Pin It

Permasalahan Pendidikan Kewirausahaan di Indonesia dan Bagaimana Solusinya

Posted by Budi Wahyono on Wednesday, January 16, 2013

Permasalahan pada jenjang persekolahan di Indonesia dengan di luar negeri (dalam hal ini kami menyoroti pendidikan kewirausahaan di sekolah dasar di Israel) perbedaan yang mencolok adalah sekolah dasar di Israel sudah mulai dibentuk untuk benar-benar menjadi sekolah kewirausahaan, sedangkan di Indonesia belum sampai ke tataran tersebut. Menurut kami, yang menjadi masalah pokok di Indonesia adalah karena pola pikir (mindset) sebagian besar masyarakat Indonesia adalah bahwa tujuan sekolah/kuliah adalah untuk menjadi pegawai negeri sipil bukan untuk menjadi seseorang yang mempunyai mental wirausaha.

Mindset masyarakat ini terbentuk karena mereka memandang kewirausahaan sebagai usaha dagang atau bisnis semata, padahal tidak hanya sebatas itu, wirausaha baru yang dimaksudkan di sini adalah individu yang memiliki daya kreatif dan inovatif, mencari peluang dan berani mengambl risiko serta karakter wirausaha lainnya bukan semata-mata untuk kepentingan dunia bisnis, melainkan setiap lapangan pekerjaan yang memiliki semangat, pola pikir, dan karakter enterpreneur akan membuat perbedaan, perubahan, dan pertumbuhan positif dalam profesi dan pekerjaan mereka di luar bidang dunia bisnis.

Selain itu, proses pendidikan formal yang ada di Indonesia rata-rata hanya berkisar 7 jam setiap harinya, sedangakan waktu selebihnya anak berada dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Dikarenakan mindset masyarakat yang menganggap kewirausahaan hanya dalam bisnis semata tadi menjadikan pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi karakter kewirausahaan peserta didik.

Beberapa hal yang dapat kami sarankan untuk perbaikan kualitas pendidikan dan pembelajaran kewirausahaan di Indonesia dengan melihat permasalahan di atas adalah dengan pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar, terutama pembentukan karakter termasuk karakter kewirausahaan peserta didik sesuai tujuan pendidikan dapat dicapai.

Dua hal pokok yang kami soroti dalam hal pendidikan karakter terpadu di sini adalah pertama, melalui kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media pembelajaran yang potensial untuk pembinaan karakter termasuk karakter kewirausahaan dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Berdasarkan hasil observasi di berbagai jenjang pendidikan di Indonesia, sebagian besar jenjang pendidikan belum mengoptimalkan kegiatan ekstrakurikuler ini, bahkan di salah satu SMP, kepala sekolah malah tidak begitu mendukung adanya kegiatan ekstrakurikuler ini.

Kemudian yang kedua, integrasi pendidikan kewirausahaan di setiap mata pelajaran. Memang kalau melihat hasil observasi di berbagai jenjang pendidikan di Indonesia sudah banyak sekolah yang mengintegrasikan pendidikan kewirausahaan di setiap mata pelajaran. Namun, integrasi pendidikan kewirausahaan di setiap mata pelajaran tersebut perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran yang berwawasan pendidikan kewirausahaan tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.

Baca Juga Artikel ini:

Tulis Komentar: