Friday, April 26, 2013

Implementasi Pendidikan Kewirausahaan di SMK Negeri 3 Sukoharjo

By With No comments:
Di SMK Negeri 3 Sukoharjo, terdapat beberapa Kompetensi Keahlian yang bisa dipilih siswa disesuai dengan kemampuannya, Kompetensi Keahlian tersebut diantaranya: Kompetensi Keahlian Akuntansi, Pemasaran, Teknik Kendaraan Ringan (Otomotif), Akomodasi Perhotelan, dan Tata Boga.

Kelima Kompetensi Keahlian tersebut telah dibuka di SMK Negeri 3 Sukoharjo sejak 5 (lima) tahun lalu, SMK Negeri 3 Sukoharjo ini merupakan Sekolah Menengah Kejuruan yang masih merintis dan bertekad untuk turut serta dalam usaha memajukan pendidikan di Indonesia, khususnya di Sukoharjo sendiri.

Adapun mata pelajaran Pendidikan Kewirausahaan yang diterapkan di sekolah tersebut. Untuk pengampu mata pelajaran Pendidikan Kewirausahaan di kerjakan seluruhnya oleh guru-guru dari Kompetensi Keahlian Pemasaran.

Karena guru yang ditunjuk untuk mengajar mata pelajaran ini haruslah guru yang sudah mengerti wirausaha dan mereka juga harus sudah mempunyai usaha atau bisa disebut juga mereka adalah seorang wirausaha.

Sehingga diharapkan dengan adanya guru yang kompeten dan sudah mengaplikasi ilmu kewirausahaan yang meraka miliki dengan mendirikan usaha yang dikelola sendiri, diharapkan nantinya peserta didik bisa belajar dengan orang yang benar-benar ahli dibidangnya.

Selain itu, pertimbangan tersebut dilakukan karena untuk guru yang sudah memiliki usaha sendiri diharapkan bisa memberikan contoh-contoh konkret kepada siswa tentang bagaimana konsep dan prosedur kewirausahaan itu serta bagaimana mengiplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pada tahap awal pendidikan kewirausahaan ini disampaikan mengenai konsepnya seperti apa, biasanya konsep kewirausahaan itu diajarkan oleh guru pada saat kelas X (sepuluh). Dimana siswa masih dalam tahap pengenalan, pada tahap ini guru menanamkan sikap-sikap kewirausahaan kepada peserta didik.

Agar nantinya mereka memiliki sikap-sikap wirausaha, seperti : mandiri, jujur, kerja keras, kreatif, inovatif, berani mengambil resiko, mampu membaca peluang dan masih banyak lagi.

Setelah berlanjut ke kelas XI (sebelas) mereka diajarkan bagaimana membuat proposal usaha atau bisa juga disebut dengan bisnis plan (rencana usaha) yang nantinya diharapkan dari rencana usaha yang dibuat oleh peserta didik nantinya rencana itu bisa dijadikan pedoman dan direalisasikan oleh masing-masing peserta didik.

Kemudian di kelas XII (dua belas) mereka diterjunkan ke lapangan untuk melakukan praktek kewirausahaan dengan cara peserta didik diberikan suatu produk yang kemudian nantinya mereka ditugasnya untuk menjual produk tersebut.

Adapun praktik kewirausahaan untuk masing-masing Kompetensi Keahlian, akan dijelaskan satu per satu sebagai berikut :

1. Kompetensi Keahlian Akuntansi
Pada kompetensi keahlian akuntansi pedidikan kewirausahaanya adalah berupa penanaman nilai-nilai dan karakter bagaimana untuk menjadi seorang wirausaha. Dari penuturan guru kewirausahaan di Kompetensi Keahlian Akuntansi, mengatakan bahwa pada Kompetensi Keahlian Akuntansi untuk aplikasi pendidikan kewirausahaan hanya sampai pada pembuatan proposal usaha.

Kompetensi Keahlian Akuntansi juga mempunyai unit produksi yang dinamakan BANK MAKIN JAYA, akan tetapi menurut penuturan pengampu mata pelajaran Pendidikan Kewirausahaan di Kompetensi Keahlian Akuntansi. BANK MAKIN JAYA tersebut tidak bisa dijadikan sebagai tempat praktek wirausaha. Sehingga untuk pendidikan kewirausahaanya diwujudkan dengan berlatih membuat bisnis plan dan penyampaian teori-teori bagaimana menjadi seorang wirausaha, strateginya seperti apa, serta sikap yang harus dimiliki apa saja dan masih banyak lagi.

2. Kompetensi Keahlian Pemasaran
Lain halnya dengan Kompetensi Keahlian Pemasaran, mereka mempunyai unit produksi yang bernama SMAKTA MART. Unit produksi itu dijadikan sebagai wadaha bagi siswa untuk belajar kewirausahaan secara konkretnya. Mereka belajar dari mulai memilih produk, membaca selera konsumen, sampai dengan menganalisis rugi atau laba.

Siswa Kompetensi Keahlian Pemasaran dilibatkan langsung dalam pengelolaan toko tersebut. Pernah suatu ketika siswa dari Kompetensi Keahlian Pemasaran bekerja sama dengan Kompetensi Keahlian Tata Boga untuk menerapkan pembelajaran Pendidikan Kewirausaan yang mereka pelajari, jadi pada saat itu Unit Produksi Tata Boga membuat berbagai macam kue kering yang dikemas sedemikian rupa.

Kemudian siwa dari Kompetensi Keahlian Pemasaran yang memasarkannya ke lingkungan masyarakat sekitar sekolahan untuk diperjualbelikan, dan hasilnya sangat memuaskan, karena pada saat itu mommentnya juga sangat tepat karena mendekati hari raya Iedul Fitri.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru pendidikan kewirausaan hal itu termasuk dalam praktik/implementasi pendidikan kewirausahaan di SMK Negeri 3 Sukoharjo, khususnya Kompetensi Keahlian Pemasaran dan Tata Boga.

3. Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan
Berbeda pula dengan yang diterapkan di Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan, untuk implementasi pendidikan kewirausahaannya mereka telah membuka usaha jasa servis panggilan.

Jadi ketika ada teman, guru  masyarakat sekitar, atau bisa juga pihak-pihak lain yang berkepentingan yang membutuhkan bantuan untuk memperbaiki kendaannya bisa menggunakan jasa servis panggilan yang mereka terapkan.

4. Kompetensi Keahlian Akomodasi Perhotelan
Pada Kompetensi Keahlian Akomodasi Perhotelan, implementasi Pendidikan Kewirausahaannya tidak jauh berbeda dengan Kompetensi Keahlian lainnya. Mereka membuka usaha jasa yaitu usaha laundry. Untuk pangsa pasarnya adalah guru-guru di SMKN 3 Sukoharjo sendiri, siswa, dan masyarakat sekitar.

Usaha laundry ini cukup baik perkembangannya dari waktu ke waktu, dan harganyapun cukup bersahabat hanya cukup mengeluarkan uang sebesar Rp. 2.500, 00 (dua ribu lima ratus) per kilonya. Sayangnya untuk mengeringkan pakaian mereka masih manual dengan cahaya matahari.

Untuk itu sekolah masih mengusahaan mengalokasikan bantuan pembelajaran Kewirausahaan yang diberikan pemerintah dengan sebaik mungkin. Sehingga nantinya bantuan itu bisa merata ke semua Kompetensi Keahlian. Baik itu Kompetensi Keahlian Akuntansi, Pemasaran, Teknik Kendaraan Ringan, Akomodasi Perhotelan maupun Tata Boga.

5. Kompetensi Keahlian Tata Boga
Kompetensi Keahlian Tata Boga dalam penerapan Pendidikan Kewirausahaannya mereka mendirikan sebuat warung atau kalau mereka menyebutnya adalah Kantin Kejujuran. Setiap 2 kali dalam seminggu mereka melakukan praktik memasak, mulai dari kue (basah maupun kering), camilan-camilan, gorengan, makanan pembuka, inti dan penutup (disert).

Dari makanan hasil praktik mereka jual di Kantin Kejujuran miliknya. Harganyapun juga sesuai dengan kantong pelajar. Antara Rp 500,00 (lima ratus rupiah) sampai dengan Rp 1000,00 (seribu rupiah).

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak guru Pendidikan Kewirausahaan di Tata Boga, ia mengatakan bahwa untuk praktik Kewirausahaan di Kompetensi Keahlian Tata Boga, biasanya mereka bisa lebih kreatif di bandingkan dengan Kompetensi Keahlian lainnya, karena mereka bisa membuat makanan dengan dimodifikasi, sehingga muncul karya-karya yang inovatif dan kreatif.

Uraian di atas merupakan implementasi pendidikan kewirausahaan yang dilaksanakan di SMK Negeri 3 Sukoharjo. Dimana mereka tidak hanya sebatas memberikan teori mengenai Pendidikan Kewirausahaan, akan tetapi mereka menerjunkan peserta didik untuk langsung ke lapangan. Karena menurut mereka apabila peserta didik itu dihadapkan pada kegiatan yang riil maka mereka akan lebih mudah mempelajarinya dan mengamalkan pada kehidupan sehari-hari.

Sunday, April 21, 2013

Cara Menangani Kenaikan Harga Barang Kebutuhan Pokok Menjelang Idul Fitri

By With 1 comment:
Beberapa cara yang dapat ditempuh untuk menangani kenaikan harga barang kebutuhan pokok khususnya saat menjelang Ramadhan dan Idul Fitri adalah sebagai berikut.

1. Menyeimbangkan Produksi dengan Kebutuhan
Bulan Ramadhan kemudian dilanjutkan Hari Raya Idul Fitri, masyarakat mulai bersiap-siap menyambutnya dengan mulai mencari segala kebutuhan pokok untuk persediaan. Hal ini menyebabkan pola konsumsi dalam masyarakat mengalami perubahan.

Semula pola konsumsi masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya hanya untuk sesaat itu saja, kemudian berubah menjadi pola konsumsi untuk pemenuhan kebutuhan jangka waktu yang lama.

Upaya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan jangka waktu yang lama ini dengan meningkatkan persediaan barang  keperluan sebanyak-banyaknya untuk menjamin kebutuhan  yang akan datang  dengan cara saling mendahului di antara masyarakat untuk mencari dan membeli barang kebutuhan terutama kebutuhan pokok.

Hal ini menyebabkan konsumsi dalam masyarakat menjadi meningkat pesat. Meningkatnya konsumsi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dan persediaan untuk jangka waktu yang lama tidak seiring dengan ketersediaan barang-barang yang dibutuhkan masyarakat. Barang-barang dibutuhkan masyarakat dapat diperoleh dipasar-pasar dengan proses jual-beli.

Meningkatnya konsumsi masyarakat mengakibatkan barang kebutuhan menjadi langka, cepat habis bahkan lenyap. Kelangkaan barang kebutuhan di pasar-pasar mengakibatkan masyarakat panik. Kepanikan masyarakat dalam memperoleh barang kebutuhan mempengaruhi proses jual-beli di pasar-pasar.

Masyarakat berusaha secepatnya memperoleh barang kebutuhannya sementara pedagang di pasar-pasar berusaha menyediakan barang kebutuhan masyarakat secara lengkap dan sebanyak-banyaknya. Untuk menyediakan Barang-barang kebutuhan masyarakat untuk dijual, pedagang-pedagang berusaha memperoleh ketempat-tempat produksi barang kebutuhan masyarakat. Produksi barang kebutuhan masyarakat terbatas cenderung jumlah produksi barang tetap. Memaksa pedagang memperoleh barang kebutuhan dari sesama pedagang yang masih memiliki persediaan berapapun tinggi harga barang kebutuhan masyarakat.

Akibatnya harga barang kebutuhan masyarakat di pasar-pasar menjadi bergejolak atau harga-harga naik.  Dapat kita lihat bahwa adanya Peningkatan yang pesat dan cepat dalam masyarakat untuk memperoleh barang kebutuhannya, adanya Kelangkaan penyediaan barang-barang kebutuhan masyarakat di pasar-pasar.

Peristiwa kenaikan harga-harga barang sudah sering terjadi dan berulang-ulang setiap tahunnya. Untuk mengatasi peristiwa kenaikan harga-harga  diperlukan Peranan penting sektor produksi barang kebutuhan masyarakat, kepentingan sektor produksi adalah meningkatkan jumlah produksi barang-barang kebutuhan masyarakat pada saat terjadinya peningkatan konsumsi masyarakat.

Peranan sektor produksi  oleh perusahaan swasta maupun Perusahaan Negara harus lebih tanggap terhadap peristiwa kenaikan harga-harga karena peristiwa kenaikan harga-harga terjadi berulang-ulang setiap tahunnya. Namun masih diperlukan juga peranan pemerintah dalam hal memonitor jumlah konsumsi masyarakat dan jumlah barang kebutuhan masyarakat yang di hasilkan oleh sektor produksi, menerbitkan kebijakan impor bila masih kurang dalam penyediaan barang kebutuhan masyarakat dan mengawasi jalur distribusi barang supaya lancar sehingga Kenaikan harga-harga barang kebutuhan masyarakat dapat terkendali.

2. Operasi Pasar
Menjelang puasa, harga kebutuhan pokok mulai mengalami kenaikan. Guna menekan kenaikan harga kebutuhan pangan, pemerintah harus meningkatkan volume operasi pasar terutama di daerah-daerah rawan kenaikan harga. Operasi pasar ini perlu, untuk mencegah para spekulan menaikkan harga semaunya. Tujuannya melindungi masyarakat, supaya tidak terbebani kenaikan-kenaikan harga sembilan bahan pokok (sembako).

Operasi pasar disinyalir bisa menekan inflasi. Karena kenaikan harga kebutuhan pokok biasa diikuti inflasi. Pemerintah seharusnya mewaspadai gejolak harga pangan khususnya beras. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa setiap menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, harga-harga selalu mengalami kenaikan.

Menjelang bulan Ramadhan tahun ini pun, beberapa harga bahan pokok sepertinya akan terus mengalami kenaikan, seperti telur, ayam, dan terutama beras. Perubahan harga kebutuhan pokok khususnya beras harus segera direspon oleh pemerintah. Menjelang Ramadhan ini kebutuhan konsumtif masyarakat semakin tinggi, bila tidak ada operasi pasar maka harga dikhawatirkan akan terus melambung.

Harga bahan pokok yang mengalami kenaikan menjelang Ramadhan, menurut saya juga tidak terlepas dari pengusaha dan distributor bahan pokok yang nakal yang melakukan aksi penimbunan seperti yang saya ungkapkan di atas sebelumnya. Bukannya ingin menuduh, tetapi dari yang sudah-sudah hal tersebut telah sering terjadi di negeri yang kita cintai ini.

Peningkatan permintaan masyarakat dan keterbatasan stok dijadikan alasan bagi mereka untuk menaikkan harga. Oleh sebab itu, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan berikut jajarannya (dinas terkait) wajib mewaspadai (bukan mencurigai) aksi penimbunan stok bahan pokok tersebut. Tindakan seperti itu perlu dilakukan agar ketersediaan serta harga sembako tidak melambung sehingga bisa menimbulkan ketenangan masyarakat, khususnya yang akan menjalani puasa.

3. Pengendalian Stok
Kenaikan harga pangan di dunia ternyata mempengaruhi harga pangan di dalam negeri. Apalagi saat ini sepengetahuan saya sebagian besar bahan pangan yang ada di pasar dalam negeri diperoleh dari impor.

Karena itu, menurut saya selama indonesia masih tergantung pada pasokan pangan impor, kenaikan harga pangan dunia yang dipastikan terus terjadi setiap tahunnya akan berujung pada tambahan beban bagi masyarakat, ditambah lagi kebijakan pemerintah yang menyerahkan pengadaan bahan pangan kepada mekanisme pasar membuat harga barang kebutuhan pokok selalu mengalami kenaikan. Khususnya setiap menjelang hari besar keagamaan seperti puasa dan lebaran. 

Seharusnya kebijakan perekonomian nasional lebih berpihak pada kepentingan rakyat. Jangan semua dilepas kepada mekanisme pasar tanpa ada kendali dari pemerintah. Selain itu, pemerintah juga harus berani menindak tegas para pemain atau spekulan yang terbukti memainkan harga di pasaran. Sejauh yang saya tahu, stok beras nasional mayoritas dikendalikan oleh pihak swasta dan sisanya dipegang pemerintah melalui Perum Bulog.

Bisa kita bayangkan, dengan dominasi pihak swasta sebagai pengendali stok beras nasional, mereka bisa memainkan harga dengan leluasa sehingga sampai kapan pun Bulog tidak akan sanggup membeli gabah dari para petani kita. Ini karena harganya yang memang melewati harga pembelian pemerintah.

Pemerintah bakal mengalami kesulitan mengendalikan kestabilan harga bahan pangan maupun komoditas lainnya. Apalagi pasokan bahan pangan itu sebagian besar memang telah dipegang swasta. Kecuali ada kebijakan yang diubah mengenai harga pangan dari pemerintah yang memang seharusnya dikendalikan sendiri.

Saturday, April 20, 2013

Studi Kasus Permintaan dan Penawaran Pasar: Penyebab Kenaikan Harga Menjelang Lebaran (Idul Fitri)

By With No comments:
Kasus:
Kenaikan harga menjelang Ramadhan dan Lebaran (Idul Fitri) adalah fenomena berulang yang seolah tak terhindarkan bagi rakyat Indonesia. Sesuai hukum ekonomi, fenomena ini sebenarnya wajar, di mana ada peningkatan permintaan, maka harga pun melonjak. Pedagang pun tak mau kehilangan kesempatan untuk mengambil untung lebih besar. Tapi tak urung hal ini meresahkan masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan minim.

Analisis:
Dari kasus diatas kelompok kami menganalisis adanya Penyebab Terjadinya Kenaikan Harga Bahan Pokok Menjelang Lebaran (Idul Fitri) disebabkan karena:

1. Hukum Permintaan dan Penawaran
Salah satu hal yang menyebabkan harga barang terus merangkak naik adalah prinsip ”supply dan demand”. Seperti salah satu hukum ekonomi yang mengatakan bahwa apabila permintaan meningkat dan barang tidak ada maka akan cenderung terjadi kenaikan harga barang.

Hal ini bisa dilihat dari waktu terjadinya kenaikan harga. Kenaikan harga suatu barang sebagain besar terjadi karena faktor gagal panen. Mungkin masih segar di ingatan kita saat harga cabe melonjak drastis. Harga cabe ini naik karena terjadi gagal panen pada petani cabe akibat cuaca buruk.

Saat ini harga beras terus melonjak naik hal ini disebabkan banyak petani beras yang gagal panen. Gagal panen ini menyebabkan jumlah beras di pasar menurun sedangkan permintaan tetap atau mungkin bertambah karena menjelang puasa. Saat menjelang puasa, harga barang terus melonjak naik karena jumlah permintaan terus meningkat sedangkan jumlah barang tetap atau cenderung berkurang.

Perlu analisis dari sisi supply, mengapa supply berkurang. Saat menjelang puasa seperti ini banyak orang di daerah jawa yang melakukan ritual “kirim doa” kepada para kerabatnya yang telah meninggal. Ritual ini berupa syukuran dengan mengundang para tetangga dan kerabat ke rumah untuk berdoa bersama-sama mendoakan sanak saudara yang telah meningga dunia.

Kegiatan ini tidak hanya dilakukan oleh satu keluarga tapi oleh semua keluarga yang memilki keluarga yang sudah meninggal dunia. Hal ini menyebabkan permintaan akan kebutuhan beras meningkat. Naiknya permintaan beras tidak diikuti bertambahnya jumlah beras di pasar hal inilah yang menyebabkan harga beras terus merangkak naik.

Tentu menjadi hal yang sulit apabila kita ingin mengendalikan harga barang karena selama ini barang-barang yang melonjak naik adalah barang-barang kebutuhan rumah tangga yang jumlah penawaran di pasar berkurang karena jumlah barangnya memang berkurang karena sebab-sebab tertentu seperti yang sudah saya sebutkan di atas tadi.

Apabila kita ingin mengendalikan harga salah satu caranya adalah dengan menambah jumlah penawaran di pasar yang artinya kita menambah jumlah stok barang tersebut di pasar atau dengan menekan permintaan akan barang tersebut.  Seperti bunyi hukum permintaan dan penawaran “apabila penawaran akan suatu barang semakin bertambah namun permintaan akan barang tersebut berkurang maka harga barang akan turun” sedangkan apabila “ permintaan meningkat namun penawaran berkurang maka harga barang akan naik”. Jadi cara yang dapat dilakukaan agar harga tidak terus naik adalah berusaha agar jumlah penawaran melebihi jumlah permintaan di pasar.

2. Lemahnya Antisipasi Kenaikan Harga Saat Ramadhan
Kenaikan harga pokok saat lebaran ini polanya sudah berulang-ulang tiap tahun, apakah pemerintah tidak bisa mengantisipasi hal tersebut, strategi pemerintah tiap tahun selalu sama, yakni operasi pasar. Tahun ini, pemerintah menyediakan stok beras 500.000 ton untuk operasi pasar.

Jika stok Bulog tidak mencukupi, pemerintah pun memutuskan untuk impor, padahal kita ini adalah terkenal dengan swasembada beras. Kalau terus berulang dan tidak ada solusi, berarti pemerintah telah kalah dengan pasar serta pemerintah tidak mau serius untuk meredam kenaikan harga pokok ini.

Jangan lupa pula, melambungnya harga bahan kebutuhan pokok juga akibat buruk infrastruktur. Saluran distribusi terganggu karena banyak jalan yang berlobang dan tidak terawat serta naiknya harga BBM sehingga biaya produksi naik. Siapa yang menanggung kenaikan biaya tersebut? Tentunya konsumen yang posisi tawarnya lemah. Pemerintah sebenarnarnya sudah sabar betul.

Namun, sampai saat ini langkah konkritnya masih dipertanyakan. Pemerintah sibuk dengan hal-hal yang tidak penting, seharusnya pemerintah memiliki jurus pamungkas untuk meredam kenaikan harga di bulan Ramadhan ini sehingga melonjatnya harga dapat di seimbangkan untuk kesejahteraan rakyat kecil.

Ketika bulan Ramadhan datang, bukankah seharusnya komsumsi kebutuhan pokok berkurang. Tetapi, hal tersebut tidak terjadi pada masyarakat kita. Berdasarkan riset Nielsen, selama bulan puasa, belanja konsumen kelas bawah justru naik 30% sementara kelas menengah naik 16%. Sikap konsumen tersebut tentunya mempengaruhi harga. Konsumsi  tersebut seharusnya dapat dikendalikan.

3. Harga Melambung Akibat Ekonomi yang Buruk
Harga yang terus menerus mengalami kenaikan menjadi masalah di tatanan masyarakat, karena kenaikan harga tidak sesuai dengan pendapatan yang di hasilkan masyarakat. Hal ini di sebabkan karena perekonomian yang sangat buruk di negeri ini.

Apabila penghasilan masyarakat sesuai kenaikan harga-harga, mungkin kenaikan harga bukan menjadi masalah bagi masyarakat. Tetapi perekonomian yang buruk ini tidak mungkin mewujudkan pendapatan masyarakat sesuai. Masyrakat (rakyat miskin) adalah kelompok masyarakat yang paling merasakan kesengsaraan apabila terjadi kenaikan harga.

Kita bisa lihat seperti, petani, buruh dan kaum miskin kota yang di kebiasaannya saja sangat susah mencari kehidupan, konon lagi apabila harga-harga naik. Sedangkan negara yang kondisinya sedang dilanda utang luar negri yang sangat besar  tidak bisa berbuat apa-apa untuk konsisi ini.

Banyak faktor yang mempengaruhi hal ini, mungkin apabila kita melihat historis di Indonesia, tidak mungkin  Rakyat Indonesia kekurangan untuk sumber kehidupan seperti sembako. Namun, ini lah kenyataanya, dan kenapa ini bisa terjadi?

Pertama, Indonesia yang dulunya negara agraris telah berubah menjadi negara Industrialis, sehinggah habisnya lahan-lahan pertanian akibat lahirnya perusahaan baru yang menyebabkan lahan pertanian menjadi perkebunan.

Kedua, tidak adanya upaya pemerintah untuk meningkatkan perekonomian dengan membangun suatu perekonomian mandiri yang mementingkan kepentingan rakyat

Ketiga, adanya faktor asing dengan UU No. 25 Tahun 2007 tentang penanaman modal asing untuk mengelolah segala sumberdaya alam Indonesia seperti pertambangan, perkebuna, pertanian, dan perminyakan. Dengan ketentuan hasil Indonesia 20% dan asing 80%. Jadi tidak heran apabila Indonesia sering kekurangan beras dan minyak, yang mengakibatkan bahan-bahan pokok pun membumbung tinggi. Akibatnya secara perlahan Indonesia telah diakuisisi.

4. Peranan Pemerintah Dalam Pengendalian Ekonomi Pasar
Sudah bukan baru lagi setiap menjelang puasa dan lebaran, kebutuhan bahan pokok selalu membumbung tinggi harganya. hal ini memicu inflasi di dalam masyarakat utamanya yang berpenghasilan rendah. Ada beberapa hal yang membuat kenaikkan harga-harga bahan pokok di pasar, antara lain: 
  • Permainan di tingkat tengkulak, distributor yang melenyapkan suplai barang di pasaran 
  • Sistem permintaan dan penawaran sangat bebas, tidak ada adab/perilaku yang berpijak pada akhlak mulia yang mengutamakan masyarakat sebagai pihak yang dipenuhi kebutuhannya alias terlalu kapitalis. 
  • Pemerintah/penguasa sebagai pihak pengatur tidak berperanan penting dalam mengendalikan ekonomi rakyat, yang seharusnya berkuasa penuh dalam memberikan jaminan akan kebutuhan dasar rakyatnya. Seperti sembako sehingga harga-harga terlalu bebas diserahkan oleh pasar sebagai pengendali utama, kalaupun ada operasi pasar sifatnya sebagai shock therapy saja.

Monday, April 15, 2013

Model Pembelajaran Group Investigation (GI)

By With 4 comments:
Salah satu potensi penghalang pada pembelajaran kooperatif adalah munculnya “pengendara  bebas” dalam  kelompok (Slavin, 2005). Pembelajaran kooperatif pada umumnya  memberikan tugas  kepada  kelompok  siswa untuk dikerjakan secara bersama-sama oleh semua anggota kelompok. Namun seringkali ditemui  tugas kelompok hanya dikerjakan oleh anggota  tertentu, sedangkan anggota lain tidak terlibat.

Hasil pekerjaan salah satu anggota kelompok kemudian dianggap  sebagai  hasil  kerja  kelompok.  Hal ini  sangat  menguntungkan  bagi anggota  kelompok  yang  tidak  terlibat. Ia mendapatkan  keuntungan dalam kelompok padahal ia tidak  bekerja dan berkontribusi  sama sekali dalam kelompoknya. Anggota kelompok yang tidak terlibat dalam kerja kelompok tetapi mendapat keuntungan dari kelompoknya inilah yang disebut sebagai pengendara bebas.

Pengendara bebas dalam pembelajaran kooperatif dapat dihindari dengan menerapkan pembagian tugas dan tanggung jawab berbeda kepada setiap anggota kelompok. Pembagian tugas yang berbeda  membuat  setiap  anggota  kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Setiap anggota kelompok harus  bekerja  dan  berkontribusi  bagi  kelompok  agar  mencapai  hasil  optimal. Keberhasilan kelompok sangat ditentukan oleh usaha semua anggota kelompok. Jika ada salah satu anggota  kelompok tidak  bekerja  dengan  baik  maka  akan berdampak pada hasil kelompok  secara keseluruhan.

Jika ada salah  satu anggota kelompok  tidak  terlibat,  atau  dengan  kata  lain  ia  menjadi  pengendara bebas,  ia tidak mengerjakan bagian tugas yang diberikan kepadanya, maka hasil kelompok menjadi  tidak maksimal karena  ada  bagian  yang  hilang  yaitu bagian yang  tidak dikerjakan  oleh  anggota kelompok  itu. Hal itu  dapat  merugikan semua anggota kelompok termasuk anggota kelompok yang tidak terlibat.

Jadi, pembagian tugas dapat  mendorong  semua  anggota  kelompok  terlibat  dalam  kerja kelompok agar tercapai  hasil  terbaik  bagi  kelompok yang  menguntungkan  semua  anggota kelompok. Berdasarkan  pemikiran  itu,  dikembangkanlah  model-model kooperatif  dengan  spesialisasi  tugas,  diantaranya  metode  Jigsaw, Group Investigation, atau Co-op Co-op (Slavin, 2005).

Penelitian  paling  luas  dan  sukses  dari  metode-metode  spesialisasi  tugas adalah  Group  Investigation.  Model  pembelajaran  kooperatif  ini  berasal  dari jamannya  Dewey,  kemudian  diperbaharui  dan  diteliti  pada  beberapa  tahun terakhir oleh Shlomo dan Yael Sharan, serta Rachel-Lazarowitz di Israel (Slavin, 2005).

Dasar pemikiran tentang  pembelajaran  Group  Investigation  dikemukakan oleh Dewey  (Slavin, 2005)  yang berpandangan bahwa  kooperasi di  dalam kelas merupakan  sebuah  prasyarat  untuk  bisa  menghadapi  masalah  kehidupan  yang kompleks  dalam  masyarakat  demokrasi. 

Menurut Dewey (Arends, 2007), kelas seharusnya mencerminkan masyarakat yang lebih luas dan menjadi laboratorium bagi pembelajaran kehidupan nyata. Dewey (Slavin, 2005) juga mengungkapkan bahwa kelas adalah sebuah  tempat kreatifitas kooperatif bagi guru dan siswa untuk membangun proses pembelajaran, didasarkan pada perencanaan mutual dari berbagai pengalaman, kapasitas, dan kebutuhan mereka masing-masing. 

Menurut Sharan and Sharan (dalam Slavin 2005: 24)
Group Investigation merupakan perencanan pengaturan kelas yang umum di mana para siswa bekerja sama dalam kelompok kecil menggunakan pertanyaan kooperatif, diskusi kelompok, serta perencanaan dan proyek kooperatif”.
Dalam model ini siswa dibebaskan untuk membentuk kelompoknya sendiri yang terdiri dari dua sampai enam orang anggota, yang kemudian memilih topik-topik yang akan dipelajari seta membahasanya sampai akhirnya menyimpulkan hasil pembahasan tersebut.

Group  Investigation  diimplementasikan  melalui  tahapan-tahapan  tertentu. Tahapan-tahapan  Group  Investigation  dikembangkan  oleh  beberapa  ahli diantaranya oleh Robert Slavin, Shlomo dan Yael Sharan, serta Bruce Joyce dan koleganya. Menurut Slavin (2005: 218) dalam Group Investigation para murid bekerja melalui enam tahap yaitu:
  1. Mengidentifikasikan topik dan mengatur murid ke dalam kelompok 
  2. Merencanakan tugas yang akan dipelajari 
  3. Melaksanakan investigasi 
  4. Menyiapkan laporan akhir 
  5. Mempresentasikan laporan akhir 
  6. Evaluasi
Slavin (2005: 215) mengatakan bahwa:
Group investigation tidak dapat diimplementasikan dalam lingkungan pendidikan yang tidak mendukung dialog interpersonal atau yang tidak memperhatikan dimensi rasa sosial dari pembelajaran di dalam kelas”.
Referensi:
Arends, R. I. 2007. Learning to Teach. New York: McGraw Hill.
Slavin, R E. 2005. Cooperative Learning Teori, Riset, dan Praktik. Terjemahan oleh Nurulita. 2010. Bandung: Penerbit Nusa Media.

Sunday, April 14, 2013

Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT)

By With 1 comment:
Model Numbered Head Together (NHT) dikembangkan oleh Spencer Kagan (1993) dengan melibatkan para siswa dalam me-review bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut (Nurhadi, dkk, 2004).

Sebagai pengganti pertanyaan langsung kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur 4 langkah sebagai berikut:

Langkah 1 - Penomoran (Numbering)
Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 3 hingga 5 orang dan member mereka nomor sehingga tiap siswa dalam tim tersebut memiliki nomor berbeda.

Langkah 2 - Pengajuan Pertanyaan (Questioning)
Guru mengajukan suatu pertanyaan kepada para siswa. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik hingga yang bersifat umum.

Langkah 3 - Berpikir Bersama (Head Together)
Para siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban tersebut.

Langkah 4 - Pemberian Jawaban (Answering)
Guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.

NHT mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagaimana dikemukakan oleh Suwarno (2010) bahwa pembelajaran model Numbered Head Together (NHT) memiliki kelebihan dan kelemahan sebagai berikut:

Kelebihan
  • Terjadinya interaksi antara siswa melalui diskusi/siswa secara bersama dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. 
  • Siswa pandai maupun siswa lemah sama-sama memperoleh manfaat melalui aktifitas belajar kooperatif.
  • Dengan bekerja secara kooperatif ini, kemungkinan konstruksi pengetahuan akan manjadi lebih besar/kemungkinan untuk siswa dapat sampai pada kesimpulan yang diharapkan. 
  • Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya, berdiskusi, dan mengembangkan bakat kepemimpinan.
Kelemahan
  • Siswa yang pandai akan cenderung mendominasi sehingga dapat menimbulkan sikap minder dan pasif dari siswa yang lemah. 
  • Proses diskusi dapat berjalan lancar jika ada siswa yang sekedar menyalin pekerjaan siswa yang pandai tanpa memiliki pemahaman yang memadai. 
  • Pengelompokkan siswa memerlukan pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda serta membutuhkan waktu khusus.
Sumber:
Nurhadi, Yasin, B. & Senduk, A.G. 2004. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/TCL) dan Penerapannya dalam KBK. Malang: UM PRESS.

Suwarno. 2010. Pembelajaran Kooperatif Jenis Numbered Heads Together. (http://suwarnostatistik.wordpress.com)

Thursday, April 11, 2013

Elastisitas Harga Permintaan dan Penentu-penentunya

By With No comments:
Elastisitas harga permintaan: mengukur seberapa besar perubahan jumlah permintaan konsumen seiring perubahan harga. Jumlah permintaan berubah banyak karena harga berubah: Elastis. Jumlah permintaan mengalami sedikit perubahan ketika harga berubah: Inelastis.

Apa Yang Menentukan Elastisitas Harga Permintaan?

1. Tersedianya Barang Subtitusi
Mentega dan margarin mudah diganti. Jika harga mentega naik sedikit, sedangkan harga margarin tetap, mengakibatkan penjualan mentega turun.Telur tidak punya pengganti (subtitusi), maka permintaan terhadap telur tidak seelastis permintaan terhadap mentega.

2. Kebutuhan vs Kemewahan
Ketika harga BBM meningkat, orang tidak akan secara dramatis berjalan kaki untuk sampai tujuan. Sebaliknya, ketika ketika harga mobil meningkat, maka jumlah permintaan mobil akan turun karena orang memilih membeli BBM sebagai kebutuhan sedangkan mobil sebagai kemewahan.

3. Definisi Pasar
Makanan, permintaannya inelastis karena tidak ada pengganti (subtitusi) makanan. Biskuit, permintaannya lebih elastis karena mudah diganti dengan makanan ringan yang lain. Biskuit rasa jeruk, permintaannya sangat elastis karena rasa lain tidak kalah enaknya dengan rasa jeruk. Jadi, pasar yang terdefinisi sempit (biskuit rasa jeruk) cenderung memiliki permintaan elastis karena mudah menemukan subtitusi daripada pasar yang terdefinisi luas (makanan).

4. Rentang Waktu
BBM naik, jumlah permintaan bensin akan merosot pada beberapa bulan pertama. Kemudian orang-orang akan menghemat dengan dengan cara membeli kendaraan irit bahan bakar, menggunakan transportasi umum, atau jalan kaki jika jarak tempuh cukup dekat sehingga permintaan terhadap bensin akan terus menurun. Jadi, barang-barang (BBM) dapat bersifat elastis selama kurun waktu yang panjang.

Bagi masyarakat yang berpendapatan rendah sifat permintaan bahanmakanan dalam jangka pendek masih inelastis, tetapi dalam jangka panjangakan bersifat elastis, di mana masyarakat akan mengganti konsumsinya denganbahan makanan lain yang harganya lebih murah.

Sumber: Mankiw, Gregory. 2006. Pengantar Ekonomi Mikro: Edisi 3. Jakarta: Salemba Empat. 

Tuesday, April 9, 2013

Kesejahteraan tanpa Pajak

By With 3 comments:
Untuk melihat bagaimana pajak memngaruhi kesejahteraan kita mulai dengan membahas kesejahteraan sebelum pemerintah memberlakukan pajak. Figur 1 memperlihatkan diagram penawaran dan permintaan dan menandai daerah-daerah utama dengan huruf A hingga E.

Tanpa pajak, harga dan jumlah ditemukan pada irisan kurva penawaran dan permintaan. Harga terebut adalah P1, dan jumlah penjualan adalah Q1. Karena kurva permintaan mencerminkan kerelaan pembeli untuk membayar, surplus konsumen merupakan luas antara kurva permintaan dan harga, A+B+C. 

Demikian pula, karena kurva penawaran mencerminkan biaya produksi bagi penjual, surplus produsen merupakan luas antarkurva penawaran dan harga, D+E+F. Pada kasus ini, karena tidak ada pajak, pendapatan pemerintah dari pajak sama denga nol. 

Surplus total, yaitu penjumlahan surplus konsumen dan produsen sama dengan luas A+B+C+D+E+F. Dengan kata lain, surplus total merupakan luas antara kurva penawaran dan permintaan hingga jumlah keseimbangan. 

Bagaimana Pajak Memengaruhi Kesejahteraan 
Pajak pada sebuah barang mengurangi surplus konsumen (luas B+C) dan surplus produsen (luas D+E). Karena penurunan surplus produsen dan konsumen lebih besar dari pendapatan pemerintah dari pajak (luas B+D), kita katakan bahwa pajak menimbulkan kerugian beban baku (luas C+E).



Sumber: Mankiw, Gregory. 2006. Pengantar Ekonomi Mikro: Edisi 3. Jakarta: Salemba Empat.

Bagaimana Pajak Memengaruhi Para Pelaku Pasar

By With No comments:
Kita gunakan perangkat ilmu ekonomi kesejahteraan untuk mengukur keuntungan dan kerugian dari pajak pada suatu barang. Untuk melakukannya, kita harus memperhitungkan bagaimana pajak memengaruhi pembeli, penjual, dan pemerintah.

Keuntungan yang diperoleh pembeli dalam sebuah pasar diukur dengan surplus konsumen, yaitu harga yang rela dibayar oleh pembeli atas sebuah barang dikurangi harga yang sebenarnya mereka bayarkan untuk barang tersebut.

Keuntungan yang diperoleh penjual pada sebuah pasar diukur dengan surplus produsen, yaitu harga yang diterima penjual atas suatu barang dikurangi biaya produksi.

Bagaimana dengan kelompok ketiga yang terlibat, yaitu pemerintah? Bila T merupakan tarif pajak dan Q merupakan jumlah barang yang terjual, maka pemerintah memperoleh pendapatan dari pajak total sebesar TxQ.

Pemerintah dapat menggunakan pendapatan pajak ini untuk memberikan pelayanan-pelayanan bagi masyarakat, misalnya pembangunan jalan, jasa kepolisian, dan pendidikan publik, atau untuk menolong masyarakat yang membutuhkan.

Oleh sebab itu, untuk menganalisis bagaimana pajak memengaruhi keadaan ekonomi, kita menggunakan pendapatan pajak untuk mengukur keuntungan pemerintah dari pajak. Namun, ingat bahwa keuntungan sebenarnya bukan bertambah kepada pemerintah, melainkan kepada orang-orang yang untuknya pendapatan pajak pemerintah tersebut dikeluarkan.
Figur 2 memperliahatkan bahwa pendapatan pemerintah dari pajak diwakili oleh persegi panjang antara kurva penawaran dan permintaan. Tinggi persegi panjang ini merupakan ukuran besarnya pajak, dalam hal ini T, dan panjangnya merupakan jumlah barang yang terjual, dalam hal ini Q. Luas persegi panjang merupakan perkalian T dan Q, yang sama dengan pendapatan pemerintah dari pajak.

Sumber: Mankiw, Gregory. 2006. Pengantar Ekonomi Mikro: Edisi 3. Jakarta: Salemba Empat.