Sunday, February 26, 2017

Contoh Soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota dan Pembahasannya Bagian 6

By With No comments:
Pada artikel bagian 6 ini kita akan membahas beberapa contoh soal OSN Ekonomi SMA dalam Bahasa Inggris. Beberapa contoh soal tersebut kami ambilkan dari “Soal Seleksi Olimpiade Sains Tingkat Kabupaten/Kota 2016 Bidang Ekonomi”.

Kami langsung mengambil 4 soal pertama yang disajikan dalam Bahasa Inggris. Kami akan membahas satu per satu, tiap satu soal langsung diikuti dengan pembahasannya. Baik, empat soal yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Soal Pertama
Fundamental economic problems basically arise from …
A. The fact that society has more than it needs
B. Turmoil in the stock market
C. The unequal distribution of income
D. Our want exceed our scare resources
E. Differences of resources

Pembahasan
Pertanyaan pertama tersebut berkaitan dengan permasalahan pokok ekonomi. Ditanyakan dalam soal bahwa permasalahan pokok ekonomi muncul akibat …? Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah karena adanya kesenjangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas, namun alat pemuas kebutuhannya (sumber dayanya) yang terbatas. Sehingga jawaban yang tepat adalah pilihan (D) Our want exceed our scare resources.

Soal Kedua
In what kind of economy does the government make all decisions?
A. Mixed economy
B. Centrally planed
C. Socialist
D. Free enterprise
E. Traditional

Pembahasan
Soal kedua berbicara mengenai sistem perekonomian. Pertanyaan yang disampaikan adalah dalam sistem ekonomi apa, pemerintah membuat/menguasai semua keputusan/kebijakan? Jawabannya sudah jelas adalah sistem ekonomi komando, atau disebut juga (B) Centrally planed.

Soal Ketiga
What best describes the role of the government in a free market system?
A. Requires the companies to disclose information to consumers
B. Decide what companies will be formed and then allow the managers to run them
C. Allow the individual to operate their businesses in ways they think will maximize their profits
D. Control businesses activities
E. To make buyers more knowledgeable and safer

Pembahasan
Soal ketiga masih seputar sistem perekonomian seperti halnya pada soal kedua. Namun, dalam soal ketiga ini yang ditanyakan adalah wujud peran pemerintah dalam sistem perekonomian bebas/liberal. Jawabannya adalah membiarkan setiap individu mengelola usahanya, agar individu tersebut mampu memaksimalkan keuntungannya sendiri atau (C) Allow the individual to operate their businesses in ways they think will maximize their profits.

Soal Keempat
The negative slope of the production possibility curve illustrates that …
A. Some resources are always unemployed
B. When resources are fully employed, an economy can produce more of one thing only by producing less of something else
C. Opportunity cost are constant
D. Business can sell more when prices are low
E. We need to buy more things to get rich

Pembahasan
Soal keempat ini membahas tentang kurva kemungkinan produksi (production possibility curve). Production possibility curve merupakan “a graph that shows the combinations of output that the economy can possibly produce given the available factors of production and the available production technology” (Mankiw, 2012). 

Production possibility curve menunjukkan jumlah maksimum produksi yang dapat dicapai suatu perekonomian, dengan pengetahuan teknologi & jumlah input yang tersedia. Production possibility curve merupakan grafik yang memperlihatkan semua kombinasi barang dan jasa yang bisa diproduksi dengan memakai sumber daya masyarakat secara efisien.

Gambar 1. Production Possibility Curve
Salan satu ciri production possibility curve adalah slope-nya negatif. Slope negatif ini menunjukkan interaksi jumlah produksi 2 barang yang berbeda, yang berarti bahwa ketika produsen ingin menambah produksi barang A maka produsen tersebut harus mengurangi jumlah produksi barang B. Sehingga jawaban yang tepat untuk soal keempat ini adalah (B) When resources are fully employed, an economy can produce more of one thing only by producing less of something else.

Demikian pembahasan mengenai contoh Soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota dan Pembahasannya Bagian 6. Tunggu artikel kami di bagian-bagian selanjutnya.

Monday, February 20, 2017

Contoh Soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota dan Pembahasannya Bagian 5

By With No comments:
Pembahasan contoh soal OSN Ekonomi SMA kali ini berkaitan dengan garis anggaran atau (budget constraint). Adapun contoh soalnya kami ambilkan dari soal Seleksi Olimpiade Sains Tingkat Kabupaten/Kota 2014 Bidang Ekonomi.

Berikut contoh soalnya:
Dalam kasus berikuti ini akan terjadi pergeseran garis anggaran (untuk barang x dan barang Y) ke kanan atas tanpa adanya perubahan slope (kemiringan garis), yakni ....
a. harga X naik 10% dan Y turun 10%
b. harga X dan Y turun 10%
c. harga X dan Y naik 10 %, pendapatan nominal turun 5%
d. harga X dan Y turun 10%, pendapatan nominal turun 10%
e. harga X dan Y naik 10%, pendapatan nominal turun 10%
Jawaban:
Jawaban dari soal di atas adalah B (harga X dan Y turun 10%)

Pembahasannya adalah sebagai berikut:
Pertama, kita perlu mengetahui definisi garis anggaran. Artikel mengenai garis anggaran pernah kami bahas di sini. Dalam artikel tersebut yang dimaksud garis anggaran adalah “the limit on the consumption bundles that a consumer can afford” (Mankiw, 2012: 440). Apabila diterjemahkan, kurang lebih: Garis Anggaran adalah berbagai kemungkinan kombinasi konsumsi yang mampu diperoleh konsumen dengan pendapatannya.

Garis anggaran menggambarkan jumlah kombinasi 2 barang yang dapat dibeli oleh seseorang dengan sejumlah pendapatannya pada tingkat harga tertentu. Gambar garis anggaran adalah sebagai berikut:


Misalnya kita kaitkan gambar 1 di atas dengan contoh soal OSN yang kita bahas. Mie Ayam kita asumsikan dengan barang X, sedangkan Jus Alpukat adalah barang Y. Kita coba analisis satu per satu dari 5 pilihan jawaban yang tersedia.

1. Pilihan Jawaban (A) harga X naik 10% dan Y turun 10%
Apabila harga barang X naik 10% maka garis anggaran akan berotasi ke dalam pada sumbu Jml Mie Ayam, sedangkan ketika harga barang Y turun 10% maka garis anggaran akan berotasi ke luar pada sumbu Jus Alpukat. Sehingga dalam kondisi seperti ini akan terjadi perubahan slope (kemiringan) garis anggaran.

2. Pilihan Jawaban (B) harga X dan Y turun 10%
Ketika harga barang X dan Y sama-sama turun 10% maka garis anggaran akan bergeser ke kanan atas tanpa disertai perubahan slope (kemiringan). Kondisi seperti inilah yang dimaksud dalam soal (jawaban yang benar).

3. Pilihan Jawaban (C) harga X dan Y naik 10 %, pendapatan nominal turun 5%
Ketika harga barang X dan Y naik 10% garis anggaran akan bergeser ke kiri (bawah) ditambah lagi dengan penurunan pendapatan nominal yang turun 5%, sehingga garis anggaran akan bergeser ke kiri lagi.

4. Pilihan Jawaban (D) harga X dan Y turun 10%, pendapatan nominal turun 10%
Ketika harga barang X dan Y turun 10%, harusnya garis anggaran bergeser ke kanan tanpa mengubah slope, tapi karena diikuti dengan penurunan pendapatan nominal yang juga 10%, maka posisi garis anggaran tetap (tidak bergeser).

5. Pilihan Jawaban (E) harga X dan Y naik 10%, pendapatan nominal turun 10%
Pada kondisi ini kasusnya sama dengan pilihan jawaban (C) hanya saja karena pendapatannya turun lebih besar, yaitu 10% (pada pilihan C hanya 5%). Sehingga pergeseran garis anggaran lebih ke kiri (ke bawah).

Demikian pembahasan contoh soal seleksi OSN 2014 khususnya pada topik Garis Anggaran. Semoga bermanfaat.

Kelebihan dan Kekurangan Kuesioner Sebagai Alat Pengumpul Data Penelitian

By With No comments:
Kuesioner atau sering juga dikenal dengan istilah angket merupakan salah satu instrumen pengumpul data paling populer yang digunakan dalam penelitian pendidikan maupun sosial. Di dalam kuesioner terdapat beberapa pertanyaan atau pernyataan yang berhubungan erat dengan permasalahan penelitian yang hendak dipecahkan.

Kuesioner tersebut disusun sedemikian rupa lalu disebarkan kepada responden untuk memperoleh berbagai informasi di lapangan. Dalam penelitian kuantitatif, kuesioner merupakan instrumen yang paling sering digunakan, karena kuesioner mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan alat pengumpul data yang lain. Menurut Sukardi (2012) beberapa kelebihan kuesioner adalah sebagai berikut:
  1. Dapat mengungkapkan pendapat atau tanggapan seseorang baik secara individual maupun kelompok terhadap permasalahan
  2. Dapat disebarkan untuk responden yang berjumlah besar dengan waktu yang relatif singkat
  3. Tetap terjaganya objektivitas responden dari pengaruh luar terhadap satu permasalahan yang diteliti
  4. Tetap terjaganya kerahasiaan responden untuk menjawab sesuai dengan pendapat pribadi
  5. Karena diformat dalam bentuk surat, maka biaya lebih murah
  6. Penggunaan waktu yang relatif fleksibel sesuai dengan waktu yang telah diberikan peneliti
  7. Dapat menjaring informasi dalam skala luas dengan waktu yang cepat.
Disamping memiliki beberapa keunggulan tersebut, kuesioner juga mempunyai beberapa kelemahan yang jika tidak diperhatikan oleh peneliti dapat menyebabkan kegagalan dalam mencari informasi yang diperlukan. Menurut Sukardi (2012) beberapa kelemahan kuesioner tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Peneliti tidak dapat melihat reaksi responden ketika memberikan informasi melalui isian kuesioner
  2. Responden tidak memberikan jawaban dalam waktu yang telah ditentukan
  3. Responden memberikan jawaban secara asal-asalan
  4. Kembalinya kuesioner tergantung pada kesadaran responden dalam menjawab dan mengantar lewat kantor pos.
Lebih lanjut Sukardi (2012) menjelaskan bahwa untuk memperoleh tingkat pengembalian kuesioner yang tinggi, peneliti hendaknya merencanakan strategi yang tepat untuk meningkatkan pengembalian kuesioner. Cara meningkatkan tingkat pengembalian ini ada bermacam-macam, diantaranya termasuk:
  1. Mengatur pengiriman kembali segera setelah permohonan selesai dijawab sebelum waktu berakhir
  2. Menggunakan jasa asisten dalam mendistribusikan dan mengambil jawaban kuesioner
  3. Menggunakan kiat yang menarik dan menguntungkan bagi para responden yang telah mengembalikan kuesioner jawaban. Cara tersebut misalnya dengan memberikan hadiah atau cindera mata, atau dengan undian dan hadiah menarik untuk responden yang telah mengirimkan jawabannya.
Referensi:
Sukardi. 2012. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Thursday, February 16, 2017

Berbagai Tantangan Implementasi Manajemen Sumber Daya Manusia

By With No comments:
Dalam implementasinya, manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) tidak lepas dari berbagai tantangan. Berikut dijelaskan beberapa tantangan yang dihadapi dalam mengimplementasikan manajemen SDM:

1. Pemutusan Hubungan Kerja
Kebijakan pemutusan hubungan kerja atau PHK, disadari atau tidak, membawa pengaruh yang besar baik terhadap perusahaan dan terutama bagi karyawan. Bagi pihak karyawan, mendapatkan pekerjaan pengganti tentu tidak mudah terutama bila karyawan tersebut tidak memiliki keterampilan khusus.

Hal ini diperburuk dengan adanya kebijakan yang kurang adil, hingga kekecewaan karyawan dapat dilampiaskan dengan tindakan yang kurang terpuji yang pada akhirnya dapat merugikan kedua belah pihak. Di sisi lain, kebijakan yang dipandang kurang adil dapat memicu keresahan karyawan lain hingga iklim kerja dapat terganggu.

Dalam kondisi seperti ini, manajemen SDM dituntut untuk dapat memberikan win-win solution terhadap kepentingan karyawan dan perusahaan sekaligus meminimalisir dampak negatif apabila kebijakan PHK terpaksa diberlakukan.

2. Pemogokan
Selain PHK, aksi mogok kerja juga dapat mempengaruhi kebijakan pengambangan sumber daya manusia. Adanya mogok kerja menunjukkan bahwa system yang ada dalam perusahaan kurang berfungsi dengan baik.

Manajemen SDM melalui departemen SDM dihadapkan pada tantangan untuk dapat mengelola konflik tersebut, mencegah, atau menyelesaikan pemogokan agar tidak mempengaruhi kinerja karyawan atau departemen lain dalam perusahaan.

3. Pertumbuhan Angkatan Kerja
Lajunya pertumbuhan penduduk membawa dampak yang luar biasa terhadap penyediaan lapangan kerja. Semakin tinggi angkatan kerja, maka tugas pengembangan sumber daya manusia menjadi penting untuk dilaksanakan.

Manajemen SDM diharapkan mampu mempersiapkan, mengoptimalkan dan mempertahankan sumber daya manusia yang kompeten dan profesional untuk menjalankan aktivitas perusahaan.

4. Produktivitas Tenaga Kerja
Salah satu fungsi utama dari pengembangan SDM adalah untuk meningkatkan produktivitas SDM tersebut bagi perusahaan. Berkaitan dengan hal tersebut, departemen SDM bertanggung jawab mengadakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas SDM seperti pelatihan dan pendidikan.

5. Daya Saing Kualitas Produk dan Harga Jual
Selain kualitas SDM yang unggul, dalam proses produksi juga memerlukan skill dan ketelitian dalam menghasilkan produk, sehingga akan menghasilkan produk yang berkualitas. Akan tetapi, dalam dunia bisnis, suatu produk tidak aka nada artinya tanpa adanya permintaan dari konsumen. Dalam hal inilah manajemen SDM diharapkan dapat memberikan kebijakan yang mampu mendorong para karyawan untuk menghasilkan produk yang berdaya saing sekaligus berkualitas.

6. Perdagangan Bebas ASEAN dan ASIA
Munculnya kebijakan global yang memberlakukan system perdagangan bebas tingkat dunia, menjadi permasalahan tersendiri. Hal tersebut sangat beralasan karena secara kualitas sumber daya manusia belum mampu menghadapi persaingan perdagangan bebas.

Oleh karena itu, adanya perdagangan bebas sesama anggota ASEAN dan wilayah ASIA menjadi tantangan tersendiri dalam rangka mempersiapkan diri untuk bersaing di kancah global. Melalui manajemen SDM, perusahaan diharapkan mampu menjawab tantangan tersebut dengan semakin meningkatkan kualitas SDM-nya agar mampu menjawab tantangan perdagangan bebas baik di tingkat ASIA maupun dunia.

7. Kualitas Manajemen
Pada dasarnya, majunya sumber daya manusia dalam suatu organisasi atau perusahaan tergantung pada system atau manajemen yang digunakan. Artinya semakin tinggi kualitas manajemen yang digunakan dalam mengelola sumber daya manusia, semakin besar pula peluang keberhasilan dalam mengembangkan SDM.

Sumber:
Baedhowi. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia. Semarang: Pelita Insani.

Monday, January 30, 2017

Program Peningkatan Mutu SDM dalam Organisasi

By With No comments:
Munculnya kompleksitas permasalahan yang menyeruak di berbagai lini, membutuhkan terapi atau pendekatan dalam menyelesaikan problematika tersebut. Beberapa gagasan atau program peningkatan mutu sumber saya manusia adalah sebagai berikut:

1. Desentralisasi
Munculnya tren baru dalam pengelolaan organisasi adalah dengan mengubah pola kepemimpinan sentralisasi menjadi desentralisasi. Dengan desentralisasi, semua elemen, terutama karyawan mempunyai kewenangan atau andil dalam setiap kebijakan yang berlaku di organisasi.

Pola ini memberikan tanggung jawab yang besar terhadap karyawan untuk bersama-sama membangun organisasi atau perusahaan agar semakin berkembang dan maju. Dengan demikian, semua elemen yang ada di perusahaan mempunyai tanggung jawab yang sama, sesuai dengan kapasitas masing-masing.

2. Organisasi tanpa Batas
Upaya lain dalam menumbuhkembangkan kualitas sumber daya manusia adalah dengan megembangkan system/struktur organisasi tanpa batas. Dengan berorganisasi, masyarakat dapat menempa potensi diri mereka masing-masing dalam organisasi, melalui peningkatan kreativitas dan inovasi. Oleh sebab itu, dengan merebaknya organisasi, menjadikan indikasi bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia semakin matang.

3. Perencanaan Strategik
Untuk membangun dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia diperlukan perencanaan yang matang dan taktis, sehingga perkembangan kualitas dapat dipantau dengan baik. Perencanaan strategik ini mengedepankan bagaimana peningkatan mutu sumber daya manusia dibentuk dalam sebuah kurikulum, sehingga instrumen-instrumen yang dibutuhkan dalam pengembangan potensi diri, indikator-indikator keberhasilan perkembangan serta alat evaluasi dapat tersedia dengan baik.

4. Orientasi Visi/Misi
Manusia hidup di dunia pasti mempunyai tujuan hidup. Untuk dapat memenuhi tujuan tersebut, dibutuhkan visi dan misi. Demikian juga dalam organisasi, untuk dapat mengembangkan mutu sumber daya manusia yang ada dalam organisasi, diperlukan visi dan misi organisasi yang dijadikan landasan dalam mencapai tujuan. Dengan mengacu pada visi dan misi, seorang karyawan dapat termotivasi untuk dapat meningkatkan kapabilitas dan profesionalitasnya dalam mencapai tujuan.

5. Team Work
Berbagai cara/metode untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia tidak akan maksimal tanpa adanya kerjasama yang baik diantara karyawan, departemen dan manajemen. Lebih lanjut, semangat kerjasama tim/team work dapat mendorong para karyawan untuk belajar dari karyawan lain, sehingga dapat mendorong kemajuan bersama sekaligus lebih cepat menyelesaikan pekerjaan dan mengatasi persoalan.

Di samping itu, dengan kerja sama tim, setiap individu akan terpacu untuk menjadi yang terbaik, dan untuk menjadi yang terbaik tentunya dibutuhkan kemampuan dan keterampilan tersendiri. Oleh sebab itu, semangat sportivitas juga diperlukan dalam kerja tim ini, sehingga tujuan organisasi akan cepat tercapai.

6. Globalisasi
Derasnya arus globalisasi mensyaratkan manusia untuk menguasai teknologi, komunikasi dan informasi, karena dengan penguasaan tersebut manusia akan menjadi unggul di berbagai bidang. Terkait dengan pengembangan sumber daya manusia, maka menyongsong dan ikut andil dalam globalisasi adalah suatu keniscayaan, tentunya dibarengi dengan sumber daya manusia yang matang, yaitu mempunyai wawasan global, kapabel, dan profesional.

7. Good and Clean Government
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menunjang peningkatan sumber daya manusia, akan tetapi tanpa didukung dengan pemerintahan yang baik dan bersih hasil yang dicapai tidak akan maksimal dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, sinergi pihak-pihak terkait dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia ini harus ditingkatkan. Ibarat gayung bersambut, masyarakat susah payah menempa diri untuk meningkatkan kualitas hidupnya, selayaknya mendapatkan dukungan dari pemerintah yang dengan segala kekuasaannya dapat memberikan kemudahan dan mendorong guna terciptanya masyarakat Indonesia yang berkualitas.

Sumber:
Baedhowi. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia. Semarang: Pelita Insani.

Sunday, January 29, 2017

Arti Penting Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi

By With No comments:
Artikel kali ini akan membahas materi Manajemen Sumber Daya Manusia. Kami mengutip artikel ini dari buku Manajemen Sumber Daya Manusia yang ditulis oleh Prof. Dr. Baedhowi, M.Si. (Guru Besar Bidang Manajemen SDM di FKIP UNS).

Manajemen Sumber Daya Manusia memegang peran vital dalam sebuah organisasi, baik itu organisasi pemerintahan, industri, pendidikan, dan sebagainya. Apabila sumber daya manusia dalam organisasi dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, maka organisasi tersebut akan mampu menjalankan roda organisasi secara maksimal.

Dengan kata lain, manajemen sumber daya manusia sangat berperan dalam meningkatkan keefektivan dan efisiensi sebuah organisasi dalam mencapai tujuannya. Secara garis besar, manajemen sumber daya manusia memberikan berbagai manfaat sebagai berikut:

1. Kualitas (Quality)
Fungsi utama manajemen SDM adalah menciptakan manusia yang berkualitas sesuai dengan kompetensi atau keahliannya. Oleh sebab itu, dengan adanya manajemen SDM diharapkan tenaga kerja akan mampu memberikan manfaat pada diri sendiri dan organisasinya.

Tenaga kerja yang berkualitas akan mampu menghasilkan produk yang berkualitas pula. Inilah salah satu manfaat manajemen SDM dalam organisasi.

2. Kecepatan (Speed)
Suatu pekerjaan yang ditangani oleh ahlinya akan mampu menghasilkan output yang sesuai dengan harapan. Demikian juga ketika tenaga professional dituntut untuk kerja cepat, tenaga kerja tersebut akan mampu melakukan pekerjaan dengan penuh ketelitian dan ketepatan, sehingga dalam jangka waktu yang relatif singkat, semua pekerjaan dapat diselesaikan secara profesional.

3. Biaya Kepemimpinan (Leadership Cost)
Manajemen SDM yang baik akan dapat menjadikan pemimpin memiliki kemampuan menjalankan kepemimpinannya dalam suatu organisasi dengan baik pula. Kepemimpinan yang efektif sangat berpengaruh terhadap kebutuhan biaya dalam organisasi. Banyaknya biaya yang dikeluarkan oleh suatu organisasi dapat dilihat dari keefektivan kepemimpinan dalam menjalankan aktivitas organisasi.

Efisiensi penggunaan anggaran yang diperlukan dalam suatu kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh keefektivan seorang pemimpin dalam mengelola organisasinya. Dengan kata lain, pemimpin yang memiliki kemampuan manajemen SDM yang baik berdampak pada leadership cost yang lebih efisien.

4. Kemampuan Belajar dalam Beradaptasi (Adaptive Learning Ability)
Adanya pluralisme sumber daya manusia dalam suatu organisasi membutuhkan system komunikasi yang baik antar pihak manajemen dengan karyawan maupun sesama karyawan. Oleh sebab itu, untuk dapat mewujudkan sinkronitas tujuan antara pihak manajemen dengan karyawan tersebut, diperlukan manajemen sumber daya manusia.

Dengan adanya manajemen SDM ini, diharapkan masing-masing elemen mengetahui peran dan fungsinya, sehingga dapat mempermudah organisasi untuk mencapai tujuannya. Artinya, keberhasilan sebuah organisasi dapat dilihar dari sejauhmana kemampuannya dalam mengakomodir sumber daya manusia yang ada untuk belajar beradaptasi dengan dunia sekitarnya.

Sumber: 
Baedhowi. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia. Semarang: Pelita Insani.

Thursday, January 26, 2017

Pengertian Pembangunan Ekonomi Daerah

By With No comments:
Pada kesempatan ini, kami akan coba membahas pengertian pembangunan ekonomi daerah. Namun, sebelum kita membahas lebih jauh tentang pengertian pembangunan ekonomi daerah, ada baiknya jika kita membahas tentang pengertian daerah.

Menurut Arsyad (2010: 373) dari tinjauan aspek ekonomi, daerah mempunyai 3 definisi, yaitu:

1. Suatu daerah dianggap sebagai ruang dimana kegiatan ekonomi terjadi dan di dalam berbagai pelosok ruang tersebut terdapat sifat-sifat yang sama. Kesamaan sifat-sifat tersebut antara lain tercermin dari segi pendapatan per kapitanya, sosial-budayanya, geografisnya, dan lain sebagainya. Daerah dalam definisi seperti ini disebut dengan daerah homogen.

2. Suatu daerah dianggap sebagai suatu “ruang ekonomi” yang dikuasai oleh satu atau beberapa pusat kegiatan ekonomi. Daerah dalam definisi seperti ini disebut dengan daerah nodal.

3. Suatu daerah adalah suatu “ruang ekonomi” yang berada di bawah satu administrasi tertentu, seperti satu provinsi, kabupaten, kecamatan, dan sebagainya. Jadi, daerah disini didasarkan atas pembagian administratif suatu negara. Daerah dalam definisi seperti ini disebut dengan daerah perencanaan atau daerah administrasi.

Setelah kita mengetahui definisi daerah menurut Arsyad tadi, sekarang kita akan membahas pengertian pembangunan ekonomi daerah. Pengertian pembangunan ekonomi daerah ini kami kutip juga dari bukunya Lincolin Arsyad yang berjudul “Ekonomi Pembangunan”.

Menurut Arsyad (2010: 374) pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola setiap sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sector swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut.

Masalah pokok dalam pembangunan daerah terletak pada penekanannya terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan pada ciri khas (unique value) dari daerah yang bersangkutan (endogenous development) dengan menggunakan potensi sumber daya manusia, kelembagaan, dan sumber daya fisik secara lokal (daerah). Orientasi ini mengarahkan kita kepada pengambilan inisiatif-inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses pembangunan untuk menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang peningkatan kegiatan ekonomi.

Pembangunan Ekonomi Daerah adalah suatu proses, yaitu suatu proses yang mencakup pembentukan institusi-institusi baru, pembangunan industri-industri alternatif, perbaikan kapasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar, alih ilmu pengetahuan, dan pembangunan perusahaan-perusahaan baru.

Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Dalam upaya untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah dan masyarakatnya harus secara bersama-sama mengambil inisiatif pembangunan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah (beserta partisipasi masyarakatnya dan dengan menggunakan setiap sumber daya yang ada) harus mampu menaksir potensi setiap seumber daya yang diperlukan untuk merancang dan membangun perekonomian daerah.

Sumber Referensi:
Arsyad, Lincolin. 2010. Ekonomi Pembangunan: Edisi Ke-5. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan STIM YKPN.

Wednesday, January 25, 2017

Contoh Soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota dan Pembahasannya Bagian 4

By With No comments:
Pembahasan latihan soal OSN Ekonomi SMA kali ini berkaitan dengan materi pasar persaingan sempurna. Adapun contoh soalnya kami ambilkan dari salah satu soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota tahun 2012 Paket 2.

Berikut contoh soal OSN Ekonomi SMA yang akan kita bahas dalam artikel ini:
Soal
Bila perusahaan menambah produksi barang dari 200 unit menjadi 210 unit menyebabkan penerimaan totalnya bertambah dari Rp1.000.000,00 menjadi Rp1.500.000,00 sedangkan biaya total bertambah dari Rp600.000,00 menjadi Rp630.000,00, maka perusahaan akan …

a. menambah output, karena pada saat itu MR > MC

b. mengurangi output, karena pada saat itu MR < MC
c. berada pada laba maksimum
d. menambah output, karena pada saat itu MR < MC
e. mengurangi output, karena pada saat itu MR > MC
Jawaban
Jawaban atas soal di atas adalah a. menambah output, karena pada saat itu MR>MC. Langkah-langkah pengerjaannya adalah sebagai berikut:
Diketahui:
Q1       = 200
Q2       = 210
TR1      = Rp1.000.000,00
TR2      = Rp1.500.000,00
TC1      = Rp600.000,00
TC2      = Rp630.000,00

Ditanya:
Apa yang akan dilakukan oleh perusahaan ketika kondisinya seperti itu?

Jawab:
Langkah awal kita melihat pilihan jawaban yang disediakan, nampak bahwa pilihan jawabannya berhubungan dengan besarnya nilai Marginal Revenue (MR) dan Marginal Cost (MC), sehingga langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari besarnya MR dan MC tersebut.

Ketentuannya adalah apabila MR > MC maka perusahaan akan menambah produksi, sebaliknya apabila MR < MC maka perusahaan akan mengurangi produksi. Perusahaan seharusnya berhenti memproduksi barang ketika keuntungannya maksimum, yaitu ketika MR = MC.

Kondisi tersebut digambarkan dalam bagan di bawah ini:

Perhatikan 3 titik dalam bagan di atas, titik A adalah kondisi dimana MR<MC, titik C adalah kondisi dimana MC>MR dan titik B adalah kondisi dimana MR=MC.

Setelah kita mengetahui ketentuan di atas, langkah berikutnya adalah mencari besarnya nilai MR dan MC. MR merupakan tambahan keuntungan ketika perusahaan menambah 1 unit produksi. Dalam soal di atas, diketahui perusahaan menambah 10 unit produksi, sehingga keuntungannya bertambah Rp500.000,00 (Rp1.500.000,00 – Rp1.000.000,00). Untuk menentukan besarnya MR maka kita harus membagi Rp500.000,00 dengan 10 yaitu Rp50.000,00.

Setelah mengetahui besarnya nilai MR, selanjutnya kita harus mencari besarnya nilai MC, yaitu dengan cara membagi Rp30.000,00 (Rp630.000,00 – Rp600.000,00) dengan 10 unit, yaitu Rp3.000,00.

Sekarang, kita sudah mengetahui besarnya MR dan MC, yaitu Rp50.000,00 (MR) dan Rp3.000,00 (MC). Jelaslah bahwa nilai MR > MC sehingga perusahaan akan menambah produksinya sampai titik MR = MC.

Contoh Soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota dan Pembahasannya Bagian 3

By With No comments:
Pada kesempatan ini atau pada bagian 3 ini kami akan menampilkan contoh soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota yang berkaitan dengan materi elastisitas permintaan.

Adapun contoh soal elastisitas permintaannya kami ambilkan dari salah satu soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota pada tahun 2007. Meskipun tahun 2007 tergolong sudah cukup lama, tetapi esensi materi elastisitas permintaannya masih berlaku sampai saat ini.

Ok, langsung saja berikut kami tampilkan contoh soalnya:
Soal
Data demand of apple fruit in the hypermarket is at the following:
Price (P) per ton
Demand Quantity (Q)
Rp5.000.000,00 
50 ton
Rp6.000.000,00
40 ton
Pursuant of the table above, hence the demand of elasticity coefficient is....a. 0,04           b. 0,10           c. 0,40d. 1,00e. 1,10

Jawaban
Jawaban dari soal di atas adalah 1,00 (d). Sudah tahu bagaimana cara mendapatkannya?? Mari kita bahas…

Diketahui:
P1        = Rp5.000.000,00
P2        = Rp6.000.000,00
Q1       = 50 ton
Q2       = 40 ton

Ditanya:
Besarnya koefisien elastisitas permintaan = … ?

Jawab:
Untuk mencari besarnya elastisitas permintaan, digunakan formula sebagai berikut:

Dari formula di atas, kita bisa menghitung koefisien elastisitas permintaan yang ditanyakan dalam soal. Kita tinggal memasukkan angka-angka yang diketahui dalam soal pada formula tersebut, seperti di bawah ini:

Berdasarkan perhitungan di atas, jelaslah bahwa nilai koefisien permintaan yang ditanyakan pada soal di atas adalah 1,00 atau pada pilihan jawaban (d).

Tuesday, January 24, 2017

Masalah pada Kredit Pertanian

By With No comments:
Pada dasarnya, perkembangan sistem perekonomian di perdesaan dibagi ke dalam tiga tahap. Yaitu tahap subsisten, tahap peralihan dari subsisten ke modern dan tahap modern. Pada pertanian subsisten, produksi pertanian hanya ditujukan untuk keperluan konsumsi produksi, dan pada tahap ini kebutuhan akan dana kredir belum berkembang.

Dalam tahap peralihan, mulai terlihat adanya spesialisasi produksi dan teknologi baru, sehingga kebutuhan masyarakat yang semula terbatas hanya pada bahan makanan pokok mulai berkembang pada kebutuhan akan barang-barang lain dan sarana produksi. Kebutuhan-kebutuhan ini umumnya berasal dari luar desa dan memerlukan pengeluaran dalam jumlah yang besar sebelum memperoleh hasilnya. Oleh karena itu, pada tahap ini masyarakat memerlukan dana kredit, terutama kredit yang bersifat musiman.

Masalah perkreditan di daerah perdesaan melibatkan dua kelompok kepentingan, yaitu para petani (atau masyarakat perdesaan) di satu pihak sebagai debitur (peminjam atau penerima kredit), dan lembaga-lembaga perkreditan sebagai krediturnya. Kedua kelompok ini tentu saja berbeda dalam kepentingan dan tujuannya terhadap perkreditan, sehingga dapat menimbulkan perbedaan pandangan. Perbedaan pandangan ini terjadi antara lembaga perkreditan pemerintah dan masyarakat petani di daerah perdesaan.

Sebagai contoh kredit Bimas, yang kadang-kadang ditanggapi secara negatif oleh para petani. Padahal, siapa yang akan menyangkal manfaat Bimas bagi pembangunan nasional, dan juga siapa yang akan menyangkal komitmen Bimas bagi kepentingan petani. Tanggapan ini menunjukkan bahwa kadang-kadang terjadi perbedaan pandangan antara debitur dan kreditur. Untuk mengurangi perbedaan pandangan antara dua kelompok tersebut, maka lebih dahulu harus diketahui karakteristik, sikap dan nilai dari para petani (debitur) maupun kreditur, serta lingkungan hidupnya dalam kaitannya dengan usaha pertanian kecil, dan lain sebagainya.

Karakteristik petani meliputi luas lahan pertanian, tingkat pendapatan jumlah anggota keluarga dewasa, dan kesempatan kerja di luar usaha taninya. Sedangkan sikap dan nilai dari petani dapat tercermin dari hubungan baik dan saling mengerti antara kreditur dan debitur. Dalam perkreditan formal seringkali tidak terlihat adanya hubungan tersebut. Sebaliknya, di dalam kredit informal, meskipun dengan suku bunga yang relatif tinggi tetapi masih banyak dijumpai petani yang meminjam, karena hubungan antara kedua belah pihak berlangsung akrab dan kekeluargaan. Kreditur informal nampaknya telah memahami dengan baik sikap dan mental petani, sehingga dengan mudah dapat menarik simpati petani untuk meninjam pada mereka.

Sumber kredit informal ini bersifat fleksibel, tanpa prosedur (birokrasi) yang berbelit-belit, saling mengenal, dan berhubungan erat. Pinjaman juga tidak diawasi dengan ketat, para petani bebas menggunakan kreditnya, begitu juga kreditur mengetahui betul mengenai kelayakan kredit petani serta bersedia memberikan pinjaman kapan, di mana dan berapa saja yang diminta.

Sedangkan kredit formal tidak fleksibel, prosedur berbelit, kedua belah pihak tidak saling mengenal dengan baik, memerlukan waktu yang relatif lama, baik untuk mengambil maupun membayar kredit. Lebih jauh lagi, terkadang debitur harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk mengurusnya, sehingga suku bunga yang berlaku menjadi tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian di DAS Cimanuk, dapat disimpulkan bahwa di dalam penelitian tersebut kebutuhan kredit petani kecil telah dilayani oleh sumber informal. Petani besar sangat sedikit yang berhubungan dengan kreditur informal karena kebutuhan kredit mereka telah dipenuhi oleh lembaga perbankan serta lembaga kredit formal lainnya melalui kredit program kredit kecil perdesaan yang menarik dengan bunga yang relatif rendah. Petani kecil masih enggan dan tidak mau berurusan dengan lembaga kredit formal, karena dalam mendapatkan pelayanan lembaga kredit formal seringkali mereka dihadapkan pada prosedur yang lama dan berbelit-belit.

Oleh karena itu, pemerintah berusaha memperbaiki dan memperluas jangkauan pelayanan perkreditan agar dapat mencapai lapisan masyarakat perdesaan yang lebih rendah. Kemudian berbagai bentuk perkreditan mulai dikembangkan, seperti Kredit Candak Kulak (KCK), KIK, KMKP, dan lain sebagainya.

Beberapa lembaga perkreditan formal lainnya, seperti Bank Pembangunan Daerah (BPD), Koperasi dan lembaga-lembaga lainnya mencoba menyalurkan kredit-kredit sejenis seperti yang dikembangkan pemerintah setelah mereka melihat adanya perkembangan yang cukup pesat akan kebutuhan kredit.

Sumber Referensi:
Arsyad, Lincolin. 2010. Ekonomi Pembangunan: Edisi Ke-5. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan STIM YKPN.

Peranan Kredit pada Bidang Pertanian

By With No comments:
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara agraris. Kita ketahui pula bahwa mayoritas masyarakat di perdesaan bermatapencaharian sebagai petani. Rata-rata petani di perdesaan dalam kondisi ekonomi lemah, keterampilan kurang, tingkat pendidikan rendah, serta modal yang sangat terbatas. Berbagai keterbatasan tersebut mengakibatkan kecilnya usaha pertanian di perdesaan.

Oleh sebab itu, apabila terjadi perubahan sedikit saja pada produksi pertanian, akan membawa dampak pada kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat perdesaan. Satu contoh misal para petani mengalami gagal panen yang diakibatkan serangan hama wereng. Para petani tersebut tentu akan mencoba mencari alternatif sumber pendapatan lain untuk mengatasi kesulitannya tersebut, salah satunya berasal dari lembaga-lembaga perkreditan yang ada di perdesaan.

Lembaga perkreditan yang beroperasi di tingkat perdesaan sudah ada sejak jaman dahulu, meskipun bentuknya senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan jaman. Seorang ahli mengatakan bahwa lembaga perkreditan ini berperan bukan saja sebagai lambang ikatan antara golongan yang punya dan tidak, tetapi ada kalanya merupakan satu bentuk tenggang rasa yang dimanifestasikan dalam bentuk barang (in natura)

Pengaruh dari adanya pembangunan di sektor pertanian mulai Nampak pada daerah-daerah di mana tempat proses peralihan dari usaha pertanian subsisten ke usaha pertanian komersial terjadi. Secara teoretis, pada masa peralihan ini, kebutuhan akan dana kredit semakin diperlukan oleh masyarakat, sehingga keberadaan lembaga perkreditan yang semula bersifat lambang ikatan dan tenggang rasa, lama kelamaan akan berubah menjadi hubungan ekonomi yang kadang-kadang masih terselubung.

Pada jaman pemerintah Kolonial Belanda, masalah perkreditan di daerah perdesaan (terutama di pulau Jawa) sudah menjadi pusat perhatian pemerintah. Hal ini terbukti dengan didirikannya Lembaga Perkreditan Rakyat (LDR) pada tahun 1990-an, sebagai akibat dari adanya kegelisahan yang semakin tumbuh pada para pejabat pamong praja tentang kondisi ekonomi penduduk.

Setelah era kemerdekaan, keberadaan lembaga-lembaga perkreditan, baik resmi maupun tidak resmi semakin berkembang. Kredit Bimas dan lembaga Koperta yang kemudian menjadi BUUD atau KUD merupakan contoh lembaga-lembaga perkreditan yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian. Kemudian dalam tahun 1970-an, muncullah program KIK, KMKP, KCK, serta beberapa bentuk program perkreditan lainnya yang dijalankan oleh pemerintah dengan tujuan memberikan bantuan modal kepada pengusaha kecil agar lebih bergairah dalam meningkatkan kegiatan usahanya.

Disamping itu semua, bentuk perkreditan ini diharapkan dapat dinikmati secara merata oleh semua lapisan masyarakat, terutama bagi golongan petani kecil dan ekonomi lemah, sehingga dapat mengurangi ketergantungan mereka terhadap lembaga-lembaga perkreditan informal (misalnya rentenir, tukang kredit barang, petani kaya, dan lain-lain) dengan bunga yang relatif tinggi.

Sumber Referensi:
Arsyad, Lincolin. 2010. Ekonomi Pembangunan: Edisi Ke-5. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan STIM YKPN.

Sunday, January 22, 2017

Contoh Soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota dan Pembahasannya Bagian 2

By With No comments:
Melanjutkan pembahasan tentang soal dan pembahasan OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota, pada kesempatan ini kami akan menampilkan contoh soal OSN Ekonomi SMA tingkat Kabupaten/Kota tahun 2014. Adapun contoh soalnya adalah sebagai berikut:
Soal

Pada tingkat pendapatan Rp500.000,00 besarnya konsumsi Rp400.000,00, sedangkan pada tingkat pendapatan Rp1.000.000,00 besarnya konsumsi Rp600.000,00. Besarnya hasrat untuk menabung marginal adalah ....
a. 0,60
b. 0,50
c. 0,40
d. 0,25
e. 0,15
Jawaban
Jawaban dari soal di atas adalah 0,6 (a)
Adapun langkah-langkah penyelesaiannya adalah sebagai berikut:
Diketahui:
Y1        = Rp500.000,00
Y2        = Rp1.000.000,00
C1        = Rp400.000,00
C2        = Rp600.000,00

Ditanya:
Besarnya MPS (marginal propensity to save) atau hasrat menabung marjinal = … ?

Jawab:
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari besarnya hasrat menkonsumsi marjinal atau marginal propensity to consume (MPC) dengan rumus berikut ini:
                                         
Setelah nilai MPC diketahui, langkah berikutnya baru kita bisa mencari besarnya nilai MPS, yaitu 1 – MPC = 1 – 0,4 = 0,6

Tambahan Pembahasan:
Dari pembahasan jawaban atas soal OSN Ekonomi SMA tahun 2014 di atas, kita dapat mengetahui bahwa formula untuk mencari MPC adalah

Formula untuk mencari MPS hampir sama dengan formula MPC, yang membedakan adalah jika pada MPC kita harus mengetahui selisih konsumsi, sedangkan dalam MPS kita harus mengetahui besarnya selisih saving (tabungan) seseorang. Adapun formula untuk mencari MPS adalah sebagai berikut:


Selain itu, kita juga bisa mengetahui bahwa MPC + MPS = 1; sehingga kita bisa menentukan besarnya MPS dari MPC atau sebaliknya.