Monday, February 29, 2016

Pengertian Valuta Asing (Valas)

By With 1 comment:
Valuta Asing (Valas) atau Foreign Exchange (Forex) atau Foreign Currency adalah mata uang asing atau alat pembayaran lainnya yang digunakan untuk melakukan atau membiayai transaksi ekonomi keuangan internasional dan yang mempunyai catatan kurs resmi paca bank central (Hamdy, 1998).

Penggunaan valuta asing atau mata uang asing sebagai alat pembayaran dalam perdagangan internasional disyaratkan karena umumnya negara-negara yang melakukan jual beli (berdagang) hanya menginginkan pembayaran atas barang yang diberikannya kepada negara lain dengan menggunakan mata uang negaranya, atau mata uang negara lain yang dianggap perlu/yang telah ditentukan sebagai standar misalnya Yen, USD dan sebagainya.

Umumnya setiap negara di dunia ini memiliki mata uang yang berbeda dengan negara lainnya. Mata uang itu diberi nama berdasarkan keinginan negara yang bersangkutan seperti Rupiah untuk Indonesia, Ringgit untuk Malaysia, Rupee untuk India, Peso untuk Philipina, dan lain sebagainya. Ada juga negara yang berbeda menggunakan nama mata uang yang sama seperti “Dollar” untuk Dollar Amerika Serikat, Dollar Singapura, Dollar Australia, dan sebagainya.

Dari beberapa banyak mata uang yang beredar di dunia hanya terdapat beberapa mata uang yang sering dipergunakan sebagai satuan hitung dan banyak dicari dalam transaksi perdagangan dan alat pembayaran internasional.

Sumber Gambar: solopos.com
Mata uang yang dimaksud umumnya adalah mata uang yang berasal dari negara-negara maju yang perekonomiannya kuat dan relatif stabil, dan biasanya mata uang tersebut sering mengalami apresiasi (kenaikan nilai) dibandingkan dengan mata uang lainnya. Mata uang itu diantaranya adalah Yen-Jepang, USD-AS, Deutchmark-Jerman, Poundsterling-Inggris, Franc-Perancis, dan lain sebagainya. Mata uang yang dimaksud di atas itulah yang sering disebut sebagai Hard Currency.

Berbeda dengan Hard Currency, terdapat juga mata uang yang jarang digunakan sebagai alat pembayaran dan kesatuan hitung serta nilainya sering mengalami depresiasi (penurunan nilai). Mata uang ini disebut sebagai Soft Currency. Umumnya mata uang ini dari negara-negara yang sedang berkembang, perekonomiannya relatif baru dan sedang tumbuh, misalnya Indonesia, Malaysia, Philipina, dan sebagainya.

Dewasa ini, mata uang suatu negara bukan hanya sebagai alat pembayaran dalam perdagangan internasional, melainkan juga telah menjadi komoditi yang juga diperdagangkan sebagaimana juga layaknya dengan barang biasa/umumnya. Bahkan dalam perkembangannya komoditi uang yang diperdagangkan volume transaksinya lebih besar, sangat lancar dan cenderung membahayakan perekonomian suatu negara yang mata uangnya diperdagangkan. Dalam hal ini tidak saja mata uang yang berjenis Hard Currency, tetapi juga Soft Currency menjadi incaran para pedagang valuta asing.

Banyaknya valuta asing yang dimiliki suatu negara (dalam istilah lainnya disebut sebagai cadangan devisa) menjadi tolok ukur bagi perekonomian suatu neraga, karena valuta asing sebagaimana juga emas dalam faham ekonomi merkantilis merupakan sasaran utama dalam perdagangan internasional. Semakin banyak suatu negara mengumpulkan valuta asing, berarti semakin besar kemampuan ekspornya dan rendahnya impor. Apabila suatu negara memiliki sangat banyak mata uang tertentu terutama yang berjenis Hard Currency, maka negara tersebut akan memiliki kemampuan yang sangat besar dalam pembiayaan pembangunan ekonominya.

Pada dasarnya mata uang asing tidaklah diperlukan dalam perdagangan internasional suatu negara apabila negara yang bersangkutan mampu menyediakan sarana dan prasaraba pembangunan dari dalam negerinya sendiri, baik berupa bahan baku, manusia dan teknologi. Akan tetapi mengingat perkembangan ilmu pengetahuan yang umumnya tidak merata dan tersedianya sumber daya alam pada suatu negara tersebut sangat terbatas, kurang bermutu dan bahkan hampir tidak ada (sedikit), menyebabkan suatu negara memerlukan negara lain untuk menutupi kekurangan kebutuhannya dalam pembangunan. Dalam rangka membeli kebutuhan itulah diperlukan mata uang asing tersebut, terutama mata uang asing berjenis Hard Currency.

Sumber:
Putong, Iskandar. 2013. Economics: Pengantar Mikro dan Makro: Edisi 5. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Wednesday, February 24, 2016

Konsep Keunggulan Absolut dan Komparatif

By With No comments:
Keunggulan Absolut
Salah satu cara menjawab pertanyaan mengenai biaya produksi kentang adalah membandingkan bahan baku yang diperlukan oleh dua produsen. Ekonom menggunakan istilah keunggulan absolut (absolute adventage) ketika membandingkan produktivitas satu orang, perusahaan, atau negara dengan yang lain.

Produsen yang memerlukan kuantitas bahan baku lebih sedikit untuk memproduksi sebuah barang dikatakan memiliki keunggulan absolut dalam memproduksi barang tersebut.

Misalnya, peternak memiliki keunggulan absolut, baik dalam memproduksi daging maupun kentang karena membutuhkan lebih sedikit waktu daripada petani dalam memproduksi satu unit dari kedua barang itu.

Peternak hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk menghasilkan satu gram daging, sedangkan petani membutuhkan 60 menit. Demikian pula, peternak membutuhkan waktu 10 menit untuk menghasilkan satu gram kentang, sedangkan petani membutuhkan 15 menit.

Sumber gambar: telegraph.co.uk

Berdasarkan informasi ini, dapat disimpulkan bahwa peternak memiliki biaya yang lebih rendah dalam menghasilkan kentang apabila biaya diukur berdasarkan jumlah bahan baku (dalam hal ini jam kerja).

Keunggulan Komparatif
Ekonom menggunakan istilah keunggulan komparatif (comparative adventage) ketika menguraikan biaya kesempatan untuk dua produsen. Produsen yang mengorbankan lebih sedikit barang untuk menghasilkan produk X memiliki biaya kesempatan yang lebih kecil dalam memproduksi X dan dikatakan ia memiliki suatu keunggulan komparatif dalam memproduksi X.

Sebagai contoh, misalnya seorang petani memiliki biaya kesempatan yang lebih kecil dalam meproduksi kentang dibandingkan dengan peternak: satu gram kentang bagi petani biayanya ¼ gram daging, sedangkan biaya bagi peternak adalah ½ gram daging.

Sebaliknya, peternak memiliki biaya kesempatan yang lebih kecil dalam meproduksi daging dibandingkan dengan petani. Satu gram daging biasanya bagi peternak adalah 2 gram kentang, sedangkan biaya bagi petani adalah 4 gram kentang.

Oleh karena itu, petani mempunyai keunggulan komparatif dalam memproduksi kentang, sedangkan peternak memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi daging.

Walaupun, mungkin terjadi, seseorang memiliki keunggulan absolut untuk dua barang (seperti peternak yang telah dicontohkan di atas), tidak mungkin bagi seseorang memiliki keunggulan komparatif untuk 2 barang. Karena biaya kesempatan untuk suatu barang adalah kebalikan dari biaya kesempatan barang yang lain, jika biaya kesempatan seseorang relatif tinggi, maka biaya kesempatan orang tersebut untuk barang yang lain relatif rendah.

Keunggulan komparatif mencerminkan biaya kesempatan relatif. Kecuali dua orang memiliki biaya kesempatan yang sama, seseorang akan memiliki keunggulan komparatif pada satu barang dan orang lain memiliki keunggulan komparatif pada barang yang lain.

Sumber:
Mankiw, N. Gregory; Quah, E.; Wilson P. 2012. Pengantar Ekonomi Mikro: Edisi Asia. Jakarta: Salemba Empat.

Tuesday, February 23, 2016

Keuangan itu Menarik

By With No comments:
Apakah judul artikel ini terdengar seperti iklan bagi Anda? Kalaupun terdengar seperti iklan, perhatikan uraian berikut ini. Individu mungkin dihadapkan pada masalah bagaimana kelebihan penghasilan mereka akan disimpan.

Tersedia berbagai alternatif yang mungkin dipilih oleh individu tersebut. Karena mereka dihadapkan pada berbagai pilihan, mereka harus mengambil keputusan. Keputusan yang diambil merupakan keputusan keuangan.

Sebagian mungkin akan memilih untuk menyimpan kelebihan penghasilan tersebut dalam bentuk deposito rupiah, yang lainnya mungkin menyimpannya dalam bentuk deposito dollar, sedangkan di lain pihak lagi mungkin digunakan untuk membeli sebidang tanah, dan lain sebagainya.

Mengapa mereka tersebut memilih jenis penggunaan dana tertentu? Pertimbangannya tentu saja adalah penggunaan dana tersebut diharapkan akan mendatangkan keuntungan.

Demikian juga apabila seseorang memerlukan suatu aktiva tertentu (mobil, rumah) yang tidak dapat dibayar secara tunai. Individu tersebut akan mencari sumber pembiayaan yang dirasa paling menguntungkan (seperti pinjaman dengan bunga yang paling murah) untuk membiayai kebutuhannya. Berbagai contoh tersebut menunjukkan keputusan-keputusan keuangan yang sering dihadapi individu.

Sumber gambar: omegasoftindo.net

Masalah yang sama juga dihadapi oleh sebuah perusahaan. Perusahaan memerlukan berbagai kekayaan (mesin, gedung, kendaraan bermotor, persediaan bahan baku, dan sebagainya) untuk menjalankan operasinya. Untuk itu perusahaan perlu mencari sumber dana untuk membiayai kebutuhan untuk operasional tersebut. Dalam suatu organisasi, pengaturan kegiatan keuangan sering disebut sebagai manajemen keuangan.

Untuk melaksanakan manajemen keuangan tersebut perlu dipahami teori keuangan. Teori keuangan menjelaskan mengapa suatu fenomena di bidang keuangan terjadi dan mengapa keputusan keuangan tertentu perlu diambil dalam menghadapi persoalan keuangan tertentu.

Dengan kata lain, teori keuangan mencoba menjelaskan alasan pengambilan keputusan di bidang keuangan. Struktur pengambilan keputusan yang logis akan menghasilkan jawaban yang kebih baik terhadap berbagai pertanyaan normatif (seperti bagaimana seharusnya kebijakan investasi yang harus diambil), apabila pengambil keputusan mempunyai sejumlah teori positif yang mampu menjelaskan konsekuensi pilihan yang akan diambil (seperti apa dampak yang akan ditanggung apabila perusahaan merubah keputusan investasinya).

Pemahaman teori keuangan tersebut bukan hanya berguna bagi mereka yang bertanggung jawab dalam bidang keuangan pada suatau organisasi, tetapi juga untuk individu, bagi kita semua dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman teori keuangan akan memudahkan kita untuk memahami berbagai masalah keuangan yang mungkin dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itulah kita mengatakan bahwa keuangan itu menarik. Menarik untuk dipelajari, sehingga dirumuskan suatu teoti yang disebut teori keuangan, dan juga menarik untuk dipecahkan atau diselesaikan karena penuh tantangan.

Sumber:
Suad Husnan & Enny Pudjiastuti. 2015. Dasar-dasar Manajemen Keuangan: Edisi Ketujuh. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

Wednesday, February 17, 2016

Model Pembelajaran yang Menarik

By With No comments:
Pembelajaran yang menarik adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yaitu konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).

Pembelajaran yang menarik merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dalam konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan atau keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (dutransfer) dari satu permasalahan atau konteks ke permasalahan atau konteks lainnya.

Sumber Gambar: bimba-aiueo.com
Model pembelajaran biasanya disusun berdasarkan prinsip dan teori ilmu pengetahuan. Para ahli menyusun model-model pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan, teori-teori psikologis, sosiologis, psikiatri, analisis sistem atau teori-teori lain (Joyce and Weil, 1980). Joyce & Weil mempelajari model-model pembelajaran berdasarkan teori yang dikelompokkan menjadi empat model pembelajaran.

Model tersebut merupakan pola umum perilaku pembelajaran untuk mencapai kompetensi atau tujuan pembelajaran yang diharapkan. Joyce & Weil berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain (Joyce & Weil, 1980). Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya.

Sumber:
Hamzah B. Uno & Nurdin Mohamad. 2015. Belajar dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta: Bumi Aksara.

Tuesday, February 16, 2016

Mengapa Guru Harus Kreatif?

By With No comments:
Akhir-akhir ini profesi guru cenderung mulai banyak diminati oleh hampir sebagian anak bangsa, meskipun kecenderungan ini lebih didasarkan pada adanya peningkatan kesejahteraan guru.

Saat ini kesejahteraan guru mulai diperhatikan oleh pemerintah, sementara itu diakui pula bahwa posisi guru di masyarakat dianggap sebagai individu yang bersahaja dan terhormat karena mempunyai kompetensi nilai, kepribadian serta skill di atas rata-rata masyarakat sekitarnya.

Di sisi lain, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sumber daya manusia terdidik menempatkan pendidikan sebagai kompetensi dasar guna memenuhi kebutuhan peningkatan kualitas hidupnya. Untuk itu tuntutan terhadap layanan pendidikan yang bermutu semakin menguat.

Dengan demikian pendidikan harus diorganisir dalam sebuah sistem supaya investasinya jelas, efektif dan terkendali. Layanan pendidikan yang bermutu dalam pendekatan sistem (input-proses-output), memosisikan guru sebagai komponen esensial dalam sistem pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran.

Perannya sangat strategis, terutama dalam kegiatan pembelajaran, peran guru sebagai agen perubahan dalam proses pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Sumber Gambar: sekolahmenyenangkan.org

Guru menjadi faktor kunci untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Dengan demikian peran guru menjadi utama dalam pembangunan nilai keunggulan setiap anak bangsa. Tuntutan masyarakat terhadap layanan pendidikan yang bermutu semakin mendorong guru untuk kreatif menciptakan layanan pembelajaran inovatif, berpusat pada siswa dan dilandasi nilai-nilai religi dan kearifan lokal.

Nilai-nilai religi dan kearifan lokal menjadi “ruh” dan pendukung kekuatan (support power) bagi guru untuk lebih memerankan kedudukan dan fungsi profesionalnya serta meningkatkan layanan pendidikan yang berkualitas, terjangkau, dan berkeadilan.

Bagimanakah seorang guru yang kreatif? Sebuah pertanyaan yang mendasar dan harus menggugah hati nurani guru-guru kita.

Sumber:
Hamzah B. Uno & Nurdin Mohamad. 2015. Belajar dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta: Bumi Aksara.

Sunday, February 14, 2016

Evaluasi dan Penilaian, Sama ataukah Berbeda?

By With No comments:
Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang secara bahasa diartikan penilaian atau penaksiran (Echols dan Shadily, 1992).

Menurut Miller (2008) evaluasi diartikan sebagai “a qualitative judgement that uses measurement results from test and assessment information to assign grades” (suatu pertimbangan kualitatif yang menggunakan hasil pengukuran melalui informasi tes dan asesmen untuk menentukan kualitas).

Daniel L. Stufflebeam dan Anthony J. Shinkfield (1985) secara singkat merumuskan evaluasi sebagai berikut: “Evaluation is the systematic assessment of the worth or merit of some objects” (Evaluasi adalah penilaian sistematis tentang harga atau jasa beberapa objek).

Dengan demikian maka evaluasi antara lain merupakan kegiatan membandingkan tujuan dengan hasil dan juga merupakan studi yang mengombinasikan penampilan dengan suatu nilai tertentu.

Lebih lanjut Gronlund (1981) mengemukakan “evaluation is the systematic process of collecting, analyzing and interpreting instructional objectives” (evaluasi adalah proses yang sitematis untuk mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasikan informasi untuk menentukan tingkat penguasaan peserta didik terhadap tujuan pembelajaran).

Sejalan dengan beberapa pendapat di atas, Tim Depdiknas (2004) mengemukakan evaluasi atau penilaian adalah serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

Sumber Gambar: remarkablegroup.co.uk

Berdasarkan beberapa pengertian ini kita dapat megikhtisarkan bahwa penilaian hasil belajar ujungnya adalah pada kegiatan pengambilan keputusan secara tepat tentang proses dan hasil belajar. Untuk dapat mengambil keputusan secara tepat tentang hasil belajar tersebut perlu didukung oleh data secara akurat dan terpercaya.

Data tersebut dikumpulkan melalui kegiatan pengukuran terhadap hasil belajar baik dengan menggunakan instrumen tes maupun non tes. Jadi maksud penilaian adalah memberi nilai tentang kualitas tertentu. Penilaian tidak hanya sekedar mencari jawaban terhadap pertanyaan tentang apa, tetapi lebih diarahkan kepada menjawab pertanyaan bagaimana atau seberapa jauh suatu proses atau suatu hasil yang diperoleh seseorang atau suatu program.

Penilaian di sini diartikan sebagai padanan kata evaluasi. Memang ada sebagian pendapat yang menyatakan istilash evaluasi (evaluasi pendidikan) umumnya digunakan untuk kegiatan pendidikan yang cakupannya lebih luas dan objek yang dinilai pun juga lebih kompleks, misalnya evaluasi pendidikan secara nasional atau regional. Sedangkan istilah penilaian digunakan pada cakupan sekolah atau kelas dengan objek yang terbatas terkait dengan proses dan hasil kegiatan belajar mengajar.

Jadi, kesimpulannya istilah evaluasi bisa disamakan dengan penilaian. Namun, pada konteks tertentu evaluasi bisa juga dibedakan dengan penilaian, evaluasi cakupannya lebih luas, sedangkan penilaian lebih sempit.

Sumber Referensi:
Sukirman. 2012. Pengembangan Sistem Evaluasi. Yogyakarta: Insan Madani.

Saturday, February 13, 2016

Pengertian Pembelajaran Inovatif dan Tipe-tipenya

By With No comments:
Pembelajaran inovatif adalah suatu proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga berbeda dengan pembelajaran pada umumnya yang dilakukan oleh guru (konvensional).

Pembelajaran konvensional akan membuat peserta didik kurang tertarik dan termotivasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran yang berakibat pada rendahnya hasil belajar siswa serta tidak bermakna pengetahuan yang diperoleh siswa.

Disamping itu, pengetahuan yang diperoleh siswa di dalam kelas cenderung artifisial dan seolah-olah terpisah dari permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang dialami siswa.

Pembelajaran inovatif lebih mengarah pada pembelajaran yang berpusat pada siswa. Proses pembelajaran dirancang, disusun dan dikondisikan untuk siswa agar belajar.

Dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa, pemahaman konteks siswa menjadi bagian yang sangat penting, karena dari sinilah seluruh rancangan proses pembelajaran dimulai.

Sumber gambar: education.vic.gov.au

Hubungan antara guru dan siswa menjadi hubungan yang saling belajar dan saling membangun. Otonomi siswa sebagai pribadi dan subjek pendidikan menjadi titik acuan seluruh perencanaan dan proses pembelajaran. Pembelajaran semacam ini disebut dengan pembelajaran aktif.

Pembelajaran aktif merupakan proses pembelajaran dimana seorang guru harus dapat menciptakan suasana yang sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan dan juga mengemukakan gagasannya. Disamping aktif, pembelajaran juga harus menyenangkan.

Pembelajaran yang menyenangkan berkaitan erat dengan suasana belajar yang menyenangkan sehingga siswa dapat memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar. Keadaan yang aktif dan menyenangkan tidaklah cukup, jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu menghasilkan apa yang harus dikuasai oleh para siswa, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan yang harus dicapai.

Sumber:
Hamzah B. Uno & Nurdin Mohamad. 2015. Belajar dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta: Bumi Aksara.