Saturday, October 25, 2014

Konsep Biaya dan Biaya Peluang/Kesempatan (Opportunity Cost)

By With No comments:
Biaya
Menurut Mankiw (2012) “the cost of something is what you give up to get it” (biaya merupakan apa yang dikorbankan untuk memperoleh sesuatu). Untuk mendapatkan sesuatu yang kita butuhkan dan inginkan terkadang kita harus mengorbankan sesuatu, biasanya berupa uang untuk membeli sesuatu tersebut.

Mungkin, bagi sebagian besar orang “biaya” selalu berupa uang, padahal biaya tidak selalu berupa uang. Contoh:
  1. Fajar membeli shampo dengan uang Rp5000,00 (dalam kasus ini, biaya memang berbentuk uang Rp5000,00). 
  2. Untuk mendapatkan 1kg buah apel, Ibu Ani harus rela mengeluarkan 2kg beras (dalam kasus ini, biayanya adalah 2kg beras, dan buka berupa uang).
Sampai di sini pasti sudah jelas ya? bahwa biaya adalah “apa yang dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu” uang merupakan salah satu bentuk biaya, tetapi biaya tidak selalu berbentuk uang.

Biaya Peluang/Kesempatan (Opportunity Cost)
Kita ulangi sekali lagi bahwa biaya adalah “apa yang dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu”. Lalu, apa yang dimaksud dengan biaya peluang/kesempatan (opportunity cost)??

Yap, biaya peluang/kesempatan (opportunity cost) adalah peluang/kesempatan yang dikorbankan untuk mendapatkan peluang/kesempatan yang lain.

Contoh (1):
Misalkan seseorang memiliki uang Rp.10.000.000. Dengan uang sebesar itu, ia memiliki kesempatan untuk bertamasya ke Bali atau membeli sebuah Iphone. Jika ia memilih untuk membeli Iphone, ia akan kehilangan kesempatan untuk menikmati keindahan Bali; begitu pula sebaliknya, apabila ia memilih untuk bertamasya ke Bali, ia akan kehilangan kesempatan untuk menonton Iphone.

"Kesempatan yang hilang" itulah yang disebut sebagai biaya peluang/kesempatan (opportunity cost).

Sumber gambar: beybong.com
Contoh (2):
Jika saya setelah lulus SMA dan beruntung masuk ke perguruan tinggi, maka saya mungkin menghitung biaya kuliah (seperti biaya semesteran, kos, buku pelajaran, praktikum, penelitian, dan lainnya) selama satu semester sebesar Rp 9.000.000,00.

Apakah hal ini berarti bahwa jumlah Rp9.000.000,00 itulah yang merupakan biaya peluang untuk kuliah di perguruan tinggi???

Jawabannya adalah “TIDAK”, uang Rp9.000.000,00 adalah “BIAYA” bukan “BIAYA KESEMPATAN”.

Lalu biaya peluangnya yang mana??
Jika setelah lulus SMA saya tidak kuliah, tetapi bekerja di sebuah perusahaan dan selama 6 bulan (1 semester) saya mendapatkan gaji sebesar Rp10.000.000,00. Dengan kata lain, karena saya kuliah berarti saya kehilangan peluang/kesempatan untuk mendapatkan gaji Rp10.000.000,00 tiap semester.

Biaya peluang dihitung dari kesempatan yang hilang, dalam kasus ini adalah gaji sebesar Rp10.000.000,00 selama satu semester.

Referensi:
Mankiw, N. Gregory. 2012. Principles of Microeconomics: 6th Edition. (E-Book). South-Western Cengage Learning.

Monday, October 20, 2014

Macam dan Jenjang Kebutuhan Menurut Abraham H. Maslow

By With No comments:
Macam dan jenjang kebutuhan menurut Abraham H. Maslow ada 5 (lima) yaitu: 

1. Physiological needs  (kebutuhan fisik) 
Kebutuhan fisik merupakan kebutuhan dasar. Sebelum seseorang mempunyai kebutuhan lain, kebutuhan fisik ini pasti akan muncul paling dahulu dan berusaha untuk diusahakan paling dahulu. Kebutuhan fisik merupakan dasar oleh karena timbul rasa yang petama timbul dari pada seseorang yaitu rasa lapar dan rasa haus.

Masa muncul lebih dahulu sebelum seseorang memiliki rasa ingin berpakaian, bergaul, perasaan penting, dan lain sebagainya. Dengan demikian   kebutuhan   fisik   pertama   berupa kebutuhan makan dan minum.

Kebutuhan fisik dinamakan kebutuhan dasar oleh karena di samping alasan tersebut di atas, ada alas an lain yang lebih utama yaitu alasan untuk dapat hidup, untuk kemudian dapat menimbulkan berbagai-bagai kebutuhan lain.

2. Safety needs atau security needs  (kebutuhan keamanan) 
Kebutuhan keselamatan atau kebutuhan keamanan atau sering disebut gabungan  kebutuhan  keselamatan dan keamanan merupakan jenjang  kebutuhan yang kedua. Kebutuhan keselamatan dan keamanan ada yang bersifat material sepeti  pakaian, penimahan, ada yang semi mateial seperti  kebutuhan  jaminan  hari tua, dan ada bersifat bukan material seperti kebutuhan yang berupa rasa aman di tempat kerja, keyaklnan tidak akan dipecat karena pendapat-pendapatnya yang berhubungan dengan perbaikan cara-cara kerja.

3. Affection  needs  atau  love   needs  atau  social  needs atau belonging needs 
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan jenjang ketiga. Yang termasuk kebutuhan jenis ini antara lain: keingingn seseorang untuk bergaul dengan orang lain, keinginan untuk bersekutu, keinginan untuk membina persahabatan antara sesamanya keinginan untuk diajak serta melakukan sesuatu misalnya dalam permainan, dalam pekerjaan, dan lain-lainnya.

4. Esteem needs atau egoistic needs 
Yang termasuk kebutuhan ini misalnya: kebutuhan hormat terhadap diri sendiri, hormat terhadap sesamanya, keinginan pengakuan atas prestasinya, perasaan penting, nama baik, status saling menghargai pendapat sesamanya.

5. Self-actualization needs atau self-realization needs atau self-fulfillment needs atau self-expression needs 
Yang termasuk kebutuhan jenjang kelima ini misalnya: kebutuhan untuk mengembangkan secara maksimum kemampuannya, kreativitasnya, kemahirannya, pengembangan secara penuh segala potensi yang ada pada diri seseorang. Apabila kebutuhan-kebutuhan seperti tersebut di atas divisualisasikan dalam bentuk gambar, maka akan tampak seperi berikut ini:


Sumber:
Dr. Hery Sawiji, M.Pd. (Dosen S1 dan S2 Pendidikan Ekonomi FKIP UNS).

Sunday, October 19, 2014

Tugas-tugas Kepala Kantor (Office Manager)

By With 2 comments:
Menurut J.C Denyer dalam bukunya Hery Sawiji yang berjudul “Manajemen Perkantoran”, tugas-tugas dari seorang kepala kantor (office manager) dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. In relation to top management
To support and implement the policies off top management kust be the first duty. Equally, it can be said that an office manager has a duty of reporing back anytging wich need reporting. Arrears of work acute work problems, and staffing diffuculties, fore axample, should be reported promptly. He will also be expected to cooperate with the O and M departement, if such a departement is in existence.

2. In relation to the work
He should ensure that work is done, in the preseri bed or best time, and ensure that it is of the best quality. An office manager will be expectid to  see that work continues regardless of sickness, annual holidays, etc. it will be his job to deal with work problems, as well as organizing the work as well as over the use and maintenance of machines.

3. In relation to subordinator
He should recognise that they perform the work, and should take an in them and in the work they do. He should assess the quality of staffing, and recommendation for promotion and or increased pay. He is often required to train staff, as well as to supervise hem. He should be the person to whom staff can turn for assistance, and he should encourage a team spirit, and set good example to staff. He should remember that to the medium of speddy communication from staff upwards, and from management downwards.

Sumber gambar: officemanagerjobdescription.blogspot.com
4. In relatoin to associates
Should an office manager have assocites on the same level in other departments, then he should cooperate with  them, even to the extent of transfering staff, if it is to the benefit or the business as a whole. He should ensure that there is good coordination with associates, that the office procedures follow common policies,  and that system “do vetail” with one another.

Sumber:
Dr. Hery Sawiji, M.Pd. (Dosen S1 dan S2 Pendidikan Ekonomi FKIP UNS).

Wednesday, October 15, 2014

Pengertian dan Sifat-sifat yang Harus Dimiliki Kepala Kantor (Office Manager)

By With No comments:
Yang dimaksud dengan kepala kantor atau office manager yaitu seseorang yang bertanggung jawab atas terselenggaranya pekerjaan kantor.

Kedudukan seorang office manager sangat penting, oleh karena office manager itu anggota pimpinan, dan ia merupakan mata rantai komando yang terakhir dari pimpinan yang tertinggi. Dia berkewajibanmengawasi bahwa pekerjaan kantor terlaksana dengan sebaik-baiknya, dan segala kebijaksanaan yang telah digariskan pimpinan benar-benar dilaksanakan.

Kedudukan office manager juga penting oleh karena dia merupakan bagian bawahan anggota pimpinan yang selalu dihubungi tiap-tiap hari. Sehingga moral dan kemauan kerjasama diantara mereka sangat tergantung kepadanya. Dan pula ia mempuyai tugas membantu memberikan nasehat dan melatih bawahannya, dan pada akhirnya tercapai tidaknya efisiensi di kantor tergantung pula kepadanya.

Oleh karena itu office manager mempunyai kedudukan yang sulit. Ia juga disebut “man in the middle”; ia harus menghadapi dua pihak, mewakili bawahan dan juga mewakili pimpinan. Tentu saja tanggung jawab utamanya adalah kepada pimpinan, tetapi apabila ia melupakan tugasnya kepada stafnya, ia akan disebut sebagai “a bad office manager”.

Sumber Gambar: bestofsampleresume.com
Pada alinea di atas diterangkan, bahwa kepala kantor mempunyai kedudukan yang penting. Oleh sebab itu, dia harus dipilih dari beberapa orang yang memiliki kemampuan dan atau keterampilan lebih dibanding denan orang lain (bawahannya). Dengan kata lain, untuk diangkat sebagai kepala kanor ia perlu memiliki sifat-sifat tertentu.

Menurut J.C Denyer seorang office manager harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
  1. Ia harus memiliki pengetahuan dan pengalaman (education and training) yang cukup 
  2. Ia harus memiliki tempramen yang sesuai dengan pekerjaannya 
  3. Ia harus mempunyai kemampuan untuk mendelegasikan kewenangannya 
  4. Ia harus mempunyai “good powers of organization”. 
  5. Ia harus mempunyai kemampuan untuk melihat segala itu “in the round”. 
  6. Ia harus mempunyai sifat kepribadian (personal qualities) yang diperlukan di dalam melaksanakan tugasnya. Misalnya; anthusiasme, sincerity, tact dan self control.
Di atas itu semua sifat yang terpenting yang harus ada pada seorang office manager adalah “leadership”, yaitu the ability to enthuse, to inspire, and guide subordinates. Inti dari leadership adalah “The ability to get the best out of people, as well as getting them to work as a tam instead of as individuals”.

Sumber:
Dr. Hery Sawiji, M.Pd. (Dosen S-1 dan S-2 Pendidikan Ekonomi FKIP UNS).

Saturday, October 11, 2014

Tugas dan Fungsi Kabupaten/Kota di Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Hal Kebijakan Menurut PP. No. 38 Tahun 2007

By With 1 comment:
PP. No. 38 Tahun 2007 merupakan Peraturan Pemerintah RI yang mengatur tentang “Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota”.

Dalam PP tersebut, kabupeten/kota memiliki beberapa tugas terkait dengan bidang kebijakan, yaitu sebagai berikut:
1. Penetapan kebijakan operasional pendidikan di kabupeten/kota sesuai dengan kebijakan nasional dan provinsi.

2. Perencanaan operasional program anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan nonformal sesuai dengan perencanaan strategis tingkat provinsi dan nasional.

3. Sosialisasi dan pelaksanaan standar nasional pendidikan di tingkat kabupeten/kota.

4. Pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan nonformal.

5. Pemberian izin pendirian serta pencabutan izin satuan pendidikan dasar, satuan pendidikan menengah dan satuan/penyelenggara pendidikan nonformal.

6. Penyelenggaraan dan/atau pengelolaan satuan pendidikan sekolah dasar bertaraf internasional.

Sumber gambar: kabarindonesia.com
7. Pemberian izin pendirian serta pencabutan izin satuan pendidikan dasar dan menengah berbasis keunggulan lokal.

8. Penyelenggaraan dan/atau pengelolaan pendidikan berbasis keunggulan lokal pada pendidikan dasar dan menengah.

9. Pemberian dukungan sumber daya terhadap penyelenggaraan perguruan tinggi.

10.Pemantauan dan evaluasi satuan pendidikan sekolah dasar bertaraf internasional.

11. Peremajaan data dalam sistem informasi manajemen pendidikan nasional untuk tingkat kabupaten/kota.

Demikianlah 11 tugas dan fungsi kabupaten/kota dalam hal kebijakan menurut PP. No. 38 Tahun 2007. Sudahkan tugas tersebut dilaksanakan oleh pemerintah daerah di kabupaten/kota anda??

Sumber bacaan:
Baedhowi. 2009. Kebijakan Otonomi Daerah Bidang Pendidikan: Konsep Dasar dan Implementasi. Semarang: Pelita Insani.
PP. No. 38 Tahun 2007 tentang “Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota”

Tuesday, October 7, 2014

Model-model Mengajar

By With No comments:
Dalam postingan terdahulu kita pernah membahas tentang Definisi dan Jenis Model Pembelajaran. Kata ‘Model Pembelajaran’ tentunya sudah familiar di telinga kita, terlebih lagi bagi praktisi pendidikan seperti guru, tutor maupun dosen.

Pada postingan kali ini kita akan mencoba membahas tentang ‘Model Mengajar’. Model mengajar merupakan kerangka konseptual yang mendeskripsikan dan melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tertentu serta berfungsi sebagai pedoman bagi perencanaan pengajaran bagi para pendidik dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran (Usman, 2012).

Menurut Mudyahardjo (2013) terdapat 4 jenis model mengajar, yaitu sebagai berikut:

1. Model Pemrosesan Informasi
Model ini adalah model mengajar yang berorientasi pada kemampuan memroses informasi dari siswa dan cara-cara mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka menguasai informasi.

2. Model Pengembangan Pribadi
Model ini adalah model mengajar yang berorientasi pada individu dan pengembangan diri pribadi.

3. Model Interaksi Sosial
Model ini adalah model mengajar yang berorientasi pada hubungan-hubungan individu dengan masyarakat atau dengan orang lain.


4. Model Pengubahan Tingkah Laku
Model ini adalah model mengajar yang berorientasi pada pengubahan tingkah laku melalui pengontrolan dan penguatan yang terus-menerus terhadap perangsang.

Menurut Usman (2012) Keempat kategori model mengajar tersebut telah dikembangkan dan diuji keberlakuannya oleh para pakar pendidikan. Keempat kategori ini termasuk ke dalam pengajaran sebagai sistem, memiliki ciri-ciri dan prinsip yang sama. Perbedaannya adalah terletak pada penggunaan perangkat keras atau alat-alat teknologi yang digunakan dalam mengimplementasikannya.

Sumber bacaan:
Mudyahardjo, Redja. 2013. Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.
Usman, Muhammad Idris. 2012. Model Mengajar Dalam Pembelajaran: Alam Sekitar, Sekolah Kerja, Individual, dan Klasikal. Lentera Pendidikan, Vol. 15 No. 2 Desember 252 2012: 251-266.

Monday, October 6, 2014

Sikap yang Harus Dimiliki Karyawan

By With No comments:
Tiap-tiap karyawan kantor pemerintah adalah abdi masyarakat seperti yang tertera di dalam Undang Undang Nomor 43 Tahun  1999 setiap pegawai negeri wajib setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, negara dan pemerintah. Yang dimaksud kesetiaan dan ketaatan adalah tekad dan kesanggupan untuk melaksanakan dan mengamalkan sesuatu yang disertai atau ditaati dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Pegawai negeri abdi negara, dan abdi masyarakat wajib setia dan taat pada Pancasila itu, sebagai falsafah dan ideologi negara, kepada UUD 1945, kepada negara dan kepada pemerintah. Pada umumnya kesetiaan dan ketaatan timbul dari pengetahuan dan pemahaman yang mendalam, oleh sebab itu setiap pegawai negeri sipil wajib mempelajari dan memahami secara mendalam tentaang Pancasila, UUD 1945, Falsafah Negara, dan Politik Pemerintah.

Menurut pasal 5 Undang Undang Nomor 43 Tahun 1999 setiap pegawai negeri wajib mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepadanya dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab. Pegawai negeri sipil adalah pelaksana peraturan perundang-undangan yang berlaku dan wajib membeikan contoh yang baik dalam mentaati dan melaksanakan segala peraturan.

Masih banyak diantara karyawan kantor yang bersilat kurang sopan, dan tidak ramah kepada tamu-tamu kantor. Ada juga kebiasaan di rumah yang kasar dibawa ke kantor, ada karena kurang pergaulan sesamanya, dan rasa rendah diri, dan lain sebagainya. Kesopanan merupakan sifat yang penting sekali dalam pergaulan.

Sumber gambar: tempo.co
Terutama kegembiraan, kejujurann dalam bekerja perlu mendapat perhatian. Kerapian, kebersihan, dan kesederhanaan dalam berpakaian sangat penting dalam memberikan kesan yang menarik. Cara berhias, warna pakaian, dan bahan-bahan yang akan dipakai hendaklah sesuai dengan keadaan. Hal ini berlaku bagi wanita dan pria.

Selanjutnya beberapa sikap yang harus dimiliki oleh seorang karyawan yaitu:
  1. Jika atasan minta keterangan tentang apa saja usahakan menjawabnya cepat dan tepat. Dalam hal ini diperlukan keterampilan untuk mengingat sesuatu dengan tepat. 
  2. Jangan memberi keterangan yang belum jelas dan tidak pasti ini sangat berbahaya sekali. Berilah keterangan dan tepat dan yakinlah hal itu tidak salah.
  3. Memberi keterangan pada orang lain, yang bukan wewenang jangan dilakukan. 
  4. Jauhi pengaruh kelompok dalam kantor, yaitu adanyakelompok yang mengarah pada suatu perbuatan anti atau pro pada pimpinan. Usahakanlah anda tidak terpengaruh kepada kelompok yang demikian, lebih baik bekerja dengan apa adanya dan memperbaiki tingkah laku yang disenangi oleh semua orang termasuk atasan dan kerabat kerja. 
  5. Sebagai karyawan kita harus menghormati atasan dan patuh kepada peintah-perintah yang telah digariskan. Biasanya disetiap kantor selalu ada perbedaan kedudukan antara karyawan. Perbedaan kedudukan ini adalah suatu kenyataan atas dasar-dasar perbedaan-perbedaan dalam kekuasaan, tanggung jawab, dan tingkat penilaian kerja. Di dalam masyarakatpun ada perbedaan sosial. Sebagai seorang karyawan dalam kantor manapun juga, besar atau kecil kita harapkan akan menunjukkan sikap yang hormat kepada pimpinan. 
  6. Sebagai karyawan usahakan tidak banyak menuntut, bekerjalah tanpa pamrih. Di dalam bekerja usahakan agar pimpinan puas dengan hasil kerja kita.
Penulis:
Dr. Hery Sawiji, M.Pd. (Dosen S-1 dan S-2 Pendidikan Ekonomi FKIP UNS).

Indikator Motivasi Belajar

By With 1 comment:
Menurut Uno (2008), indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Adanya Hasrat dan Keinginan Berhasil
Hasrat dan keinginan untuk berhasil dalam belajar dan dalam kehidupan sehari-hari pada umumnya disebut motif berprestasi, yaitu motif untuk berhasil dalam melakukan suatu tugas dan pekerjaan atau motif untuk memperolah kesempurnaan. Motif semacam ini merupakan unsur kepribadian dan prilaku manusia, sesuatu yang berasal dari ‘’dalam’’ diri manusia yang bersangkutan.

Motif berprestasi adalah motif yang dapat dipelajari, sehingga motif itu dapat diperbaiki dan dikembangkan melalui proses belajar. Seseorang yang mempunyai motif berprestasi tinggi cenderung untuk berusaha menyelesaikan tugasnya secara tuntas, tanpa menunda-nunda pekerjaanya. Penyelesaian tugas semacam ini bukanlah karena dorongan dari luar diri, melainkan upaya pribadi.

2. Adanya Dorongan dan Kebutuhan Dalam Belajar
Penyelesaian suatu tugas tidak selamanya dilatar belakangi oleh motif berprestasi atau keinginan untuk berhasil, kadang kala seorang individu menyelesaikan suatu pekerjaan sebaik orang yang memiliki motif berprestasi tinggi, justru karena dorongan menghindari kegagalan yang bersumber pada ketakutan akan kegagalan itu.

Seorang anak didik mungkin tampak bekerja dengan tekun karena kalau tidak dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik maka dia akan mendapat malu dari dosennya, atau di olok-olok temannya, atau bahkan dihukum oleh orang tua. Dari keterangan diatas tampak bahwa ‘’keberhasilan’’ anak didik tersebut disebabkan oleh dorongan atau rangsangan dari luar dirinya.

3. Adanya Harapan dan Cita-cita Masa Depan
Harapan didasari pada keyakinan bahwa orang dipengaruhi oleh perasaan mereka tantang gambaran hasil tindakan mereka contohnya orang yang menginginkan kenaikan pangkat akan menunjukkan kinerja yang baik kalau mereka menganggap kinerja yang tinggi diakui dan dihargai dengan kenaikan pangkat.
Sumber Gambar: madania.net

4. Adanya Penghargaan Dalam Belajar
Pernyataan verbal atau penghargaan dalam bentuk lainnya terhadap prilaku yang baik atau hasil belajar anak didik yang baik merupakan cara paling mudah dan efektif untuk meningkatkan motif belajar anak didik kepada hasil belajar yang lebih baik. Pernyataan seperti ‘’bagus’’, ‘’hebat’’ dan lain-lain disamping akan menyenangkan siswa, pernyataan verbal seperti itu juga mengandung makna interaksi dan pengalaman pribadi yang langsung antara siswa dan guru, dan penyampaiannya konkret, sehingga merupakan suatu persetujuan pengakuan sosial, apalagi kalau penghargaan verbal itu diberikan didepan orang banyak.

5. Adanya Kegiatan yang Menarik Dalam Belajar
Baik simulasi maupun permainan merupakan salah satu proses yang sangat menarik bagi siswa. Suasana yang menarik menyebabkan proses belajar menjadi bermakna. Sesuatu yang bermakna akan selalu diingat, dipahami, dan dihargai. Seperti kegiatan belajar seperti diskusi, brainstorming, pengabdian masyarakat dan sebagainya.

6. Adanya Lingkungan Belajar yang Kondusif
Pada umumnya motif dasar yang bersifat pribadi muncul dalam tindakan individu setelah dibentuk oleh lingkungan. Oleh karena itu motif individu untuk melakukan sesuatu misalnya untuk belajar dengan baik, dapat dikembangkan, diperbaiki, atau diubah melalui belajar dan latihan, dengan perkataan lain melalui pengaruh lingkungan Lingkungan belajar yang kondusif salah satu faktor pendorong belajar anak didik, dengan demikian anak didik mampu memperoleh bantuan yang tepat dalam mengatasi kesulitan atau masalah dalam belajar.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat dua aspek yang menjadi indikator pendorong motivasi belajar siswa, yaitu (1) dorongan internal: adanya hasrat dan keinginan berhasil, adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, adanya harapan dan cita-cita masa depan, faktor fisiologis  dan (2) dorongan eksternal: adanya kegiatan yang menarik dalam belajar, adanya lingkungan belajar yang kondusif.

Sumber Bacaan:
Uno, Hamzah, B. 2008. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Friday, October 3, 2014

Konsep Ekonomi dalam Islam

By With No comments:
Ekonomi dalam Islam adalah ilmu yang mempelajari segala perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tujuan memperoleh falah (kedamaian & kesejahteraan dunia-akhirat).

Perilaku manusia disini berkaitan dengan landasan-landasan syariat sebagai rujukan berprilaku dan kecenderungan-kecenderungan dari fitrah manusia. Dalam ekonomi Islam, kedua hal tersebut berinteraksi dengan porsinya masing-masing hingga terbentuklah sebuah mekanisme ekonomi yang khas dengan dasar-dasar nilai Ilahiyah.

Ekonomi merupakan suatu studi tentang bagaimana individu/masyarakat mengelola rumah tangganya. Salah satu kegiatan pengelolaan rumah tangga tersebut adalah terkait dengan bagaimana menjamin berputarnya harta diantara manusia, sehingga manusia dapat memaksimalkan fungsi hidupnya sebagai hamba Allah untuk mencapai falah di dunia dan akherat (hereafter).

Kebutuhan, Keinginan dan Faktor Produksi
“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan bathin.”
(Lukman: 20)
“Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan.”
(An Nahl: 5)
“Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan…”
(An Nahl: 11)
“Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan kecukupan.”
(An Najm: 48)
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan…”
(An Nisaa: 5)
“Dan sesungguhnya kecintaan kepada kebaikan (harta) manusia itu amat sangat”.
(Al Aadiyaat: 8)
Hakikat Aktifitas Ekonomi dalam Islam

Sumber:
Departemen Perbankan Syariah - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Indoensia.