Cara Menangani Kenaikan Harga Barang Kebutuhan Pokok Menjelang Idul Fitri

Posted by Budi Wahyono on Sunday, April 21, 2013

Beberapa cara yang dapat ditempuh untuk menangani kenaikan harga barang kebutuhan pokok khususnya saat menjelang Ramadhan dan Idul Fitri adalah sebagai berikut.

1. Menyeimbangkan Produksi dengan Kebutuhan
Bulan Ramadhan kemudian dilanjutkan Hari Raya Idul Fitri, masyarakat mulai bersiap-siap menyambutnya dengan mulai mencari segala kebutuhan pokok untuk persediaan. Hal ini menyebabkan pola konsumsi dalam masyarakat mengalami perubahan.

Semula pola konsumsi masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya hanya untuk sesaat itu saja, kemudian berubah menjadi pola konsumsi untuk pemenuhan kebutuhan jangka waktu yang lama.

Upaya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan jangka waktu yang lama ini dengan meningkatkan persediaan barang  keperluan sebanyak-banyaknya untuk menjamin kebutuhan  yang akan datang  dengan cara saling mendahului di antara masyarakat untuk mencari dan membeli barang kebutuhan terutama kebutuhan pokok.

Hal ini menyebabkan konsumsi dalam masyarakat menjadi meningkat pesat. Meningkatnya konsumsi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dan persediaan untuk jangka waktu yang lama tidak seiring dengan ketersediaan barang-barang yang dibutuhkan masyarakat. Barang-barang dibutuhkan masyarakat dapat diperoleh dipasar-pasar dengan proses jual-beli.

Meningkatnya konsumsi masyarakat mengakibatkan barang kebutuhan menjadi langka, cepat habis bahkan lenyap. Kelangkaan barang kebutuhan di pasar-pasar mengakibatkan masyarakat panik. Kepanikan masyarakat dalam memperoleh barang kebutuhan mempengaruhi proses jual-beli di pasar-pasar.

Masyarakat berusaha secepatnya memperoleh barang kebutuhannya sementara pedagang di pasar-pasar berusaha menyediakan barang kebutuhan masyarakat secara lengkap dan sebanyak-banyaknya. Untuk menyediakan Barang-barang kebutuhan masyarakat untuk dijual, pedagang-pedagang berusaha memperoleh ketempat-tempat produksi barang kebutuhan masyarakat. Produksi barang kebutuhan masyarakat terbatas cenderung jumlah produksi barang tetap. Memaksa pedagang memperoleh barang kebutuhan dari sesama pedagang yang masih memiliki persediaan berapapun tinggi harga barang kebutuhan masyarakat.

Akibatnya harga barang kebutuhan masyarakat di pasar-pasar menjadi bergejolak atau harga-harga naik.  Dapat kita lihat bahwa adanya Peningkatan yang pesat dan cepat dalam masyarakat untuk memperoleh barang kebutuhannya, adanya Kelangkaan penyediaan barang-barang kebutuhan masyarakat di pasar-pasar.

Peristiwa kenaikan harga-harga barang sudah sering terjadi dan berulang-ulang setiap tahunnya. Untuk mengatasi peristiwa kenaikan harga-harga  diperlukan Peranan penting sektor produksi barang kebutuhan masyarakat, kepentingan sektor produksi adalah meningkatkan jumlah produksi barang-barang kebutuhan masyarakat pada saat terjadinya peningkatan konsumsi masyarakat.

Peranan sektor produksi  oleh perusahaan swasta maupun Perusahaan Negara harus lebih tanggap terhadap peristiwa kenaikan harga-harga karena peristiwa kenaikan harga-harga terjadi berulang-ulang setiap tahunnya. Namun masih diperlukan juga peranan pemerintah dalam hal memonitor jumlah konsumsi masyarakat dan jumlah barang kebutuhan masyarakat yang di hasilkan oleh sektor produksi, menerbitkan kebijakan impor bila masih kurang dalam penyediaan barang kebutuhan masyarakat dan mengawasi jalur distribusi barang supaya lancar sehingga Kenaikan harga-harga barang kebutuhan masyarakat dapat terkendali.

2. Operasi Pasar
Menjelang puasa, harga kebutuhan pokok mulai mengalami kenaikan. Guna menekan kenaikan harga kebutuhan pangan, pemerintah harus meningkatkan volume operasi pasar terutama di daerah-daerah rawan kenaikan harga. Operasi pasar ini perlu, untuk mencegah para spekulan menaikkan harga semaunya. Tujuannya melindungi masyarakat, supaya tidak terbebani kenaikan-kenaikan harga sembilan bahan pokok (sembako).

Operasi pasar disinyalir bisa menekan inflasi. Karena kenaikan harga kebutuhan pokok biasa diikuti inflasi. Pemerintah seharusnya mewaspadai gejolak harga pangan khususnya beras. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa setiap menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, harga-harga selalu mengalami kenaikan.

Menjelang bulan Ramadhan tahun ini pun, beberapa harga bahan pokok sepertinya akan terus mengalami kenaikan, seperti telur, ayam, dan terutama beras. Perubahan harga kebutuhan pokok khususnya beras harus segera direspon oleh pemerintah. Menjelang Ramadhan ini kebutuhan konsumtif masyarakat semakin tinggi, bila tidak ada operasi pasar maka harga dikhawatirkan akan terus melambung.

Harga bahan pokok yang mengalami kenaikan menjelang Ramadhan, menurut saya juga tidak terlepas dari pengusaha dan distributor bahan pokok yang nakal yang melakukan aksi penimbunan seperti yang saya ungkapkan di atas sebelumnya. Bukannya ingin menuduh, tetapi dari yang sudah-sudah hal tersebut telah sering terjadi di negeri yang kita cintai ini.

Peningkatan permintaan masyarakat dan keterbatasan stok dijadikan alasan bagi mereka untuk menaikkan harga. Oleh sebab itu, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan berikut jajarannya (dinas terkait) wajib mewaspadai (bukan mencurigai) aksi penimbunan stok bahan pokok tersebut. Tindakan seperti itu perlu dilakukan agar ketersediaan serta harga sembako tidak melambung sehingga bisa menimbulkan ketenangan masyarakat, khususnya yang akan menjalani puasa.

3. Pengendalian Stok
Kenaikan harga pangan di dunia ternyata mempengaruhi harga pangan di dalam negeri. Apalagi saat ini sepengetahuan saya sebagian besar bahan pangan yang ada di pasar dalam negeri diperoleh dari impor.

Karena itu, menurut saya selama indonesia masih tergantung pada pasokan pangan impor, kenaikan harga pangan dunia yang dipastikan terus terjadi setiap tahunnya akan berujung pada tambahan beban bagi masyarakat, ditambah lagi kebijakan pemerintah yang menyerahkan pengadaan bahan pangan kepada mekanisme pasar membuat harga barang kebutuhan pokok selalu mengalami kenaikan. Khususnya setiap menjelang hari besar keagamaan seperti puasa dan lebaran. 

Seharusnya kebijakan perekonomian nasional lebih berpihak pada kepentingan rakyat. Jangan semua dilepas kepada mekanisme pasar tanpa ada kendali dari pemerintah. Selain itu, pemerintah juga harus berani menindak tegas para pemain atau spekulan yang terbukti memainkan harga di pasaran. Sejauh yang saya tahu, stok beras nasional mayoritas dikendalikan oleh pihak swasta dan sisanya dipegang pemerintah melalui Perum Bulog.

Bisa kita bayangkan, dengan dominasi pihak swasta sebagai pengendali stok beras nasional, mereka bisa memainkan harga dengan leluasa sehingga sampai kapan pun Bulog tidak akan sanggup membeli gabah dari para petani kita. Ini karena harganya yang memang melewati harga pembelian pemerintah.

Pemerintah bakal mengalami kesulitan mengendalikan kestabilan harga bahan pangan maupun komoditas lainnya. Apalagi pasokan bahan pangan itu sebagian besar memang telah dipegang swasta. Kecuali ada kebijakan yang diubah mengenai harga pangan dari pemerintah yang memang seharusnya dikendalikan sendiri.

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment