Thursday, January 12, 2017

Perbedaan Ketimpangan dan Kemiskinan

By
Wacana tentang ketimpangan dan kemiskinan sering dicampuradukkan meskipun kedua istilah ini bukan sesuatu yang sama. Kemiskinan umumnya menunjukkan tingkat pendapatan di bawah garis kemiskinan tertentu.

Penduduk dikatakan miskin apabila memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah kemiskinan. (Besarnya garis kemiskinan di Indonesia bias dilihat dari data BPS).

Ketimpangan (inequality) mendeskripsikan mengenai jurang antara mereka yang kaya (baca: pendapatan tinggi) dan miskin (baca: pendapatan rendah) (Taylor, 2012). Bisa jadi kemiskinan turun, namun tingkat ketimpangan dalam suatu masyarakat meningkat.

Hal tersebut terjadi ketika suatu perekonomian membaik sehingga mampu membantu si miskin sedikit lebih kaya, namun juga membuat si kaya semakin kaya. Sebaliknya, ketika perekonomian baru menurun, ketika pasar modal turun drastis, bias jadi si miskin membaik tingkat pendapatannya, namun banyak pemodal kaya yang mengalami kerugian akibat transaksi di pasar modal, sehingga ketimpangan justru membaik.

Sumber gambar: indo.wsj.com

Masalah ketimpangan ini dalam praktik sering memicu kecemburuan sosial dan kekerasan yang sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Sumber daya alam yang melimpah di Indonesia seyogyanya mampu memberikan kesejahteraan masyarakat jika kebijakan dan regulasi berpihak kepada rakyatnya.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya kesenjangan terjadi di mana-mana. Misalnya, di daerah miskin dan APBD-nya rendah, para pejabat dan kepala dinasnya mengendarai mobil-mobil mewah. Tak ketinggalan para kontraktor sebagai mitra kerja Pemda juga ikut menampilkan gaya hidup mewah di tengah kesulitan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.

Belum lagi perusahaan-perusahaan yang mengeksploitasi alam secara besar-besaran di daerah, masyarakat di sekitarnya hanya bisa menjadi penonton, mendorong kecemburuan sosial, ketegangan, dan terus memicu kesenjangan. Akibatnya masyarakat mengalami frustasi sosial yang berujung pada perbuatan kriminal atau kekerasan lainnya. (Sismosoemarto, 2012).

Selain ketimpangan dan kecemburuan sosial, kekerasan pada hakikatnya merupakan persoalan pemenuhan kebutuhan dasar. Studi beberapa ekonom dan sosiolog dunia tentang kekerasan lebih sering terjadi di negara-negara Afrika dan negara berkembang.

Mereka melakukan kekerasan karena frustasi akibat akses lapangan kerja yang sangat minim. Akibatnya mereka tidak bisa mendapatkan pemenuhan kebutuhan untuk kebutuhan sehari-hari. Pada gilirannya kekerasan muncul ketika masyarakat tidak tahu lagi ke mana dan bagaimana caranya memenuhi kebutuhan hidup bahkan untuk yang paling mendasar sekalipun.

Sumber:
Kuncoro, Mudrajat. 2015. Mudah Memahami dan Menganalisis Indikator Ekonomi. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
Facebook Twitter Google+

Artikel Terkait:

0 comments:

Post a Comment