

a. menambah output, karena pada saat itu MR > MC

b. mengurangi output, karena pada saat itu MR < MC
c. berada pada laba maksimum
d. menambah output, karena pada saat itu MR < MC
e. mengurangi output, karena pada saat itu MR > MC
Jawaban
Jawaban atas soal di atas adalah a. menambah output, karena pada saat itu MR>MC. Langkah-langkah pengerjaannya adalah sebagai berikut:
Diketahui:
Q1       = 200
Q2       = 210
TR1      = Rp1.000.000,00
TR2      = Rp1.500.000,00
TC1      = Rp600.000,00
TC2      = Rp630.000,00

Ditanya:
Apa yang akan dilakukan oleh perusahaan ketika kondisinya seperti itu?

Jawab:
Langkah awal kita melihat pilihan jawaban yang disediakan, nampak bahwa pilihan jawabannya berhubungan dengan besarnya nilai Marginal Revenue (MR) dan Marginal Cost (MC), sehingga langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari besarnya MR dan MC tersebut.

Ketentuannya adalah apabila MR > MC maka perusahaan akan menambah produksi, sebaliknya apabila MR < MC maka perusahaan akan mengurangi produksi. Perusahaan seharusnya berhenti memproduksi barang ketika keuntungannya maksimum, yaitu ketika MR = MC.

Kondisi tersebut digambarkan dalam bagan di bawah ini:

Perhatikan 3 titik dalam bagan di atas, titik A adalah kondisi dimana MR<MC, titik C adalah kondisi dimana MC>MR dan titik B adalah kondisi dimana MR=MC.

Setelah kita mengetahui ketentuan di atas, langkah berikutnya adalah mencari besarnya nilai MR dan MC. MR merupakan tambahan keuntungan ketika perusahaan menambah 1 unit produksi. Dalam soal di atas, diketahui perusahaan menambah 10 unit produksi, sehingga keuntungannya bertambah Rp500.000,00 (Rp1.500.000,00 – Rp1.000.000,00). Untuk menentukan besarnya MR maka kita harus membagi Rp500.000,00 dengan 10 yaitu Rp50.000,00.

Setelah mengetahui besarnya nilai MR, selanjutnya kita harus mencari besarnya nilai MC, yaitu dengan cara membagi Rp30.000,00 (Rp630.000,00 – Rp600.000,00) dengan 10 unit, yaitu Rp3.000,00.

Sekarang, kita sudah mengetahui besarnya MR dan MC, yaitu Rp50.000,00 (MR) dan Rp3.000,00 (MC). Jelaslah bahwa nilai MR > MC sehingga perusahaan akan menambah produksinya sampai titik MR = MC.

Contoh Soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota dan Pembahasannya Bagian 3

By With No comments:
Pada kesempatan ini atau pada bagian 3 ini kami akan menampilkan contoh soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota yang berkaitan dengan materi elastisitas permintaan.

Adapun contoh soal elastisitas permintaannya kami ambilkan dari salah satu soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota pada tahun 2007. Meskipun tahun 2007 tergolong sudah cukup lama, tetapi esensi materi elastisitas permintaannya masih berlaku sampai saat ini.

Ok, langsung saja berikut kami tampilkan contoh soalnya:
Soal
Data demand of apple fruit in the hypermarket is at the following:
Price (P) per ton
Demand Quantity (Q)
Rp5.000.000,00 
50 ton
Rp6.000.000,00
40 ton
Pursuant of the table above, hence the demand of elasticity coefficient is....a. 0,04           b. 0,10           c. 0,40d. 1,00e. 1,10

Jawaban
Jawaban dari soal di atas adalah 1,00 (d). Sudah tahu bagaimana cara mendapatkannya?? Mari kita bahas…

Diketahui:
P1        = Rp5.000.000,00
P2        = Rp6.000.000,00
Q1       = 50 ton
Q2       = 40 ton

Ditanya:
Besarnya koefisien elastisitas permintaan = … ?

Jawab:
Untuk mencari besarnya elastisitas permintaan, digunakan formula sebagai berikut:

Dari formula di atas, kita bisa menghitung koefisien elastisitas permintaan yang ditanyakan dalam soal. Kita tinggal memasukkan angka-angka yang diketahui dalam soal pada formula tersebut, seperti di bawah ini:

Berdasarkan perhitungan di atas, jelaslah bahwa nilai koefisien permintaan yang ditanyakan pada soal di atas adalah 1,00 atau pada pilihan jawaban (d).

Tuesday, January 24, 2017

Masalah pada Kredit Pertanian

By With No comments:
Pada dasarnya, perkembangan sistem perekonomian di perdesaan dibagi ke dalam tiga tahap. Yaitu tahap subsisten, tahap peralihan dari subsisten ke modern dan tahap modern. Pada pertanian subsisten, produksi pertanian hanya ditujukan untuk keperluan konsumsi produksi, dan pada tahap ini kebutuhan akan dana kredir belum berkembang.

Dalam tahap peralihan, mulai terlihat adanya spesialisasi produksi dan teknologi baru, sehingga kebutuhan masyarakat yang semula terbatas hanya pada bahan makanan pokok mulai berkembang pada kebutuhan akan barang-barang lain dan sarana produksi. Kebutuhan-kebutuhan ini umumnya berasal dari luar desa dan memerlukan pengeluaran dalam jumlah yang besar sebelum memperoleh hasilnya. Oleh karena itu, pada tahap ini masyarakat memerlukan dana kredit, terutama kredit yang bersifat musiman.

Masalah perkreditan di daerah perdesaan melibatkan dua kelompok kepentingan, yaitu para petani (atau masyarakat perdesaan) di satu pihak sebagai debitur (peminjam atau penerima kredit), dan lembaga-lembaga perkreditan sebagai krediturnya. Kedua kelompok ini tentu saja berbeda dalam kepentingan dan tujuannya terhadap perkreditan, sehingga dapat menimbulkan perbedaan pandangan. Perbedaan pandangan ini terjadi antara lembaga perkreditan pemerintah dan masyarakat petani di daerah perdesaan.

Sebagai contoh kredit Bimas, yang kadang-kadang ditanggapi secara negatif oleh para petani. Padahal, siapa yang akan menyangkal manfaat Bimas bagi pembangunan nasional, dan juga siapa yang akan menyangkal komitmen Bimas bagi kepentingan petani. Tanggapan ini menunjukkan bahwa kadang-kadang terjadi perbedaan pandangan antara debitur dan kreditur. Untuk mengurangi perbedaan pandangan antara dua kelompok tersebut, maka lebih dahulu harus diketahui karakteristik, sikap dan nilai dari para petani (debitur) maupun kreditur, serta lingkungan hidupnya dalam kaitannya dengan usaha pertanian kecil, dan lain sebagainya.

Karakteristik petani meliputi luas lahan pertanian, tingkat pendapatan jumlah anggota keluarga dewasa, dan kesempatan kerja di luar usaha taninya. Sedangkan sikap dan nilai dari petani dapat tercermin dari hubungan baik dan saling mengerti antara kreditur dan debitur. Dalam perkreditan formal seringkali tidak terlihat adanya hubungan tersebut. Sebaliknya, di dalam kredit informal, meskipun dengan suku bunga yang relatif tinggi tetapi masih banyak dijumpai petani yang meminjam, karena hubungan antara kedua belah pihak berlangsung akrab dan kekeluargaan. Kreditur informal nampaknya telah memahami dengan baik sikap dan mental petani, sehingga dengan mudah dapat menarik simpati petani untuk meninjam pada mereka.

Sumber kredit informal ini bersifat fleksibel, tanpa prosedur (birokrasi) yang berbelit-belit, saling mengenal, dan berhubungan erat. Pinjaman juga tidak diawasi dengan ketat, para petani bebas menggunakan kreditnya, begitu juga kreditur mengetahui betul mengenai kelayakan kredit petani serta bersedia memberikan pinjaman kapan, di mana dan berapa saja yang diminta.

Sedangkan kredit formal tidak fleksibel, prosedur berbelit, kedua belah pihak tidak saling mengenal dengan baik, memerlukan waktu yang relatif lama, baik untuk mengambil maupun membayar kredit. Lebih jauh lagi, terkadang debitur harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk mengurusnya, sehingga suku bunga yang berlaku menjadi tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian di DAS Cimanuk, dapat disimpulkan bahwa di dalam penelitian tersebut kebutuhan kredit petani kecil telah dilayani oleh sumber informal. Petani besar sangat sedikit yang berhubungan dengan kreditur informal karena kebutuhan kredit mereka telah dipenuhi oleh lembaga perbankan serta lembaga kredit formal lainnya melalui kredit program kredit kecil perdesaan yang menarik dengan bunga yang relatif rendah. Petani kecil masih enggan dan tidak mau berurusan dengan lembaga kredit formal, karena dalam mendapatkan pelayanan lembaga kredit formal seringkali mereka dihadapkan pada prosedur yang lama dan berbelit-belit.

Oleh karena itu, pemerintah berusaha memperbaiki dan memperluas jangkauan pelayanan perkreditan agar dapat mencapai lapisan masyarakat perdesaan yang lebih rendah. Kemudian berbagai bentuk perkreditan mulai dikembangkan, seperti Kredit Candak Kulak (KCK), KIK, KMKP, dan lain sebagainya.

Beberapa lembaga perkreditan formal lainnya, seperti Bank Pembangunan Daerah (BPD), Koperasi dan lembaga-lembaga lainnya mencoba menyalurkan kredit-kredit sejenis seperti yang dikembangkan pemerintah setelah mereka melihat adanya perkembangan yang cukup pesat akan kebutuhan kredit.

Sumber Referensi:
Arsyad, Lincolin. 2010. Ekonomi Pembangunan: Edisi Ke-5. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan STIM YKPN.

Peranan Kredit pada Bidang Pertanian

By With No comments:
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara agraris. Kita ketahui pula bahwa mayoritas masyarakat di perdesaan bermatapencaharian sebagai petani. Rata-rata petani di perdesaan dalam kondisi ekonomi lemah, keterampilan kurang, tingkat pendidikan rendah, serta modal yang sangat terbatas. Berbagai keterbatasan tersebut mengakibatkan kecilnya usaha pertanian di perdesaan.

Oleh sebab itu, apabila terjadi perubahan sedikit saja pada produksi pertanian, akan membawa dampak pada kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat perdesaan. Satu contoh misal para petani mengalami gagal panen yang diakibatkan serangan hama wereng. Para petani tersebut tentu akan mencoba mencari alternatif sumber pendapatan lain untuk mengatasi kesulitannya tersebut, salah satunya berasal dari lembaga-lembaga perkreditan yang ada di perdesaan.

Lembaga perkreditan yang beroperasi di tingkat perdesaan sudah ada sejak jaman dahulu, meskipun bentuknya senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan jaman. Seorang ahli mengatakan bahwa lembaga perkreditan ini berperan bukan saja sebagai lambang ikatan antara golongan yang punya dan tidak, tetapi ada kalanya merupakan satu bentuk tenggang rasa yang dimanifestasikan dalam bentuk barang (in natura)

Pengaruh dari adanya pembangunan di sektor pertanian mulai Nampak pada daerah-daerah di mana tempat proses peralihan dari usaha pertanian subsisten ke usaha pertanian komersial terjadi. Secara teoretis, pada masa peralihan ini, kebutuhan akan dana kredit semakin diperlukan oleh masyarakat, sehingga keberadaan lembaga perkreditan yang semula bersifat lambang ikatan dan tenggang rasa, lama kelamaan akan berubah menjadi hubungan ekonomi yang kadang-kadang masih terselubung.

Pada jaman pemerintah Kolonial Belanda, masalah perkreditan di daerah perdesaan (terutama di pulau Jawa) sudah menjadi pusat perhatian pemerintah. Hal ini terbukti dengan didirikannya Lembaga Perkreditan Rakyat (LDR) pada tahun 1990-an, sebagai akibat dari adanya kegelisahan yang semakin tumbuh pada para pejabat pamong praja tentang kondisi ekonomi penduduk.

Setelah era kemerdekaan, keberadaan lembaga-lembaga perkreditan, baik resmi maupun tidak resmi semakin berkembang. Kredit Bimas dan lembaga Koperta yang kemudian menjadi BUUD atau KUD merupakan contoh lembaga-lembaga perkreditan yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian. Kemudian dalam tahun 1970-an, muncullah program KIK, KMKP, KCK, serta beberapa bentuk program perkreditan lainnya yang dijalankan oleh pemerintah dengan tujuan memberikan bantuan modal kepada pengusaha kecil agar lebih bergairah dalam meningkatkan kegiatan usahanya.

Disamping itu semua, bentuk perkreditan ini diharapkan dapat dinikmati secara merata oleh semua lapisan masyarakat, terutama bagi golongan petani kecil dan ekonomi lemah, sehingga dapat mengurangi ketergantungan mereka terhadap lembaga-lembaga perkreditan informal (misalnya rentenir, tukang kredit barang, petani kaya, dan lain-lain) dengan bunga yang relatif tinggi.

Sumber Referensi:
Arsyad, Lincolin. 2010. Ekonomi Pembangunan: Edisi Ke-5. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan STIM YKPN.

Sunday, January 22, 2017

Contoh Soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota dan Pembahasannya Bagian 2

By With No comments:
Melanjutkan pembahasan tentang soal dan pembahasan OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota, pada kesempatan ini kami akan menampilkan contoh soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota tahun 2014. Adapun contoh soalnya adalah sebagai berikut:
Soal

Pada tingkat pendapatan Rp500.000,00 besarnya konsumsi Rp400.000,00, sedangkan pada tingkat pendapatan Rp1.000.000,00 besarnya konsumsi Rp600.000,00. Besarnya hasrat untuk menabung marginal adalah ....
a. 0,60
b. 0,50
c. 0,40
d. 0,25
e. 0,15
Jawaban
Jawaban dari soal di atas adalah 0,6 (a)
Adapun langkah-langkah penyelesaiannya adalah sebagai berikut:
Diketahui:
Y1        = Rp500.000,00
Y2        = Rp1.000.000,00
C1        = Rp400.000,00
C2        = Rp600.000,00

Ditanya:
Besarnya MPS (marginal propensity to save) atau hasrat menabung marjinal = … ?

Jawab:
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari besarnya hasrat menkonsumsi marjinal atau marginal propensity to consume (MPC) dengan rumus berikut ini:
                                         
Setelah nilai MPC diketahui, langkah berikutnya baru kita bisa mencari besarnya nilai MPS, yaitu 1 – MPC = 1 – 0,4 = 0,6

Tambahan Pembahasan:
Dari pembahasan jawaban atas soal OSN Ekonomi SMA tahun 2014 di atas, kita dapat mengetahui bahwa formula untuk mencari MPC adalah

Formula untuk mencari MPS hampir sama dengan formula MPC, yang membedakan adalah jika pada MPC kita harus mengetahui selisih konsumsi, sedangkan dalam MPS kita harus mengetahui besarnya selisih saving (tabungan) seseorang. Adapun formula untuk mencari MPS adalah sebagai berikut:


Selain itu, kita juga bisa mengetahui bahwa MPC + MPS = 1; sehingga kita bisa menentukan besarnya MPS dari MPC atau sebaliknya.

Contoh Soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota dan Pembahasannya Bagian 1

By With No comments:
Pada kesempatan kali ini, pendidikanekonomi.com akan membahas tentang contoh soal yang pernah digunakan dalam OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota. Inisiatif untuk membuat artikel ini adalah karena seringkali kita menemui contoh soal OSN dan kunci jawabnya, namun tidak tahu langkah-langkah penyelesaiannya.

Harapan kami adalah dengan adanya artikel semacam ini nanti bisa membantu adik-adik SMA khususnya maupun bagi guru pembimbing OSN Ekonomi SMA untuk persiapan menghadapi OSN Ekonomi tingkat Kabupaten/Kota maupun tingkat Provinsi dan Nasional.

Pada artikel pertama ini, kami akan membahas satu contoh soal yang pernah digunakan dalam OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota pada tahun 2016 yang lalu. Adapun soalnya adalah sebagai berikut:
Pada saat Anita belum memiliki pekerjaan, ia harus mengeluarkan uang sebesar Rp1.000.000,00 untuk memenuhi kebutuhannya selama satu bulan. Setelah Anita bekerja dan memperoleh penghasilan sebesar Rp5.000.000,00 ia dapat menabung sebesar Rp400.000,00. Berdasarkan data tersebtu maka fungsi konsumsi Anita dapat dinyatakan dengan …

A. C = 1.000.000 + 0,72 Y
B. C = - 1.000.000 + 0,28 Y
C. C = 1.000.000 + 0,28 Y
D. C = - 1.000.000 + 0,72 Y
E. C = 1.000.000 – 0,72 Y
Jawaban untuk soal di atas adalah A. C = 1.000.000 + 0,72 Y. Adapun langkah-langkah penyelesaiannya adalah sebagai berikut:

Pertama-tama kita tetukan variabel apa saja yang tertera dalam soal, yaitu:
Diketahui:
C0 = 1.000.000
Y0 = 0
Y1 = 5.000.000
S1 = 400.000

Langkah selanjutnya adalah mencari besarnya konsumsi setelah Anita mempunyai penghasilan (C1) yaitu dari Y1 – S1 = 5.000.000 – 400.000 = 4.600.000

Ketika C1 sudah diketahui, langkah berikutnya adalah mencari besarnya Marginal Propensity to Consume (MPC) dengan rumus:

Setelah besarnya MPC diketahui, maka kita bisa menentukan formula atau fungsi konsumsi Anita, yaitu C = C0 + MPC Y --> C = 1.000.000 + 0,72 Y (A).

Perlu diingat bahwa nilai C0 dan MPC dalam fungsi konsumsi “SELALU POSITIF” sehingga pilihan jawaban E yaitu C = 1.000.000 – 0,72 Y sudah pasti salah.

Wednesday, January 18, 2017

Faktor-faktor yang Menentukan Elastisitas Harga

By With No comments:
Elastisitas harga merupakan elastisitas yang dikaitkan dengan harga barang itu sendiri. Elastisitas harga (Ep) mengukur berapa persen permintaan terhadap suatu barang berubah bila harganya berubah sebesar satu persen.

Terdapat beberapa faktor yang menentukan elastisitas harga. Faktor-faktor tersebut antara lain:

1. Tingkat Substitusi
Makin sulit mencari substitusi sutau barang, permintaan makin inelastis. Beras bagi masyarakat Indonesia sulit dicari substitusinya, karena itu permintaan beras bersifat inleastis. Garam tidak mempunyai substitusi, oleh karena itu permintaannya inelastis sempurna. 

Meskipun harga garam mengalami kenaikan yang sangat banyak, orang tetap akan membelinya. Sebaliknya, jika harga garam mengalami penurunan yang sangat banyak pula, orang tidak lantas akan memborong garam tersebut.

2. Jumlah Pemakai
Makin banyak pemakai, permintaan akan suatu barang makin inelastis. Hampir semua suku di Indonesia mengonsumsi beras sebagai makanan pokok. Ini penjelasan mengapa permintaan beras di Indonesia bersifat inelastis. Penjelasan ini sebenarnya menunjukkan bahwa elastisitas harga dipengaruhi oleh pokok tidaknya suatu barang bagi kita. 

Semakin pokok suatu barang, semakin inelastis permintaannya. Namun, pokok tidaknya suatu barang adalah relatif. Pesawat televisi misalnya, bagi orang-orang di kota mungkin sekali termasuk barang pokok (selain sebagai media hiburan juga sebagai media informasi yang sangat penting), tetapi bagi masyarakat desa merupakan barang mewah, sehingga pembeliannya dapat ditunda bila harganya naik.

3. Proporsi Kenaikan Harga terhadap Pendapatan Konsumen
Bila proporsi tersebut besar, maka permintaan cenderung lebih elastis. Contohnya adalah garam dan TV. Meskipun harga garam naik 50%, kenaikan harga tersebut mungkin hanya Rp200,00 yang merupakan bagian sangat kecil dari pendapatan sebagian besar keluarga. Sebaliknya, kenaikan harga TV sebesar 5%, dalam jumlah nominal uang bias Rp100.000,00 dan cukup menyebabkan sejumlah keluarga menunda pembeliannya sampai tahun depan.

4. Jangka Waktu
Jangka waktu permintaan atas suatu barang juga mempunyai pengaruh terhadap elastisitas harga. Namun, hal ini tergantung pada apakah barangnya durabel atau nondurabel. Selanjutnya mengenai pengaruh jangka waktu terhadap elastisitas akan dibahas pada artikel berikutnya.

Sumber:
Rahardja, P. Manurung, M. 2004. Pengantar Ilmu Ekonomi: Mikroekonomi, Edisi Revisi. Jakarta: Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sunday, January 15, 2017

Jenis Inflasi berdasarkan Sumbernya

By With No comments:
Berdasarkan sumbernya, inflasi dapat dibagi menjadi 2 jenis. Menurut Boediono dalam Kuncoro (2015) dua jenis inflasi berdasarkan sumbernya adalah sebagai berikut:

1. Inflasi karena Tarikan Permintaan (Demand Pull Inflation)
Demand Pull Inflation merupakan kenaikan harga-harga karena tingginya permintaan, sementara barang tidak tersedia dengan cukup. Inflasi ini biasanya terjadi ketika perekonomian mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja penuh dan pertumbuhan ekonomi berjalan pesat.

Selain itu, inflasi ini juga berlaku pada masa pertumbuhan yang pesat dan tingkat kegiatan ekonomi yang tinggi, masa perang atau ketidakstabilan politik. Dalam masa ini, biasanya pemerintah berbelanja jauh melebihi pendapatannya.

Oleh sebab itu, pemerintah harus mencetak uang baru atau meminjam dari bank-bank umum serta lembaga-lembaga keuangan lainnya. Pengeluaran pemerintah yang berlebih tersebut akan meningkatkan permintaan agregat dengan cepat. Apabila produsen tidak dapat memenuhi permintaan agregat tersebut, maka akan terjadi kenaikan harga-harga.

Sumber gambar: jogjakartanews.com

2. Inflasi Dorongan Biaya (Cost Push Inflation)
Cost Push Inflation yaitu inflasi karena biaya atau harga faktor produksi meningkat. Akibatnya, produsen harus menaikkan harga supaya mendapatkan laba dan produksi bias berlangsung terus. Biasanya, cost push inflation berlaku ketika perekonomian hamper atau telah mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja penuh.

Kenaikan harga-harga tersebut bersumber dari salah satu kombinasi dari tiga faktor berikut: para pekerja dalam perusahaan menuntut kenaikan upah, harga bahan baku atau bahan penolong yang digunakan perusahaan bertambah tinggi, serta dalam perekonomian yang sedang mengalami perkembangan pesat.

Sumber:
Kuncoro, Mudrajat. 2015. Mudah Memahami dan Menganalisis Indikator Ekonomi. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.