Thursday, August 28, 2014

Tinjauan Tentang Kepemimpinan Situasional

By
Pentingnya kemampuan diagnostik bagi seorang pimpinan dalam aktivitas mempengaruhi dan mengarahkan bawahannya tidak dapat diabaikan. Paul Hersey dan Blanchard dalam Agus Dharma (1990) mengemukakan bahwa:
“Apabila kemampuan dan motif orang-orang yang dibawahinya sangat bervariasi, maka ia harus memiliki kemampuan diagnostik dan kepekaan untuk menginderai berbagai perbedaan itu.”
Dengan kata lain, seorang pimpinan harus memiliki keluwesan dan kemampuan yang diperlukan untuk memvariasikan perilakunya sendiri.

Apabila kebutuhan dan motif bawahannya berbeda-beda, maka mereka harus diperlakukan secara berbeda-beda pula. Oleh karena itu, seorang pimpinan harus mampu mengadaptasi gaya kepemimpinannya sesuai dengan perilaku bawahannya.

Kepemimpinan Situasional menurut Hersey dan Blanchard dalam Agus Dharma (1990) adalah kepemimpinan yang didasarkan pada hubungan antara perilaku tugas, perilaku hubungan dan tingkat kematangan bawahan. Sehingga walaupun terdapat banyak variabel-variabel situasional yang penting lainnya akan tetapi penekanan dalam kepemimpinan situasional ini hanyalah perilaku pemimpin dan bawahannya saja.

Perilaku bawahan ini amat penting untuk mengetahui kepemimpinan situasional, karena bawahan juga dapat menentukan kekuatan pribadi yang dimiliki pimpinan. Adapun penjelasan masing-masing hubungan dalam kepemimpinan situasional tersebut adalah sebagai berikut:

1. Perilaku Tugas
Perilaku tugas ini diartikan sebagai tindakan sejauh mana pimpinan memberikan petunjuk dan pengarahan kepada bawahannya, yaitu dengan memberitahukan kepada bawahan apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukan, kapan melakukan, siapa yang melakukan dan dimana mereka harus melakukannya. Hal ini berarti bahwa pimpinan menyusun tujuan dan menetapkan peranan mereka.

2. Perilaku Hubungan
Perilaku hubungan merupakan tingkatan sejauh mana pimpinan melakukan hubungan dua arah dengan cara mendengarkan dan memberikan dukungan atas pekerjaan yang dilakukan bawahan. Ini berarti pimpinan secara aktif menyimak dan mendukung upaya bawahannya dalam pelaksanaan pekerjaan mereka.

3. Tingkat Kematangan Bawahan (Pegawai)
Kematangan bawahan merupakan besarnya kemampuan dan kemauan bawahan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan situasional didasarkan pada hubungan antara perilaku tugas, perilaku hubungan dan tingkat kematangan bawahan. Dengan kemampuan pimpinan dalam mendiagnosis kematangan bawahan diharapkan seorang pimpinan memiliki keluwesan untuk memvariasikan perilakunya sendiri.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan situasional adalah suatu sikap seorang pimpinan yang harus memiliki keluwesan dan kemampuan yang diperlukan untuk memvariasikan perilakunya sendiri, yang berdasarkan pada hubungan antara perilaku tugas, perilaku hubungan dan tingkat kematangan bawahan.

Kepemimpinan Situasional merupakan salah satu sikap pimpinan perusahaan dalam memberikan arahan agar pegawai mampu mewujudkan tujuan perusahaan tersebut. Dalam perusahaan seorang pimpinan harus mempunyai sikap agar target produksi perusahaan tercapai.
Facebook Twitter Google+

Artikel Terkait:

0 comments:

Post a Comment